Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Thursday, April 30, 2020

Menunggu Aksi Generasi Millenial Berbagi Kebaikan di Tengah Pandemi

kaboeline.comMewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat. Yang awalnya acuh terhadap situasi sekitar, seketika berubah memiliki kesadaran diri untuk saling mengenal. Dari yang ingin selamat dan sehat sendiri kemudian tergerak memberi apresiasi terhadap mereka para tenaga medis yang telah berjuang melawan pandemi. Apalagi sekarang ini, sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Suasana keprihatinan membuat hati semakin yakin bahwa pandemi bisa selesai dengan menebar kebaikan bersama. Dikenal sebagai generasi anti sosial, beberapa anak muda yang hidup pada jaman millenial ternyata memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan.

Dimanapun tempat tinggalnya, bahkan tidak harus berada di kota besar, mereka bisa mempengaruhi para "pengikutnya" atau istilahnya followers di dunia maya melakukan suatu tindakan. Bisa dibayangkan jika di negeri ini banyak anak muda melakukan satu kebaikan dan mau men-share aksi kebaikan tersebut. Tentu, akan membawa pengaruh pada gaya hidup anak muda lain hanya dengan melalui postingan atau tweet media sosial. Seorang dokter nyentrik asal Yogjakarta sempat viral beberapa bulan terakhir karena aksi sosial yang dilakukan. Kerennya, dr. Tirta bisa memberi inspirasi kepada semua orang supaya mau melakukan gerakan membantu tenaga medis. Tugasnya sebagai garda terdepan menangani pasien Covid-19 tetu sangat beresiko. Kecepatan media sosial mampu mengirimkan informasi positif secara luas dan dengan mudah diterima masyarakat. Karena berita viral ini, banyak anak – anak muda di daerah melakukan hal serupa sebagai bentuk solidaritas.

Lantas apa yang bisa dilakukan di tengah pandemi covid-19?. Anak muda dengan bermacam latar belakang profesi, identitas maupun komunitas, bisa melakukan suatu gerakan yang bisa mendatangkan harapan. Memang Kebaikan Berbagi saya rasa tidak hanya sebatas memgeluarkan sesuatu yang kita miliki. Memberi motivasi, semangat dan harapan kepada banyak orang bisa jadi adalah salah satu contohnya. Generasi millennial yang sudah identik dengan media sosial bisa dengan mudah memanfaatkan akun – akun sosialnya untuk Kebaikan Berbagi. Contohnya, kampanye #DiRumahAja, menunda mudik, menjaga jarak ketika di tempat umum, atau bertahan jika kemungkinan terburuk seperti lockdown  diberlakukan.

Perlu diketahui kebijakan social distancing atau phisycal distancing di berbagai daerah mengakibatkan dampak ekonomi  luar biasa, terutama masyarakat menengah ke bawah. Bagaimana tidak, penghasilan yang mulanya pas – pasan semakin terasa tercekik dengan adanya larangan atau pembatasan beraktifitas. Belum adanya prediksi mengenai kapan berakhir pandemi ini adanya zakat bisa membantu kebutuhan mereka sehari – hari. Kesempatan bagi kita  berlomba– lomba saling berbagi kepada sesama yaitu kelompok masyarakat terdampak kebijakan pemerintah akibat wabah.

Di tengah kebijakan larangan masyarakat berkumpul, maka kemajuan teknologi menjawab dengan hadirnya Dompet Dhuafa. Ada banyak informasi  menarik bisa diakses melalui www.dompetdhuafa.org terutama bagi masyarakat yang bermaksud membayar zakat tanpa harus melanggar himbauan pemerintah mengurangi berkumpul di tempat umum. Kalian yang memiliki rejeki berlebih, kenapa tidak menyisihkan sebagian pendapatan demi membantu saudara kita yang membutuhkan sekarang ini. Anak muda bisa mengedukasi minimal di lingkup keluarga bahwa mengeluarkan zakat bisa dari rumah, sesimpel itu kan. 

