Friday, September 18, 2020

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok : Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi


kaboeline.com. Ada banyak hal terkena dampak langsung pandemi Covid – 19, tak terkecuali berimbas pada dunia pendidikan. Ditiadakannya pembelajaran secara tatap muka jelas akan merubah pola belajar yang setiap hari biasanya berlangsung. Tantangan menjadi semakin berat pada pembelajaran tingkat sekolah dasar yang secara teknis memang butuh pendekatan secara fisik antara guru dengan siswa. Kehadiran berbagai produk teknologi digital video conference seperti zoom meetingcisco webex berbeda “sensasi”-nya ketika yang berdiri di depan kelas adalah bapak atau ibu guru, sosok panutan.

   Sistem belajar daring selama ini memang dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran covid – 19 di klaster sekolah. Jadi, istilah pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) sebagai inisiatif supaya anak – anak  tetap belajar di tengah pandemi. Walaupun, tingkat kebosanan serta efek secara psikologis anak – anak terganggu karena interaksi sosial menjadi sangat terbatas. Beraktifitas memakai gadged, laptop atau smartphone dengan intensitas lama bisa mengakibatkan daya kreatifitas menurun. Secara personal muncul  anggapan bahwa media sosial merupakan dunia yang ternyata menyenangkan bagi mereka. Beberapa contoh kecil saja banyak anak – anak usia sekolah di masa pandemi ini lebih aktif di media sosial, mengunggah “jogetan” mereka melalui aplikasi seperti tik tok. Anak yang sedang viral karena menirukan gerakan dance artis K-pop mendapat apresiasi dari media televisi swasta dengan mengundangnya sebagai bintang tamu. Menurut pengamatan anda apakah ini merupakan prestasi?. Ayolah..kita sama – sama membuka mata, sadar bahwa  anak kita sedang berada pada situasi  krisis kreatifitas.

   Beberapa tokoh mengemukakan pandangannya mengenai apa yang dimaksud dengan kreatifitas, salah satunya adalah Hurlock. Dalam bukunya ditulis bahwa kreatifitas merupakan proses mental unik, suatu proses yang semata – mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda dan orisinal1].  Penulis buku lainnya yaitu Utami Munandar menjelaskan bahwa kreatifitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas berpikir serta kemampuan mengelaborasi suatu gagasan. Lebih lanjut lagi Utami Munandar menekankan bahwa kreatifitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang merupakan tempat berinteraksi dapat mendukung berkembangnya kreativitas individu2].

Manajemen Sekolah Yang Kolaboratif Mendukung Kreatifitas Siswa
  Konsep MERDEKA BELAJAR yang digagas oleh mas menteri Nadhiem Makarim tujuannya menciptakan ekosistem sekolah sebagai tempat kegiatan menyenangkan. Manajemen sekolah yang kolaboratif  dan memiliki kompetensi akan banyak melibatkan beberapa pihak atau komunitas terlibat pada kegiatan sekolah. Sudah saatnya sekolah menggandeng orang tua, masyarakat, bersama – sama menjadi tempat  ideal menumbuhkan karakter anak. 

    Bisa dikatakan goal atau tujuan dari program merdeka belajar ini salah satunya adalah pelajar Pancasila. Profil pelajar ideal yang memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Memiliki akhlak mulia terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam dan negaranya. Pelajar yang memiliki identitas diri merepresentasikan budaya luhur bangsanya. Menghargai dan melestarikan budayanya dengan tetap melakukan interaksi dengana budaya lain. Pelajar yang terampil bekerja sama dan saling membantu dengan orang lain dalam berbagai kegiatan dengan tujuan menyejahterakan, serta membahagiakan masyarakat. Pelajar mandiri, berinisiatif mempelajari hal – hal baru dan gigih dalam  mencapai tujuannya. Pelajar yang mampu bernalar kritis, mampu menganalisis masalah menggunakan kaidah saintifik. Dan point terakhir adalah KREATIF,  dimana pelajar ini akan senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan bersikap reflektif agar dapat terus mengembangkan diri dan berkontribusi kepada bangsa, negara dan dunia. Klik https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/ untuk mendapat banyak informasi mengenai penguatan karakter program dari Kementerian Pendidikan dna Kebudayaan.

     Di masa pandemi seperti sekarang, kepala sekolah sebagai manager di lembaga harus bisa mendorong, mengupayakan guru atau tenaga pendidik memiliki konsep belajar mengajar menarik dan berpusat pada anak. Pengembangan kompetensi dasar bisa mengacu pada pengembangan kreatifitas anak walaupun belajar dari rumah (BDR). Guru bisa memberi tugas daring lebih kreatif misalnya dengan membuat lukisan, kerajinan tangan, video vlog, video berpuisi, menari,  bernyanyi, membaca Al – Qur’an atau video kegiatan sosial mereka di lingkungan sekitar. Dengan memanfaatkan hadirnya kemajuan teknologi kegiatan belajar mengajar akan terasa lebih menarik. 

    Proses kreatif seorang anak sangat tergantung di lingkungan mana dia berada, dengan siapa dia banyak menghabiskan waktu berinteraksi. Maka dari itu sekolah sebagai lembaga formal tempat anak belajar harus bisa menjembatani dengan konsep – konsep belajar interaktif yang bisa memacu kreatifitas anak. Semoga cita – cita dari tujuan pembelajaran di sekolah yaitu membentuk karakter Pelajar Pancasila terwujud demi mencari calon – calon pemimpin bangsa berkualitas,  berkarakter Pancasila. Penulis : Mukhamad Khabib G (Artikel ini saya buat untuk memenuhi proyek akhir Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Dalam Jaringan Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)  

#CerdasBerkarakter
#ArtikelBerkarakter
#DKTPenguatanKarakter

Sumber:
[1] Hurlock EB, Perkembangan Anak, (Jakarta:Erlangga, 1978), hlm.3
[2] Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung:CV. Wacana, 2007), hlm. 62
Gambar 1 : https://www.walangapraga.or.id/

0 comments:

Post a Comment