Monday, September 30, 2019

BuLiKe : NYALAKAN ASA LITERASI ANAK - ANAK DESA PINGGIRAN


kaboeline.com - Saya mendapati banyak pengalaman menarik ketika mulai mendapat tugas mengajar salah satu sekolah dasar (SD) di kecamatan Dongko bulan April lalu, jaraknya empat puluh kilometer dari pusat kabupaten Trenggalek JawaTimur. Dari keseluruhan siswa di sekolah kami, delapan puluh lima persen berasal dari tiga dusun yakni dusun Weru, dusun Tlogo, dan dusun Plapar yang berada di balik bukit. Jika kondisi jalan dan cuaca sedang baik tak sampai lima belas menit untuk sampai di sekolah. Biasanya mereka diantar oleh orang tua dengan mengendarai motor. Perlu diketahui kecamatan Dongko seluruh wilayahnya berupa pegunungan dengan tingkat kemiringan tanah yang beragam. Jadi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya sangat berbeda dengan masyarakat kota pada umumnya. Secara otomatis hal tersebut sangat mempengaruhi pola asuh dan pendidikan keluarga. Berbekal informasi dari anak – anak, saya semakin yakin bahwa budaya gerakan literasi harus segera dimulai, terutama mulai dari keluarga mereka.

Keluarga merupakan lingkungan terkecil bagi anak mengenal segala hal yang mereka lihat di dunia pertama kali. Disini mereka belajar memahami alam raya beserta isinya berkat perhatian besar dan arahan orang tua. Harmoni keluarga membentuk karakter pribadi seorang anak untuk diimplementasikan pada masa depan kehidupannya kelak. Dukungan besar budaya dalam keluarga menjadi pondasi tegaknya sikap dan tingkah laku. Maka tidak heran jika Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang menjadi program pemerintah juga turut melibatkan peran keluarga. Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe) seharusya sudah menjadi “ruh” para keluarga di Indonesia menghadapi tantangan global yang menuntut setiap individu untuk mampu melakukan analisa dalam berbagai hal. Apalagi Indonesia masih tercatat berada di peringkat paling bawah terkait budaya literasi pada Program for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OEDC).

Membangun budaya literasi sebuah keluarga pada lingkup masyarakat pinggiran tak semudah membalikkan telapak tangan. Kepentingan mencari kebutuhan ekonomi demi dapur terus mengepul menjadi hal utama dan pertama yang harus diperjuangkan lebih dulu. Bisa disimpulkan bahwa kesempatan orang tua untuk mendampingi anak – anaknya pasti berkurang jika dibandingkan keluarga dengan tingkat ekonomi sudah mapan. Membayar biaya sekolah pun, mereka para orang tua harus memutar otak, apalagi bisa menyediakan fasilitas bahan bacaan pendukung literasi di rumah. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua menambah betapa sulitnya seseorang memiliki motivasi bagaimana memutus rantai ketertinggalan budaya baca tulis. Fasilitas gadget atau smartphone dianggap sebagai solusi terakhir bagi orang tua untuk menggantikan ketidakhadirannya pada aktifitas anak – anak. Minimnya pengetahuan orang tua mengenai literasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Perlu adanya pendampingan, motivasi yang memiliki satu tujuan menumbuhkan budaya literasi baik dari lingkungan masyarakat maupun lembaga sekolah terdekat. Lembaga sekolah, bisa di katakan sebagai satu – satunya harapan bagi masyarakat seperti ini untuk mendapatkan pelayanan, kemudahan akses informasi mengenai literasi. Warga sekolah maupun wali murid bisa memanfaatkan buku – buku perpustakaan sekolah sebagai sumber pengetahuan. Edukasi yang berkelanjutan kepada keluarga siswa penting dilakukan supaya budaya literasi terbangun sejak dini.

Perlu diketahui literasi tidak hanya terletak pada kemampuan seseorang dalam hal membaca dan menulis saja. Akan tetapi merupakan kemampuan individu dalam menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Kemampuan literasi dapat meningkatkan kualitas hidup individu, keluarga maupun masyarakat. Karena mampu memberikan efek yang sangat luas, maka kemampuan berliterasi secara tidak langsung berdampak bisa memberantas kemiskinan, mempengaruhi pertumbuhan penduduk, pembangunan yang berkelanjutan dan mewujudkan situasi perdamaian di sebuah negara.  Beberapa ahli mengatakan aktifitas membaca menulis hanya sebagian kecil saja dari literasi. Orang tua mengajarkan, memperkenalkan kearifan lokal budaya kepada anak – anak bisa juga disebut sebagai literasi budaya. Seiring perkembangan jaman, maka kemudian dikenal istilah – istilah baru mengenai literasi yaitu literasi digital (digital literacy), literasi kewarganegaraan, literasi sains, literasi sekolah, literasi keluarga dan lain sebagainya.

Orang tua harus berusaha meluangkan waktu meleburkan diri dengan aktifitas anak – anak seperti membaca, mendongeng, atau berdiskusi bersama. Jika memerlukan bahan dan artikel kreatif bisa mengakses laman https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/ yang memuat banyak informasi mengenai pendidikan keluarga.  Waktu akhir pekan ajaklah mereka untuk menghabiskan waktu ke museum atau taman bermain berkonsep edukatif. Biarkan anak – anak terus menerbangkan imajinasi supaya dunianya penuh dengan warna. Ayah ibu menjadi teladan atau cermin menceriakan rumah dengan budaya literasi. Yakinlah bahwa tingkat melek huruf (kemampuan baca – tulis) akan berpengaruh pada kemampuan berkomunikasi seseorang. Kemampuan ini akan membuka keran pengetahuan sehingga lahir generasi – generasi muda terdidik yang memiliki berbagai potensi unik. Orang  berpendidikan tidak mengalami kesulitan menyelesaikan tugas – tugas pekerjaan, memiliki loyalitas tinggi, serta berkarakter mampu menganalisis permasalahan dengan konsep terstruktur. Mulai dari lingkungan keluarga lah anak – anak harus memiliki jutaan mimpi, banyak keingintahuan, semangat pantang menyerah. Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe) bisa menjadi solusi sebagai penguat karakter anak di tengah situasi kritis merosotnya  moral bangsa.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

1 comment:

  1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    ReplyDelete