Thursday, April 23, 2020

Ziarah Kubur, Tradisi Pengingat Mati


kaboeline.com - Masih ingat waktu itu saya baru berumur sepuluh tahun, kesehatan paklik masih baik. Setiap menjelang bulan Ramadhan pasti singgah dulu ke rumah ku sebelum ke tempat pemakaman. Sebelum sore kami harus segera berangkat, saya naik di boncengan belakang sepeda dengan membawa tas plastik warna hitam dengan isi beberapa bungkus bunga cekar (sekar). Sementara paklik segera mengayuh sepedanya ke pemakaman desa jaraknya kira - kira 1 kilometer  dari rumah. Diperjalanan beliau selalu berpesan, sebagai laki - laki jangan sampai melupakan leluhur, harus bisa memanjatkan beberapa bacaan do'a ketika berziarah. Makam mbah kakung (mertuanya) harus tetap dijaga keberadaannya agar tidak dijamah orang untuk tempat memakamkan jenazah baru. 

Karena waktu itu masih kecil, saya cuma merasa heran saja kenapa banyak orang yang datang ke tempat pemakaman. Memakai songkok, membersihkan sekitar makam, menghadap ke Barat dengan membaca beberapa do'a dan lalu menaburkan bunga "cekar" dia atas makam. Nahh, bagian terakhir ini biasanya saya yang melakukan setelah mengucapkan amin seraya mengusap wajah dengan dua telapak tangan. Maklum belum pernah sekalipun tau wajah asli mbak kakung. Hanya dari cerita si mbok yang mengatakan kalau mbah kakung itu meninggal gara - gara sakit dan tak tertolong karena terlambat berobat ke rumah sakit. Kondisi ekonomi waktu itu tidak memungkinkan untuk operasi di rumah sakit. Dan sekali lagi paklik selalu menyuruh saya mengingat  - ingat posisi makam mbah kakung. Letaknya persis hampir di tengah area makam berada di dekat makam budhe dan keponakan yang meninggal waktu bayi. Tapi sayang sekali sekarang saya tak begitu ingat posisinya dimana,  saya pun juga lupa kapan terakhir ziarah ke makam mbah kakung.

Kebiasaan masyarakat mengunjungi makam leluhur ketika menjelang bulan puasa atau Ramadhan memang sudah menjadi tradisi  khususnya di Trenggalek. Berkali - kali ziarah dibahas mengenai kelebihan dan kekurangannya, sunnah atau bid'ah dan selalu jadi perdebatan. Ada beberapa golongan memiliki pandangan kalau ziarah kubur itu mengada - ada dan bisa menjadi dosa syirik. Golongan lain mengatakan bahwa ziarah kubur ini perlu dilestarikan supaya anak cucu selalu mengenang jasa orang tuanya yang sudah mati dengan cara mendo'akan. Sekaligus tradisi semacam ini dianggap bisa sebagai syiar agama.(Kalau bab ini tanya saja ke ahlinya ya..!!!wkwkwkkwkw)

Di beberapa desa ada beberapa kegiatan melestarikan tradisi ziarah ini yaitu dengan dungak kembang/ geren. Bunga untuk nyekar yang akan ditaburkan di atas makam dikumpulkan ke musholla dahulu. Kemudian ada acara  istigotsah, do'a bersama dengan dipimpin  sesepuh atau kyai setempat. Tentunya do'a tersebut ditujukan kepada beberapa leluhur yang sudah dicatat dan disodorkan kepada si pemimpin do'a. Selanjutnya pada H-1 Ramadhan masyarakat beramai - ramai  mengunjungi makam leluhur atau saudara masing - masing yang berada di pemakaman umum setempat. Uniknya acara semacam ini sudah menjadi agenda tahunan. Bahkan dibeberapa daerah lain diadakan acara sema'an Al - Qur'an dengan mengambil lokasi di pemakaman. Biasanya diakhiri pula dengan kegiatan nyekar massal.

Ziarah kubur memang akan selalu menjadi perdebatan bagi sebagian orang yang terus mempermasalahkan apa manfaat dan mudharatnya. Kalaupun terus menerus didebatkan pun tak kan menemui ujungnya. Setiap orang punya kepentingan, dasar dan keyakinan masing - masing. Jadi untuk apa kita membahas lagi dan lagi "ziarah kubur" setiap menjelang bulan puasa. Tidakkah lebih pantas membahas apa saja yang perlu disiapkan untuk mengisi bulan Ramadhan di tengah pandemi Corona (Covid-19). Atau meletakkan tradisi ziarah kubur sebagai pengingat bahwa semua kesenangan di dunia akan berakhir di pemakaman.(Foto : Abdul Azis)

0 comments:

Post a Comment