Melalui https://www.dompetdhuafa.org/ kalian generasi millennial bisa melakukan pembayaran donasi secara online. Jika merasa sibuk dengan aktifitas atau pekerjaan, bisa membayar Zakat dimanapun, kapanpun, dan anti ribet. Bulan Ramadhan sebagai bulan mulia, sangatlah tepat jika mengisinya dengan Kebaikan Berbagi. Wabah pandemi ini bisa berakhir jika kita bisa saling merangkul, berusaha berbagi kebaikan dan…saling menguatkan.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa

#MenebarKebaikan
#LombaBlogMenebarKebaikan

Thursday, April 23, 2020

Ziarah Kubur, Tradisi Pengingat Mati


kaboeline.com - Masih ingat waktu itu saya baru berumur sepuluh tahun, kesehatan paklik masih baik. Setiap menjelang bulan Ramadhan pasti singgah dulu ke rumah ku sebelum ke tempat pemakaman. Sebelum sore kami harus segera berangkat, saya naik di boncengan belakang sepeda dengan membawa tas plastik warna hitam dengan isi beberapa bungkus bunga cekar (sekar). Sementara paklik segera mengayuh sepedanya ke pemakaman desa jaraknya kira - kira 1 kilometer  dari rumah. Diperjalanan beliau selalu berpesan, sebagai laki - laki jangan sampai melupakan leluhur, harus bisa memanjatkan beberapa bacaan do'a ketika berziarah. Makam mbah kakung (mertuanya) harus tetap dijaga keberadaannya agar tidak dijamah orang untuk tempat memakamkan jenazah baru. 

Karena waktu itu masih kecil, saya cuma merasa heran saja kenapa banyak orang yang datang ke tempat pemakaman. Memakai songkok, membersihkan sekitar makam, menghadap ke Barat dengan membaca beberapa do'a dan lalu menaburkan bunga "cekar" dia atas makam. Nahh, bagian terakhir ini biasanya saya yang melakukan setelah mengucapkan amin seraya mengusap wajah dengan dua telapak tangan. Maklum belum pernah sekalipun tau wajah asli mbak kakung. Hanya dari cerita si mbok yang mengatakan kalau mbah kakung itu meninggal gara - gara sakit dan tak tertolong karena terlambat berobat ke rumah sakit. Kondisi ekonomi waktu itu tidak memungkinkan untuk operasi di rumah sakit. Dan sekali lagi paklik selalu menyuruh saya mengingat  - ingat posisi makam mbah kakung. Letaknya persis hampir di tengah area makam berada di dekat makam budhe dan keponakan yang meninggal waktu bayi. Tapi sayang sekali sekarang saya tak begitu ingat posisinya dimana,  saya pun juga lupa kapan terakhir ziarah ke makam mbah kakung.

Kebiasaan masyarakat mengunjungi makam leluhur ketika menjelang bulan puasa atau Ramadhan memang sudah menjadi tradisi  khususnya di Trenggalek. Berkali - kali ziarah dibahas mengenai kelebihan dan kekurangannya, sunnah atau bid'ah dan selalu jadi perdebatan. Ada beberapa golongan memiliki pandangan kalau ziarah kubur itu mengada - ada dan bisa menjadi dosa syirik. Golongan lain mengatakan bahwa ziarah kubur ini perlu dilestarikan supaya anak cucu selalu mengenang jasa orang tuanya yang sudah mati dengan cara mendo'akan. Sekaligus tradisi semacam ini dianggap bisa sebagai syiar agama.(Kalau bab ini tanya saja ke ahlinya ya..!!!wkwkwkkwkw)

Di beberapa desa ada beberapa kegiatan melestarikan tradisi ziarah ini yaitu dengan dungak kembang/ geren. Bunga untuk nyekar yang akan ditaburkan di atas makam dikumpulkan ke musholla dahulu. Kemudian ada acara  istigotsah, do'a bersama dengan dipimpin  sesepuh atau kyai setempat. Tentunya do'a tersebut ditujukan kepada beberapa leluhur yang sudah dicatat dan disodorkan kepada si pemimpin do'a. Selanjutnya pada H-1 Ramadhan masyarakat beramai - ramai  mengunjungi makam leluhur atau saudara masing - masing yang berada di pemakaman umum setempat. Uniknya acara semacam ini sudah menjadi agenda tahunan. Bahkan dibeberapa daerah lain diadakan acara sema'an Al - Qur'an dengan mengambil lokasi di pemakaman. Biasanya diakhiri pula dengan kegiatan nyekar massal.

