Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Friday, September 18, 2020

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok : Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi


kaboeline.com. Ada banyak hal terkena dampak langsung pandemi Covid – 19, tak terkecuali berimbas pada dunia pendidikan. Ditiadakannya pembelajaran secara tatap muka jelas akan merubah pola belajar yang setiap hari biasanya berlangsung. Tantangan menjadi semakin berat pada pembelajaran tingkat sekolah dasar yang secara teknis memang butuh pendekatan secara fisik antara guru dengan siswa. Kehadiran berbagai produk teknologi digital video conference seperti zoom meetingcisco webex berbeda “sensasi”-nya ketika yang berdiri di depan kelas adalah bapak atau ibu guru, sosok panutan.

   Sistem belajar daring selama ini memang dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran covid – 19 di klaster sekolah. Jadi, istilah pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) sebagai inisiatif supaya anak – anak  tetap belajar di tengah pandemi. Walaupun, tingkat kebosanan serta efek secara psikologis anak – anak terganggu karena interaksi sosial menjadi sangat terbatas. Beraktifitas memakai gadged, laptop atau smartphone dengan intensitas lama bisa mengakibatkan daya kreatifitas menurun. Secara personal muncul  anggapan bahwa media sosial merupakan dunia yang ternyata menyenangkan bagi mereka. Beberapa contoh kecil saja banyak anak – anak usia sekolah di masa pandemi ini lebih aktif di media sosial, mengunggah “jogetan” mereka melalui aplikasi seperti tik tok. Anak yang sedang viral karena menirukan gerakan dance artis K-pop mendapat apresiasi dari media televisi swasta dengan mengundangnya sebagai bintang tamu. Menurut pengamatan anda apakah ini merupakan prestasi?. Ayolah..kita sama – sama membuka mata, sadar bahwa  anak kita sedang berada pada situasi  krisis kreatifitas.

   Beberapa tokoh mengemukakan pandangannya mengenai apa yang dimaksud dengan kreatifitas, salah satunya adalah Hurlock. Dalam bukunya ditulis bahwa kreatifitas merupakan proses mental unik, suatu proses yang semata – mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda dan orisinal1].  Penulis buku lainnya yaitu Utami Munandar menjelaskan bahwa kreatifitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas berpikir serta kemampuan mengelaborasi suatu gagasan. Lebih lanjut lagi Utami Munandar menekankan bahwa kreatifitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang merupakan tempat berinteraksi dapat mendukung berkembangnya kreativitas individu2].

Manajemen Sekolah Yang Kolaboratif Mendukung Kreatifitas Siswa
  Konsep MERDEKA BELAJAR yang digagas oleh mas menteri Nadhiem Makarim tujuannya menciptakan ekosistem sekolah sebagai tempat kegiatan menyenangkan. Manajemen sekolah yang kolaboratif  dan memiliki kompetensi akan banyak melibatkan beberapa pihak atau komunitas terlibat pada kegiatan sekolah. Sudah saatnya sekolah menggandeng orang tua, masyarakat, bersama – sama menjadi tempat  ideal menumbuhkan karakter anak. 

    Bisa dikatakan goal atau tujuan dari program merdeka belajar ini salah satunya adalah pelajar Pancasila. Profil pelajar ideal yang memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Memiliki akhlak mulia terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam dan negaranya. Pelajar yang memiliki identitas diri merepresentasikan budaya luhur bangsanya. Menghargai dan melestarikan budayanya dengan tetap melakukan interaksi dengana budaya lain. Pelajar yang terampil bekerja sama dan saling membantu dengan orang lain dalam berbagai kegiatan dengan tujuan menyejahterakan, serta membahagiakan masyarakat. Pelajar mandiri, berinisiatif mempelajari hal – hal baru dan gigih dalam  mencapai tujuannya. Pelajar yang mampu bernalar kritis, mampu menganalisis masalah menggunakan kaidah saintifik. Dan point terakhir adalah KREATIF,  dimana pelajar ini akan senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan bersikap reflektif agar dapat terus mengembangkan diri dan berkontribusi kepada bangsa, negara dan dunia. Klik https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/ untuk mendapat banyak informasi mengenai penguatan karakter program dari Kementerian Pendidikan dna Kebudayaan.

     Di masa pandemi seperti sekarang, kepala sekolah sebagai manager di lembaga harus bisa mendorong, mengupayakan guru atau tenaga pendidik memiliki konsep belajar mengajar menarik dan berpusat pada anak. Pengembangan kompetensi dasar bisa mengacu pada pengembangan kreatifitas anak walaupun belajar dari rumah (BDR). Guru bisa memberi tugas daring lebih kreatif misalnya dengan membuat lukisan, kerajinan tangan, video vlog, video berpuisi, menari,  bernyanyi, membaca Al – Qur’an atau video kegiatan sosial mereka di lingkungan sekitar. Dengan memanfaatkan hadirnya kemajuan teknologi kegiatan belajar mengajar akan terasa lebih menarik. 

