Wednesday, April 1, 2020

Badai (Corona) Pasti Berlalu


kaboeline.com - Konon menurut simbah saya, apapun yang sudah menyentuh bumi Nggalek (Trenggalek) baik penjajah maupun huru – hara lainnya akan segera sirna dan berlalu. Ketika mau beranjak tidur sambil berburu kutu di rambut saya, beliau sering cerita mengenai masa remajanya ketika Belanda menjajah. Pun ketika Jepang hadir sebagai saudara tua, katanya dirasa tak sekejam tentara – tentara kompeni alias Londho. Mungkin memang tak sesuai fakta seperti kejadian waktu itu, tapi simbah memang sering bercerita tanah Trenggalek memang terlalu “wingit” untuk hal - hal yang kurang menyenangkan. Zaman pageblug atau kekurangan pangan diawal – awal era kemerdekaan pernah melanda beberapa tahun. Saya masih ingat isu “Ninja” yang sempat meresahkan masyarakat di era 90-an, pada saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Rumah bambu sederhana menjadi saksi bagaimana mencekamnya setiap malam datang. Karena kami hanya tinggal bertiga yaitu simbah, saya dan kakak perempuan saya. Alhamdulilah,  isu itupun berlalu dan tak sampai benar - benar terjadi di wilayah Trenggalek. Atau peristiwa kerusuhan Mei 98 ketika mahasiswa menuntut penguasa Orba turun dan digulirkannya reformasi, di kabupaten pesisir Selatan Jawa ini terasa adhem ayem saja. Pantas saja banyak orang mnyebut Trenggalek cocok untuk tempat tinggal para pensiunan menghabiskan sisa umur.

Novel Corona atau Covid – 19, virus baru yang berasal dari daratan China ini telah menjadi pandemi global. Hampir semua negara di dunia dibuat kalang kabut karena penularan yang sangat cepat. Jika orang yang terpapar  virus tidak tertangani dengan baik maka bisa mengakibatkan hal terburuk yaitu kematian. Di negeri asalnya virus ini mengakibatkan kerugian besar secara finansial. Karena untuk meminimalkan penyebarannya hampir semua wilayah harus di lockdown. Istilah yang sekarang cukup populer di daerah kelahiran saya, Trenggalek.

Di tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai bagaimana cara penularan virus Corona atau berapa korbannya. Saya sudah merasa jenuh dengan beredarnya banyak tulisan – tulisan entah itu fakta atau fake. Sekalipun dapat tulisan, saya tidak akan langsung share ke dinding media sosial, cukup untuk diketahui sendiri saja. Kecuali, jika mendapat himbauan penting atau tips dari pemerintah setempat yang harus saya teruskan ke beberapa grup Whatsup saya. Sebagai warga biasa saya memiliki keinginan bahwa dengan membaca tulisan ini ada harapan – harapan lebih baik setelah masa sulit akibat wabah ini. Karena saya yakin, badai yang datang pasti ada waktu berakhirnya, sekalipun wabah ini cukup menakutkan, akan ada masa kita mampu melawan dengan kekuatan diri sendiri.

      Percaya atau tidak secara tidak langsung wabah Virus Corona melatih untuk introspeksi diri demi keselamatan bersama. Himbauan dari pemerintah mengurangi interaksi dengan orang lain atau social distancing menjadi bagian penting sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Di lingkungan terkecil semacam RT, mereka bergotong royong melakukan penyemprotan disinfektan. Di beberapa titik akses masuk kabupaten juga mendapat pemeriksaan ketat dari petugas kepolisian maupun kesehatan. Tujuannya yaaa.....demi kebaikan bersama., apalagi ditakutkan banyak orang – orang mudik ke Trenggalek dari daerah yang telah dinyatakan sebagai zona merah.

   Memang tak gampang memberi himbauan supaya tertib kepada orang – orang di negeri +62, negaraku tercintahhhh Indonesiaaaa. Wis ra adoh – adoh, Nggalek wae lahhhh. Sudah berapa banyak kerumunan orang di warung kopi yang akhirnya dibubarkan bapak – bapak Polisi. Atau kurangnya kepedulian baik penjual maupun pembeli di pasar – pasar rakyat yang saya amati di masa social distancing ini. Padahal ada ancaman corona atau tidak saya emmang terbiasa memakai masker ketika bepergian kemanapun. Maklumlah garis keturunan membuat saya sensitif  mengidap alergi suhu dan debu yang obatnya juga tidak ada. Bisanya cuma pencegahan melalui kebiasaan diri sendiri misalnya memakai jaket atau masker.

     Lucunya lagi, akibat minim pengetahuan mengenai perkembangan virus corona ternyata menyisakan banyak kejadian miris. Seperti warga di lingkungan tertentu mengucilkan petugas medis yang menangani pasien positif karena dianggap membawa virus penyakit ketika pulang ke rumahnya sendiri. Atau ada oknum pejabat pemerintah yang marah – marah mau menelan virus corona (hiks..hiks..hiks..). Keberadaan masker langka, harga jahe merah melambung tinggi, acara dangdutan di TV masih saja berlangsung, berita hoax buuuuuanyakkkk sekaliiii, virus corona hanya menyerang orang kafir, kebiasaan latah copas kabar di medsos dan sebagainya. Disinilah mental sedang diuji, seberapa besar rasa empati kita kepada orang lain yang sedang dalam keadaan kurang beruntung. Ambil banyak pelajaran penting dari warga di luar sana, mengedepankan kebersamaan untuk sama – sama melawan pandemi. Menghargai orang lain yang sedang berjuang di garda terdepan seperti tenaga medis maupun dokter. Dengan #KitaDiRumahAja secara tidak langsung telah membantu pekerjaan  besar mereka. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.  

    Kurang lebih dua minggu saya dan keluarga kecil berusaha untuk mematuhi aturan #DiRumahAja. Kebetulan memang tempat tinggal kami berada di rumah jaga lembaga sekolah. Jadi, kurang lebih lima tahun kami terbiasa menjalani hari tanpa tetangga. Pergi keluar jika untuk kepentingan masuk kerja atau beli bahan kebutuhan makan selama rebahan di rumah. Dan jujur mulai hari Jum’at kemarin saya sudah mengganti sholat Jum’at berjamaah di masjid dengan sholat Dhuhur di rumah saja sesuai anjuran para . Lebay? Karepmu..!!

    Entahlah...mudah – mudahan memang saudara – saudara, teman – teman, tetangga – tetangga kita punya imunitas bagus. Atau ilmu kebal bacok warisan nenek moyang yang otomatis bisa dikeluarkan untuk melawan virus Corona. (........Wkwkwkwkwk). Kita sedang menghadapi benda hidup yang tak kelihatan, tidak tahu siapa yang menularkan atau tertular.. Supaya wabah ini enyah dari lingkungan kita, ayolah menahan diri sementara waktu selama empat be;as hari untuk tidak berinteraksi dengan banyak orang. Rubah gaya hidup lebih bersih dan sehat demi keluarga kita. Terakhir jangan lupa selalu berdo’a, semoga tuah bumi Nggalekan memang tidak cocok untuk habitat berkembangnya virus mematikan ini. (1 April 2020, menandai tepat satu tahun saya berbagi ilmu dengan anak – anak pinggiran kabupaten)

0 comments:

Post a Comment