Ziarah kubur memang akan selalu menjadi perdebatan bagi sebagian orang yang terus mempermasalahkan apa manfaat dan mudharatnya. Kalaupun terus menerus didebatkan pun tak kan menemui ujungnya. Setiap orang punya kepentingan, dasar dan keyakinan masing - masing. Jadi untuk apa kita membahas lagi dan lagi "ziarah kubur" setiap menjelang bulan puasa. Tidakkah lebih pantas membahas apa saja yang perlu disiapkan untuk mengisi bulan Ramadhan di tengah pandemi Corona (Covid-19). Atau meletakkan tradisi ziarah kubur sebagai pengingat bahwa semua kesenangan di dunia akan berakhir di pemakaman.(Foto : Abdul Azis)

Wednesday, April 1, 2020

Badai (Corona) Pasti Berlalu


kaboeline.com - Konon menurut simbah saya, apapun yang sudah menyentuh bumi Nggalek (Trenggalek) baik penjajah maupun huru – hara lainnya akan segera sirna dan berlalu. Ketika mau beranjak tidur sambil berburu kutu di rambut saya, beliau sering cerita mengenai masa remajanya ketika Belanda menjajah. Pun ketika Jepang hadir sebagai saudara tua, katanya dirasa tak sekejam tentara – tentara kompeni alias Londho. Mungkin memang tak sesuai fakta seperti kejadian waktu itu, tapi simbah memang sering bercerita tanah Trenggalek memang terlalu “wingit” untuk hal - hal yang kurang menyenangkan. Zaman pageblug atau kekurangan pangan diawal – awal era kemerdekaan pernah melanda beberapa tahun. Saya masih ingat isu “Ninja” yang sempat meresahkan masyarakat di era 90-an, pada saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Rumah bambu sederhana menjadi saksi bagaimana mencekamnya setiap malam datang. Karena kami hanya tinggal bertiga yaitu simbah, saya dan kakak perempuan saya. Alhamdulilah,  isu itupun berlalu dan tak sampai benar - benar terjadi di wilayah Trenggalek. Atau peristiwa kerusuhan Mei 98 ketika mahasiswa menuntut penguasa Orba turun dan digulirkannya reformasi, di kabupaten pesisir Selatan Jawa ini terasa adhem ayem saja. Pantas saja banyak orang mnyebut Trenggalek cocok untuk tempat tinggal para pensiunan menghabiskan sisa umur.

Novel Corona atau Covid – 19, virus baru yang berasal dari daratan China ini telah menjadi pandemi global. Hampir semua negara di dunia dibuat kalang kabut karena penularan yang sangat cepat. Jika orang yang terpapar  virus tidak tertangani dengan baik maka bisa mengakibatkan hal terburuk yaitu kematian. Di negeri asalnya virus ini mengakibatkan kerugian besar secara finansial. Karena untuk meminimalkan penyebarannya hampir semua wilayah harus di lockdown. Istilah yang sekarang cukup populer di daerah kelahiran saya, Trenggalek.

Di tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai bagaimana cara penularan virus Corona atau berapa korbannya. Saya sudah merasa jenuh dengan beredarnya banyak tulisan – tulisan entah itu fakta atau fake. Sekalipun dapat tulisan, saya tidak akan langsung share ke dinding media sosial, cukup untuk diketahui sendiri saja. Kecuali, jika mendapat himbauan penting atau tips dari pemerintah setempat yang harus saya teruskan ke beberapa grup Whatsup saya. Sebagai warga biasa saya memiliki keinginan bahwa dengan membaca tulisan ini ada harapan – harapan lebih baik setelah masa sulit akibat wabah ini. Karena saya yakin, badai yang datang pasti ada waktu berakhirnya, sekalipun wabah ini cukup menakutkan, akan ada masa kita mampu melawan dengan kekuatan diri sendiri.