    Proses kreatif seorang anak sangat tergantung di lingkungan mana dia berada, dengan siapa dia banyak menghabiskan waktu berinteraksi. Maka dari itu sekolah sebagai lembaga formal tempat anak belajar harus bisa menjembatani dengan konsep – konsep belajar interaktif yang bisa memacu kreatifitas anak. Semoga cita – cita dari tujuan pembelajaran di sekolah yaitu membentuk karakter Pelajar Pancasila terwujud demi mencari calon – calon pemimpin bangsa berkualitas,  berkarakter Pancasila. Penulis : Mukhamad Khabib G (Artikel ini saya buat untuk memenuhi proyek akhir Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Dalam Jaringan Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)  

#CerdasBerkarakter
#ArtikelBerkarakter
#DKTPenguatanKarakter

Sumber:
[1] Hurlock EB, Perkembangan Anak, (Jakarta:Erlangga, 1978), hlm.3
[2] Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung:CV. Wacana, 2007), hlm. 62
Gambar 1 : https://www.walangapraga.or.id/

Thursday, September 17, 2020

Kurikulum Khusus : Jangan Biarkan Anak Stres Karena Beban Belajar


 “Assalamu’alaikum Wr. Wb…Anak – anak untuk pembelajaran tematik hari ini silahan dibuka  buku tema 3 sub tema 4, kemudian kerjakan tugas yaitu meringkas materi di buku catatan dari halaman 34 – 40 minta bimbingan ayah atau ibu ya... Kemudian kerjakan latihan soal romawi I, II dan III. Jangan lupa difoto dan dijapri melalui whatsapp ibu guru sampai batas pengiriman pukul 15.00 WIB..Wassalamu’alaikum Wr. Wb!!”

kaboeline.com - Tanpa ada penjelasan materinya mengenai apa, tujuan pembelajarannya untuk apa, begitulah kira – kira kasus yang sering terjadi dan dirasakan siswa di beberapa sekolah selama kurang lebih enam bulan menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau istilah lain belajar dari rumah (BDR). Selain sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolah dasar, saya merupakan orang tua yang memiliki anak masih duduk kelas empat. Saya merasakan betul betapa tugas yang dibebankan setiap harinya terasa begitu memberatkan. Bisa dibayangkan kalau jadwal PJJ sama sekali tidak disesuaikan dan masih mengacu pada jadwal pelajaran sebelum pandemi. Setiap harinya ada penugasan dengan porsi berbeda – beda ditambah lagi dengan tugas lain seperti hafalan Qur’an dan lainnya. 

Selain problem seperti di atas, masih banyak kendala dihadapi pada proses kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Seperti di sekolah pinggiran dengan minimnya sarana prasarana yang dimiliki sehingga menghambat kegiatan daring. Guru di sekolah masih cenderung fokus kepada penuntasan kurikulum tanpa adanya komunikasi dengan orang tua atau wali murid. Tidak semua orang tua memahami betul materi pembelajaran atau bisa memberi motivasi kepada anaknya untuk semangat belajar dari rumah. Akibatnya anak kurang konsentrasi belajar karena mengeluhkan beratnya tugas – tugas sekolah. Minimnya interaksi dengan orang lain atau teman – teman sekolah memicu  stress dan jenuh berlebihan. Maka dari itu perlu dicarikan solusi bijak tanpa mengesampingkan kesehatan dan keselamatan anak .

      Mengantisipasi dampak kurang baik akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ) maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan mencoba mengimplementasikan dua kebijakan baru. Kebijakan tersebut adalah perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona hijau dan zona kuning. Pemerintah juga merancang kurikulum darurat atau dalam kondisi khusus dimana memberi keleluasaan pada pihak sekolah memilih kurikulum sesuai dengan konsep pembelajaran siswa. Demi meringankan kesulitan belajar siswa terutama jenjang PAUD dan sekolah dasar (SD) sesuai rencana diterbitkan modul pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru, pendamping (orang tua/ wali), dan siswa.

      Mendiknas Nadhiem Makarim menggambarkan, kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) merupakan penyederhanaan kompetensi dasar (KD)  setiap mata pelajaran dengan hanya berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat kelanjutan pembelajaran pada tingkat atau jenjang selanjutnya. Di masa pandemi ini, satuan pendidikan diberi keleluasaan memilih, yaitu tetap menggunakan kurikulum 2013, menggunakan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Dengan konsep kurikulum lebih sederhana maka, siswa tidak merasa terbebani menuntaskan seluruh capaian kurikulum karena hanya berfokus pada pembelajaran penting dan kontekstual. Dengan begitu, orang tua menjadi mudah melakukan pendampingan selama belajar dirumah. Pada intinya kurikulum darurat ini memiliki tujuan  mengurangi beban atau kendala yang dialami oleh guru, orang tua maupun anak.

     Menyukseskan pembelajaran di masa pandemi diperlukan kerjasama secara menyeluruh oleh semua pihak. Orang tua harus terlibat aktif dalam kegiatan belajar dari rumah. Guru juga dipacu terus mengembangkan kapasitas dan kompetensi melakukan inovasi pembelajaran interaktif.  Sekolah berupaya meningkatkan layanan, sarana prasarana, dan konsep pembelajaran paling tepat. Pemerintah pusat atau daerah perlu bekerjasama menerapkan kebijakan yang berpihak pada anak. Masyarakat bisa mendapat banyak informasi mengenai kebijakan pemerintah dengan mengakses secara online melalui laman https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/ Selain itu, layanan kesehatan seperti puskesmas serta lingkungan masyarakat bisa mengambil perannya masing – masing dengan memantau, mengevaluasi di mana saja daerah beresiko. Mayarakat bisa melibatkan organisasi – organisai sosial bersama – sama membantu lembaga sekolah menyelenggarakan kegiatan pembelajaran anak dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Adanya pandemi seharusnya tidak menghalangi anak bisa belajar dengan baik dan menyenangkan, karena masa depan mereka ada di tangan kita.  

#CerdasBerkarakter
#BlogBerkarakter
#SeruBelajarKebiasaanBaru
#BahagiaBelajardiRumah