Thursday, September 17, 2020

Kurikulum Khusus : Jangan Biarkan Anak Stres Karena Beban Belajar


 “Assalamu’alaikum Wr. Wb…Anak – anak untuk pembelajaran tematik hari ini silahan dibuka  buku tema 3 sub tema 4, kemudian kerjakan tugas yaitu meringkas materi di buku catatan dari halaman 34 – 40 minta bimbingan ayah atau ibu ya... Kemudian kerjakan latihan soal romawi I, II dan III. Jangan lupa difoto dan dijapri melalui whatsapp ibu guru sampai batas pengiriman pukul 15.00 WIB..Wassalamu’alaikum Wr. Wb!!”

kaboeline.com - Tanpa ada penjelasan materinya mengenai apa, tujuan pembelajarannya untuk apa, begitulah kira – kira kasus yang sering terjadi dan dirasakan siswa di beberapa sekolah selama kurang lebih enam bulan menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau istilah lain belajar dari rumah (BDR). Selain sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolah dasar, saya merupakan orang tua yang memiliki anak masih duduk kelas empat. Saya merasakan betul betapa tugas yang dibebankan setiap harinya terasa begitu memberatkan. Bisa dibayangkan kalau jadwal PJJ sama sekali tidak disesuaikan dan masih mengacu pada jadwal pelajaran sebelum pandemi. Setiap harinya ada penugasan dengan porsi berbeda – beda ditambah lagi dengan tugas lain seperti hafalan Qur’an dan lainnya. 

Selain problem seperti di atas, masih banyak kendala dihadapi pada proses kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Seperti di sekolah pinggiran dengan minimnya sarana prasarana yang dimiliki sehingga menghambat kegiatan daring. Guru di sekolah masih cenderung fokus kepada penuntasan kurikulum tanpa adanya komunikasi dengan orang tua atau wali murid. Tidak semua orang tua memahami betul materi pembelajaran atau bisa memberi motivasi kepada anaknya untuk semangat belajar dari rumah. Akibatnya anak kurang konsentrasi belajar karena mengeluhkan beratnya tugas – tugas sekolah. Minimnya interaksi dengan orang lain atau teman – teman sekolah memicu  stress dan jenuh berlebihan. Maka dari itu perlu dicarikan solusi bijak tanpa mengesampingkan kesehatan dan keselamatan anak .

      Mengantisipasi dampak kurang baik akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ) maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan mencoba mengimplementasikan dua kebijakan baru. Kebijakan tersebut adalah perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona hijau dan zona kuning. Pemerintah juga merancang kurikulum darurat atau dalam kondisi khusus dimana memberi keleluasaan pada pihak sekolah memilih kurikulum sesuai dengan konsep pembelajaran siswa. Demi meringankan kesulitan belajar siswa terutama jenjang PAUD dan sekolah dasar (SD) sesuai rencana diterbitkan modul pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru, pendamping (orang tua/ wali), dan siswa.

      Mendiknas Nadhiem Makarim menggambarkan, kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) merupakan penyederhanaan kompetensi dasar (KD)  setiap mata pelajaran dengan hanya berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat kelanjutan pembelajaran pada tingkat atau jenjang selanjutnya. Di masa pandemi ini, satuan pendidikan diberi keleluasaan memilih, yaitu tetap menggunakan kurikulum 2013, menggunakan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Dengan konsep kurikulum lebih sederhana maka, siswa tidak merasa terbebani menuntaskan seluruh capaian kurikulum karena hanya berfokus pada pembelajaran penting dan kontekstual. Dengan begitu, orang tua menjadi mudah melakukan pendampingan selama belajar dirumah. Pada intinya kurikulum darurat ini memiliki tujuan  mengurangi beban atau kendala yang dialami oleh guru, orang tua maupun anak.

     Menyukseskan pembelajaran di masa pandemi diperlukan kerjasama secara menyeluruh oleh semua pihak. Orang tua harus terlibat aktif dalam kegiatan belajar dari rumah. Guru juga dipacu terus mengembangkan kapasitas dan kompetensi melakukan inovasi pembelajaran interaktif.  Sekolah berupaya meningkatkan layanan, sarana prasarana, dan konsep pembelajaran paling tepat. Pemerintah pusat atau daerah perlu bekerjasama menerapkan kebijakan yang berpihak pada anak. Masyarakat bisa mendapat banyak informasi mengenai kebijakan pemerintah dengan mengakses secara online melalui laman https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/ Selain itu, layanan kesehatan seperti puskesmas serta lingkungan masyarakat bisa mengambil perannya masing – masing dengan memantau, mengevaluasi di mana saja daerah beresiko. Mayarakat bisa melibatkan organisasi – organisai sosial bersama – sama membantu lembaga sekolah menyelenggarakan kegiatan pembelajaran anak dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Adanya pandemi seharusnya tidak menghalangi anak bisa belajar dengan baik dan menyenangkan, karena masa depan mereka ada di tangan kita.  

#CerdasBerkarakter
#BlogBerkarakter
#SeruBelajarKebiasaanBaru
#BahagiaBelajardiRumah

0 comments:

Post a Comment