      Percaya atau tidak secara tidak langsung wabah Virus Corona melatih untuk introspeksi diri demi keselamatan bersama. Himbauan dari pemerintah mengurangi interaksi dengan orang lain atau social distancing menjadi bagian penting sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Di lingkungan terkecil semacam RT, mereka bergotong royong melakukan penyemprotan disinfektan. Di beberapa titik akses masuk kabupaten juga mendapat pemeriksaan ketat dari petugas kepolisian maupun kesehatan. Tujuannya yaaa.....demi kebaikan bersama., apalagi ditakutkan banyak orang – orang mudik ke Trenggalek dari daerah yang telah dinyatakan sebagai zona merah.

   Memang tak gampang memberi himbauan supaya tertib kepada orang – orang di negeri +62, negaraku tercintahhhh Indonesiaaaa. Wis ra adoh – adoh, Nggalek wae lahhhh. Sudah berapa banyak kerumunan orang di warung kopi yang akhirnya dibubarkan bapak – bapak Polisi. Atau kurangnya kepedulian baik penjual maupun pembeli di pasar – pasar rakyat yang saya amati di masa social distancing ini. Padahal ada ancaman corona atau tidak saya emmang terbiasa memakai masker ketika bepergian kemanapun. Maklumlah garis keturunan membuat saya sensitif  mengidap alergi suhu dan debu yang obatnya juga tidak ada. Bisanya cuma pencegahan melalui kebiasaan diri sendiri misalnya memakai jaket atau masker.

     Lucunya lagi, akibat minim pengetahuan mengenai perkembangan virus corona ternyata menyisakan banyak kejadian miris. Seperti warga di lingkungan tertentu mengucilkan petugas medis yang menangani pasien positif karena dianggap membawa virus penyakit ketika pulang ke rumahnya sendiri. Atau ada oknum pejabat pemerintah yang marah – marah mau menelan virus corona (hiks..hiks..hiks..). Keberadaan masker langka, harga jahe merah melambung tinggi, acara dangdutan di TV masih saja berlangsung, berita hoax buuuuuanyakkkk sekaliiii, virus corona hanya menyerang orang kafir, kebiasaan latah copas kabar di medsos dan sebagainya. Disinilah mental sedang diuji, seberapa besar rasa empati kita kepada orang lain yang sedang dalam keadaan kurang beruntung. Ambil banyak pelajaran penting dari warga di luar sana, mengedepankan kebersamaan untuk sama – sama melawan pandemi. Menghargai orang lain yang sedang berjuang di garda terdepan seperti tenaga medis maupun dokter. Dengan #KitaDiRumahAja secara tidak langsung telah membantu pekerjaan  besar mereka. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.  

    Kurang lebih dua minggu saya dan keluarga kecil berusaha untuk mematuhi aturan #DiRumahAja. Kebetulan memang tempat tinggal kami berada di rumah jaga lembaga sekolah. Jadi, kurang lebih lima tahun kami terbiasa menjalani hari tanpa tetangga. Pergi keluar jika untuk kepentingan masuk kerja atau beli bahan kebutuhan makan selama rebahan di rumah. Dan jujur mulai hari Jum’at kemarin saya sudah mengganti sholat Jum’at berjamaah di masjid dengan sholat Dhuhur di rumah saja sesuai anjuran para . Lebay? Karepmu..!!

    Entahlah...mudah – mudahan memang saudara – saudara, teman – teman, tetangga – tetangga kita punya imunitas bagus. Atau ilmu kebal bacok warisan nenek moyang yang otomatis bisa dikeluarkan untuk melawan virus Corona. (........Wkwkwkwkwk). Kita sedang menghadapi benda hidup yang tak kelihatan, tidak tahu siapa yang menularkan atau tertular.. Supaya wabah ini enyah dari lingkungan kita, ayolah menahan diri sementara waktu selama empat be;as hari untuk tidak berinteraksi dengan banyak orang. Rubah gaya hidup lebih bersih dan sehat demi keluarga kita. Terakhir jangan lupa selalu berdo’a, semoga tuah bumi Nggalekan memang tidak cocok untuk habitat berkembangnya virus mematikan ini. (1 April 2020, menandai tepat satu tahun saya berbagi ilmu dengan anak – anak pinggiran kabupaten)