Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Tuesday, February 23, 2021

Menjaga Identitas Kesenian Tradisi Generasi Millenial

kaboeline.com - Turonggo Yakso merupakan kesenian tradisional khas Trenggalek lahir dan berawal dari budaya turun temurun masyarakat di Kecamatan Dongko. Perlu diketahui tarian Turonggo Yakso ini bermula dari tradisi baritan.Upacara adat baritan merupakan salah satu bagian kehidupan sebagai media komunikasi terhadap Tuhan sang Pencipta alam semesta. Upacara adat baritan biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Syura (Muharam). Pawang atau sesepuh yang memiliki hak menentukan hari serta tanggal pelaksanaan baritan.  Tradisi baritan bisanya diselengggarakan siang hari ketika para petani sudah istirahat mengerjakan sawah dan ladangnya.

Kata “Baritan” diambil sebagai nama sebuah tradisi karena pelaksanaan upacara adat tersebut dilaksanakan bubar ngarit tanduran (setelah merumput tanaman untuk makanan ternak). Upacara dilaksanakan pada saat para petani pemilik rojo koyo berkumpul sambil membawa perlengkapan sesaji. Yakni, berupa ambeng dan longkong serta membawa tali dari bambu yang biasa disebut dadung. Upacara diteruskan dengan pentas kesenian langen Tayub ditempat bekas tumpukan dhadhung tadi. Dhadhung yang sudah diberi mantra dibagikan kepada pemilik semula dengan tujuan disimpan dengan baik diatas pogo rumah masing - masing. Harapannya keberkahan Tuhan Yang Maha Esa akan selalu diberikan pada hewan peliharaan, terhindar dari gangguan malapetaka maupun penyakit.

Seorang tokoh kesenian Trenggalek Mudjiman menceritakan, tarian jaranan muncul saat terjadi malapetaka, yakni kematian hewan ternak dan tanaman petani. Untuk mendapatkan berkah sekaligus mengatasi malapetaka seorang kesatria bertapa di Gua Turranggo Yakso. Kesatria itu mendapat wangsit yaitu diminta merendam kuda raksasa di suatu kubangan air. Selanjutnya, air itu diminumkan pada hewan ternak sakit atau disiramkan pada tanaman sawah yang rusak. Rupanya cara itu membuahkan hasil, hewan ternak menjadi sehat dan tanaman milik petani tumbuh subur. Supaya tak terjadi musibah serupa dan memperingati keberhasilan tersebut, kesatria meminta warga terus melanjutkan tradisi itu setiap 1 Suro. Bisa disimpulkan Turonggo memiliki arti kuda. Sedangkan Yakso adalah buto atau raksasa. Gabungan dua kata itu bermakna sebagai seorang kesatria bijaksana yang mampu mengendalikan seekor hewan raksasa.

Tari Turonggo Yakso secara nilai artistik merupakan pengungkapan ketangkasan, kegagahan, dan kelincahan seseorang pria kesatria. Terdapat pada keharmonisan dan keselarasan antar gerak dan ritme, khususnnya antara gerak dan irama kendang. Gabungan antara gerak dan ritme menjadikan Turonggo Yakso kelihatan lebih sigrak (tangkas). Penjiwaan seorang penari Turonggo Yakso dalam mengekspresikan gerak secara sempurna akan menambah nilai estetis.

Kesenian bisa menjadi identitas kebanggaan sebuah daerah, maka dari itu pengembangan tari Turonggo Yakso ditangani secara serius oleh pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata ataupun Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga melalui jalur pendidikan. Siswa mulai sekolah dasar sampai tingkat menengah diperkenalkan dengan Turonggo Yakso agar merasa memiliki. Sehingga kecintaan itu ditunjukkan dengan belajar mendalami tarian tradisional ini. Sebagai bentuk promosi wisata budaya, tari Turonggo Yakso kerap ditampilkan pada even – even berskala nasional. yang menarik setiap tahunnya menjelang hari jadi kabupaten Trenggalek selalu diselenggarakan festival jaranan Turonggo Yakso selama beberapa hari untuk mencari seniman – seniman terbaik dari seluruh pelosok Trenggalek.