Thursday, April 1, 2021

Dari Titik Nol (bagian 1)

kaboeline.com - Alloh SWT memberi segalanya melampaui apa yang  kita pikirkan. Skenario-Nya begitu sempurna, hingga yang seakan tak mungkin justru dengan mudah hadir begitu saja.  Saya bukan siapa - siapa, bahkan terlahir dari keluarga yang biasa - biasa.

Menandai dua tahun pengbadian pada dunia pendidikan, saya merasakan ada banyak hal perlu dibenahi. Instrospeksi diri "metani" kekurangan diri sendiri jauh lebih penting daripada menelanjangi ketidaksempurnaan atau kebodohan orang lain. Perlu banyak waktu merenung dan belajar dari keadaan sekarang. Tanggung jawab atas semua konsekuensi yang dipilih tidak baik jika untuk dimain - mainkan. Perlu adaptasi berulang kali supaya  satu garis dengan tugas berat ini. Tak bisa satu atau hanya dua tahun saja bisa melebur satu senyawa dengan materi asing bagi hati. Saya bukan manusia taat seperti penglihatan mata orang yang menuntut kesempurnaan. Sesimple itu bahkan kalian menghakimi  orang yang mau belajar berubah, belajar menempatkan diri.

Saya sangat sadar jika di posisi sekarang bukan hanya bicara tentang rejeki atau "munggah pangkat" kata orang - orang yang pernah membully saya pada waktu itu. Terimakasih justru lontaran hinaan pahit itu seketika berubah menjadi nikmat karena saya padukan dengan gula - gula kesabaran. Jujur saya tidak menyimpan marah atau dendam, karena tepat sekali apa yang kalian katakan kalau saya memang bukan siapa - siapa. Pun tak memiliki ambisi apapun untuk mengambil tawaran menggiurkan walau kondisi kami sedang dalam kesulitan. 

Perlu bercermin pada diri sendiri menyadari sepenuhnya kalau ternyata jalan cerita Alloh rencanakan nyatanya lebih indah. Jawaban - jawaban itu baru saya sadari ketika kemudahan selalu datang pada saat yang tepat. Bercerita kepahitan masa lalu, mungkin ada banyak orang lain di luar sana lebih dramatis kisahnya. Tapi, saya perlu berbagi walau mungkin akan kaliyan anggap biasa saja , kurang seru atau bahkan memiliki makna. 

Lulus SMA, petualangan menghadapi jalan hidup sesungguhnya benar - benar dimulai. Euphoria bisa lulus dari sekolah favorit di kota Trenggalek seakan terhenti, ketika hanya bisa membayangkan teman - teman lain bisa diterima di kampus - kampus negeri luar kota, seperti Malang, Jember dan Surabaya. Saya yang dari awal sudah tidak mendapat lampu hijau untuk lanjut kuliah hanya bisa pasrah. Alasannya cukup klasik, orang tua merasa tidak sanggup menanggung beban biaya kuliah kedepannya. Oke..tak apalah, bukan berarti masa depan harus berakhir sampai disini walau tak bisa mencicipi jadi mahasiswa. Waktu itu, bisa dikatakan hampir delapan puluh persen teman - teman seangkatan melanjutkan ke perguruan tinggi. Supaya tak terlihat sebagai pengangguran baru, saya mencoba menyiasati dengan mendaftar kursus komputer yang tempatnya tak jauh dari rumah. Hitung - hitung supaya mendapatkan tambahan keterampilan mengetik surat atau mengerjakan excel. Alhamdulillah nilai ujian akhir kursus tak terlalu memalukan. Alangkah senangnya mendapat sertifikat kursus untuk kali pertama, langsung saya simpan dengan baik. Dalam benak berpikir, seharusnya saya bisa mencoba melamar  kerja di kantoran. 

Singkat cerita, beberapa bulan setelah lulus dari kursus saya pernah mencoba beberapa usaha namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Aroma kesuksesan seakan mulai tercium ketika paklik saya datang dari Jakarta menawari untuk ikut kesana selepas mudik ke kampung halaman di kota sebelah. Saya ingat tepatnya lebaran tahun 2006, itulah pertama kali juga saya tahu kalau punya saudara yang kerja di salah satu tempat wisata terkenal seantero nusantara, TMII. Sudah saya bayangkan betapa kerennya memakai kemeja bersepatu pantofel mengkilat. Kerja di ruangan ber-AC dengan gedung kantor bertingkat dua puluh. Mimpi anak desa, bisakah mengalahkan kerasnya ibukota?

Hari itu Sabtu sore sekitar pertengahan bulan November 2006, berangkatlah rombongan kami menuju Jakarta bersamaan dengan waktu puncak arus balik lebaran. Selain ada beberapa alasan, saya diajak berangkat ke Jakarta memang dimaksudkan untuk membantu paklik menyetir kendaraan. Walaupun akhirnya saya harus angkat tangan ketika perjalanan baru sampai di kota Pekalongan. Mohon maaf paklik, panjenengan  harus melanjutkan menyetir sampai ke  Jakarta. He..he..he..he..

Jakarta Keras Bul...!
Satu..dua..tiga hari saya sempat merasa kangen dengan suasana rumah di kampung. Bisanya cuma dengar suara saudara di Trenggalek lewat sambungan telepon. Belum ada smartphone seperti sekarang yang bisa digunakan untuk aplikasi media sosial atau video call. Biar tidak bosan, sesekali ijin untuk menginap ke tempat kos kakak keponakan yang tak begitu jauh dari rumah paklik. Atau kadang kala saya mengunjungi lanjut menginap di kontrakan bude di daerah Condet atau Kebayoran Baru. Sebenarnya kalau hiburan kapan saja ada, karena hampir setiap hari saya mengantar dan menjemput paklik kerja di Desa Wisata, TMII.  Warga di lingkungan perumahan karyawan TMII, tempat paklik saya tinggal hampir semuanya berasal dari daerah Jawa. 

Bermaksud tak mau hanya menjadi beban, beberapa kali saya memasukkan lamaran pekerjaan ke beberapa tempat. Mulai toko elektronik, hotel, supermarket pernah saya datangi dengan harapan sedang membutuhkan kaaryawan baru. Tapi nasib berkata lain, lulusan SMA tak mudah mencari kerja di sana, apalagi belum memiliki jaringan pertemanan yang kuat. Pernah mengikuti  tes seleksi karyawan di salah satu supermarket yang sekarang di beli oleh Chaerul Tanjung, Carefour. Tapi lagi - lagi saya tidak diterima dengan beberapa alasan.

Beruntung saya memiliki sanak saudara yang sangat baik, sehingga tak menganggap saya ini beban buat mereka. "Paklik, Bude, saya sudah dua bulan lebih tinggal disini. Tentu keinginan sebenarnya bisa mendapat pekerjaan disini sesuai harapan. Saya tak mau menjadi beban terus menerus bagi panjenengan bertiga. Saya harus pulang ke kampung di Jawa, mungkin memang takdir saya di Trenggalek. Sekali lagi mohon maaf kalau saya banyak salah..sudah sangat merepotkan". Saya ucapkan kata - kata perpisahan, kereta api ekonomi Brantas dari stasiun Jatinegara tujuan Kediri mulai melaju perlahan di atas rel. (Sabtu, 14 Januari 2007). (bersambung)

0 comments:

Post a Comment