Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Friday, May 14, 2021

 kaboeline.com - Ketika dokter memvonis mamak harus Hemodialisis (HD) sebulan lalu,saya tanda tangan surat perjanjian berarti harus siap dengan resiko yang mungkin bisa saja terjadi. Yang utama adalah membesarkan hati, baik si sakit maupun yang merawat. Materi, tenaga, waktu yang dikorbankan tak sepenuhnya harus jadi beban. Sekarang hanya tinggal berdo'a dan berpasrah diri kepada-Nya. 


 

Saturday, May 8, 2021

Adu Cerdik Para Pemudik

kaboeline - Beberapa postingan media sosial teman - teman saya begitu lantang menyuarakan adanya rasa ketidakadilan diberlakukannya peraturan larangan mudik. Tidak boleh mudik, dilarang menyelenggarakan sholat Ied tetapi mall, pasar, pusat perbelanjaan justru ramai dengan pengunjung mencari kebutuhan lebaran. Anehnya lagi tempat wisata malah gencar melakukan promosi walau ditengah pandemi. Bisa dirasakan bagaimana kesedihan para perantau di negeri orang jika tidak bisa  mudik  untuk kedua kalinya. Saya sendiri sejak ada pandemi belum pernah sowan ke rumah kakek di kota sebelah. Rindu..?? Iya….tapi saya lebih memilih menahan diri demi kebaikan bersama, beruntung mereka juga sangat memaklumi.

Mulai tanggal 6 sampai 17 Mei 2021 jelas sekali pemerintah telah mengeluarkan aturan larangan mudik pada perayaan Idul Fitri tahun ini.  Pro dan kontra pun terjadi di tengah masyarakat seiring dengan beberapa kebijakan yang dirasa sering berubah - ubah. Pandemi covid - 19 seakan tak menjadi halangan berarti bagi mereka yang sudah merindu dengan kampung halaman. Maka tak heran jika pemudik siap beradu cerdik dengan para petugas cek point penyekatan di banyak titik. Walaupun masyarakat yang ketahuan mudik akan mendapatkan sangsi  tegas untuk langsung memutar balik kendaraannya. Bahkan sangsi kurungan maupun denda siap mengancam para pemudik yang nekat. Jika ada keperluan mendesak ketika mau melakukan perjalanan ke luar kota ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Peraturan ini dianggap merugikan beberapa pihak, contohnya sopir angkutan umum. Kalau pada moment mudik biasanya meraup untung besar, tetapi larangan mudik akibat pandemi ini jelas akan  mengurangi pendapatan. 

Meski dilakukan penyekatakan di banyak titik, pun masih ada beberapa pemudik nekad yang bisa lolos. Mulai dengan cara mencari jalan tikus yang aman, mengelabuhi petugas dengan surat perjalanan dinas atau kerja. Bahkan yang lebih ekstrem pemudik menuju Karawang Jawa Barat melakukan blokade jalan arah Bekasi dengan membunyikan klakson bersahutan (kutipan berita dari detik.com) akibat mendapat larangan petugas.

Meluasnya berita hoax di medsos menjadi corong jutaan suara masyarakat yang biasa menyambut suka cita momentum mudik. Tujuannya jelas untuk memperpanas suasana agar masyarakat tak lagi percaya pada kebijakan pemerintah menangani pendemi. Kritik tanpa solusi, bahkan tulisan – tulisan opini provokatif mereka para buzzer oposisi lebih cenderung mengarah kepada hujatan atau murni rasa kebencian yang kadang tak masuk akal.

Saya rasa mengurusi pandemi di negeri tercinta ini memang tidak mudah, karena negara kita ini sangat besar dengan penduduk lebih dari 250 juta. Kebijakan apapun dari pemerintah akan selalu “dirasa” gagal jika tidak diterapkan dengan baik oleh masyarakatnya. Walaupun memang terkadang opsi pemerintah mengambil keputusan belum tentu berhasil maksimal. Oknum tertentu yang pandai nmemanfaatkan situasi seperti mengkorupsi dana bantuan sosial, daur ulang alat test covid bekas sangat mencoreng keseriusan pemerintah mengatasi masalah ini. Bahkan narasi video promosi produk UMKM presiden Jokowi bisa “dipelesetkan” menjadi berita hot nan viral.

Berkumpul dengan keluarga besar pada hari raya Idul Fitri di kampung halaman memang telah menjadi tradisi sangat berarti bagi siapapun. Akan tetapi resiko tertular virus covid – 19 juga sangat besar. Kepatuhan pada protokol kesehatan masih dianggap tidak begitu penting sehingga banyak masyarakat cenderung abai. Menggunakan masker katanya membuat sesak nafas, menjaga jarak dirasa mengurangi keakraban, dan kebiasaan mencuci tangan masih dianggap aktifitas memberatkan. Lalu sampai kapan pandemi ini bisa berakhir jika kita saling menyalahkan?. Sudahkan berkaca pada diri sendiri?. Mendisiplinkan kegiatan keseharian dengan 3M sesuai anjuran pemerintah. Ikut melawan konten hoax supaya situasi tetap terkendali. Jika sayang keluarga JANGAN MUDIK, yang sudah terlanjur MUDIK ayolah kita sama – sama menjaga. Jangan sampai malah berubah menjadi petaka. Selamat hari Raya Idul fitri 1442 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Keterangan : Foto 1 - Berlebaran ke rumah kakeh dua tahun lalu

                     Foto 2 - reuni keluarga besar di Dongko dua tahun lalu