Saturday, September 14, 2019

KEARIFAN LOKAL, USAHA MENJAGA ALAM WARISAN LELUHUR


kaboeline.com - Kearifan lokal atau local wisdom merupakan suatu nilai yang dianggap baik dan benar, berlangsung secara turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat tertentu sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Ratusan suku di Indonesia yang menempati suatu daerah pasti  memiliki beberapa aturan tentang pola kehidupan berbeda - beda. Keragaman tersebut salah satunya karena pengaruh kondisi alam serta interaksi horizontal sesama manusia dalam jangka waktu lama. Masyarakat tradisional dikenal berhubungan sangat baik dengan alam dimana mereka tinggal karena mereka sepenuhnya menggantungkan hidup dari pemberian alam. Berkeyakinan sangat kuat bahwa alam memiliki kekuatan sangat besar untuk bisa merubah peradaban dan kelangsungan hidup manusia di muka bumi. Maka tidak heran jika untuk menghormati kekuatan alam, manusia melakukan berbagai upacara tradisi yang masih lekat dengan balutan animisme dan dinamisme. Matahari, bintang, bulan, pohon, laut, gunung dianggap memiliki energi maha dahsyat yang perlu diberi penghormatan berupa sesembahan tertentu. Dibalik kebudayaan unik tersebut, ada banyak nilai kebaikan yang patut kita ambil sebagai pelajaran penting tentang bagaimana manusia bisa hidup berdamai dengan alam. 

Kita cukup mengenal masyarakat suku Tengger melakukan upacara Kasodo di kawah gunung Bromo , di bulan Sura penduduk di pesisir pantai  secara rutin  menggelar sedekah laut, atau acara selametan di tempat – tempat keramat seperti hutan ataupun titik sumber mata air. Kegiatan seperti ini tujuannya tidak lain adalah bagaimana sekelompok masyarakat tersebut memiliki pengetahuan menjaga keseimbangan alam. Tidak seenaknya tanpa perhitungan menggunakan apa yang sudah alam berikan. Kearifan lokal yang ditunjukkan pada kebudayaan ini cukup tegas mengingatkan kepada kita untuk selalu menjaga hutan, gunung, serta laut sebagai  sumber kehidupan rakyat di negeri khatulistiwa ini. Dalam hal menjaga alam juga ditunjukkan oleh masyarakat di desa Rumbio kecamatan Kampar provinsi Riau masih memegang aturan mengenai hutan larangan adat. Tujuannya agar masyarakat sekitar bersama – sama memiliki kepekaan menjaga hutan, dimana ada peraturan tidak boleh menebang pohon sembarangan. Jika diketahui melanggar akan dikenakan denda seperti beras sebanyak seratus kilogram atau diwajibkan membayar uang mencapai enam juta rupiah. Aturan adat mengikat seperti ini dirasa lebih efektif mencegah kebiasaan – kebiasaan oknum tertentu yang memiliki niat merusak alam sekitar. 

Kearifan lokal masyarakat pada jaman dulu juga melebur pada pola sederhana pencegahan dampak bencana alam atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan mitigasi bencana. Jauh sebelum alat – alat pendeteksi bencana ditemukan, masyarakat lampau di daerah – daerah pelosok sudah memiliki sistem mitigasi yang baik. Mereka belajar dari kejadian atau peristiwa sebelumnya berdasarkan cerita turun temurun dari ayah, kakek atau sesepuh adat. Salah satunya adalah mengenai konstruksi rumah adat tradisional. Perlu diketahui rumah  Gadang dari Sumatera Barat, rumah Joglo di Jawa atau beberapa rumah adat lain, umumnya memiliki ketahanan yang baik jika terjadi bencana seperti gempa bumi. Kearifan seperti ini tidak didapat dari bangku sekolah, #Kenali BahayanyaKurangiRisikonya seakan sudah menjadi mindset para leluhur sebagai upaya berdamai dengan alam. Fakta bebicara, bencana gempa bumi selalu menimbulkan banyak korban jiwa akibat efek lanjutan karena tertimpa bangunan roboh atau ketidaktahuan masyarakat di daerah pantai mengenai air naik atau tsunami yang cukup berbahaya. 

Perlu diketahui pesisir laut barat Sumatera sampai Jawa, Lombok merupakan zona “Ring of Fire” dengan intensitas kegempaan yang tinggi. Ahli geofisika dari USGS William Yeck melalui ABC News mengatakan sekitar 80 persen peristiwa gempa bumi di dunia terjadi di wilayah cincin api Pasifik ini. Masyarakat  suku Jawa lebih dulu mengenal gempa bumi dengan istilah “Lindhu” menganggap bahwa kejadian gempa bumi tersebut membawa pertanda akan muncul peristiwa besar. Kemudian dihubungkan dengan hitungan ramalan kuno yang akan menyimpulkan pandangan atau perkiraan  tertentu mengenai kejadian masa depan. Memang sampai sekarang ini belum ada alat canggih yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi. Alat yang ada hanya mampu mendeteksi adanya potensi ancaman gempa bumi di suatu daerah. Akan tetapi setidaknya dengan kemajuan teknologi, kita dengan mudah mendapat informasi mengenai potensi kebencanaan di  www.bnpb.go.id milik Badan Nasional Penganggulangan Bencana atau BNPB. 

       Timbulnya suatu bencana akibat kerusakan alam menjadi isu yang perlu dibahas dan dipecahkan bersama untuk menemukan solusi. Pemerintah sendiri dinilai gagal melaksanakan program pengurangan sampah plastik di Indonesia dikarenakan kurang mendapat perhatian serta dukungan dari masyarakatnya. Menempati urutan kedua terbesar sebagai negara penghasil sampah plastik sudah seharusnya menjadikan kita prihatin. Berdasarkan data Jambeck dari University of Georgia, pada setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Gaya hidup yang sangat bergantung pada pemakaian plastik semakin memperparah karena masyarakatnya belum memiliki #BudayaSadarBencana. Edukasi berkelanjutan mengenai aksi diet plastik dirasa penting dilakukan dengan kembali kepada kearifan lokal. Dimulai dari diaktifitas sehari - hari yaitu dengan mencoba mengurangi pemakaian plastik. Contoh kecil saja, orang – orang jaman dulu sudah terbiasa ketika berbelanja ke pasar membawa tempat barang belanjaan dari rumah, dan pastinya bukan terbuat dari bahan plastik. Memang terkesan aneh dan jadul karena trend ini belum menjadi budaya generasi milenial kita. Sekarang, ayo mulai berubah menjadi lebih ramah kepada lingkungan, demi alam yang tetap asri terjaga untuk masa depan anak cucu kita. 
#KitaJagaAlam #AlamJagaKita #BudayaSadarBencana #KenaliBahayanyaKurangiResikonya #SiapUntukSelamat #TangguhHadapiBencana  #TangguhAward2019

1 comment:

  1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    ReplyDelete