Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Monday, September 30, 2019

BuLiKe : NYALAKAN ASA LITERASI ANAK - ANAK DESA PINGGIRAN


kaboeline.com - Saya mendapati banyak pengalaman menarik ketika mulai mendapat tugas mengajar salah satu sekolah dasar (SD) di kecamatan Dongko bulan April lalu, jaraknya empat puluh kilometer dari pusat kabupaten Trenggalek JawaTimur. Dari keseluruhan siswa di sekolah kami, delapan puluh lima persen berasal dari tiga dusun yakni dusun Weru, dusun Tlogo, dan dusun Plapar yang berada di balik bukit. Jika kondisi jalan dan cuaca sedang baik tak sampai lima belas menit untuk sampai di sekolah. Biasanya mereka diantar oleh orang tua dengan mengendarai motor. Perlu diketahui kecamatan Dongko seluruh wilayahnya berupa pegunungan dengan tingkat kemiringan tanah yang beragam. Jadi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya sangat berbeda dengan masyarakat kota pada umumnya. Secara otomatis hal tersebut sangat mempengaruhi pola asuh dan pendidikan keluarga. Berbekal informasi dari anak – anak, saya semakin yakin bahwa budaya gerakan literasi harus segera dimulai, terutama mulai dari keluarga mereka.

Keluarga merupakan lingkungan terkecil bagi anak mengenal segala hal yang mereka lihat di dunia pertama kali. Disini mereka belajar memahami alam raya beserta isinya berkat perhatian besar dan arahan orang tua. Harmoni keluarga membentuk karakter pribadi seorang anak untuk diimplementasikan pada masa depan kehidupannya kelak. Dukungan besar budaya dalam keluarga menjadi pondasi tegaknya sikap dan tingkah laku. Maka tidak heran jika Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang menjadi program pemerintah juga turut melibatkan peran keluarga. Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe) seharusya sudah menjadi “ruh” para keluarga di Indonesia menghadapi tantangan global yang menuntut setiap individu untuk mampu melakukan analisa dalam berbagai hal. Apalagi Indonesia masih tercatat berada di peringkat paling bawah terkait budaya literasi pada Program for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OEDC).

Membangun budaya literasi sebuah keluarga pada lingkup masyarakat pinggiran tak semudah membalikkan telapak tangan. Kepentingan mencari kebutuhan ekonomi demi dapur terus mengepul menjadi hal utama dan pertama yang harus diperjuangkan lebih dulu. Bisa disimpulkan bahwa kesempatan orang tua untuk mendampingi anak – anaknya pasti berkurang jika dibandingkan keluarga dengan tingkat ekonomi sudah mapan. Membayar biaya sekolah pun, mereka para orang tua harus memutar otak, apalagi bisa menyediakan fasilitas bahan bacaan pendukung literasi di rumah. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua menambah betapa sulitnya seseorang memiliki motivasi bagaimana memutus rantai ketertinggalan budaya baca tulis. Fasilitas gadget atau smartphone dianggap sebagai solusi terakhir bagi orang tua untuk menggantikan ketidakhadirannya pada aktifitas anak – anak. Minimnya pengetahuan orang tua mengenai literasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Perlu adanya pendampingan, motivasi yang memiliki satu tujuan menumbuhkan budaya literasi baik dari lingkungan masyarakat maupun lembaga sekolah terdekat. Lembaga sekolah, bisa di katakan sebagai satu – satunya harapan bagi masyarakat seperti ini untuk mendapatkan pelayanan, kemudahan akses informasi mengenai literasi. Warga sekolah maupun wali murid bisa memanfaatkan buku – buku perpustakaan sekolah sebagai sumber pengetahuan. Edukasi yang berkelanjutan kepada keluarga siswa penting dilakukan supaya budaya literasi terbangun sejak dini.

Perlu diketahui literasi tidak hanya terletak pada kemampuan seseorang dalam hal membaca dan menulis saja. Akan tetapi merupakan kemampuan individu dalam menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Kemampuan literasi dapat meningkatkan kualitas hidup individu, keluarga maupun masyarakat. Karena mampu memberikan efek yang sangat luas, maka kemampuan berliterasi secara tidak langsung berdampak bisa memberantas kemiskinan, mempengaruhi pertumbuhan penduduk, pembangunan yang berkelanjutan dan mewujudkan situasi perdamaian di sebuah negara.  Beberapa ahli mengatakan aktifitas membaca menulis hanya sebagian kecil saja dari literasi. Orang tua mengajarkan, memperkenalkan kearifan lokal budaya kepada anak – anak bisa juga disebut sebagai literasi budaya. Seiring perkembangan jaman, maka kemudian dikenal istilah – istilah baru mengenai literasi yaitu literasi digital (digital literacy), literasi kewarganegaraan, literasi sains, literasi sekolah, literasi keluarga dan lain sebagainya.

Orang tua harus berusaha meluangkan waktu meleburkan diri dengan aktifitas anak – anak seperti membaca, mendongeng, atau berdiskusi bersama. Jika memerlukan bahan dan artikel kreatif bisa mengakses laman https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/ yang memuat banyak informasi mengenai pendidikan keluarga.  Waktu akhir pekan ajaklah mereka untuk menghabiskan waktu ke museum atau taman bermain berkonsep edukatif. Biarkan anak – anak terus menerbangkan imajinasi supaya dunianya penuh dengan warna. Ayah ibu menjadi teladan atau cermin menceriakan rumah dengan budaya literasi. Yakinlah bahwa tingkat melek huruf (kemampuan baca – tulis) akan berpengaruh pada kemampuan berkomunikasi seseorang. Kemampuan ini akan membuka keran pengetahuan sehingga lahir generasi – generasi muda terdidik yang memiliki berbagai potensi unik. Orang  berpendidikan tidak mengalami kesulitan menyelesaikan tugas – tugas pekerjaan, memiliki loyalitas tinggi, serta berkarakter mampu menganalisis permasalahan dengan konsep terstruktur. Mulai dari lingkungan keluarga lah anak – anak harus memiliki jutaan mimpi, banyak keingintahuan, semangat pantang menyerah. Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe) bisa menjadi solusi sebagai penguat karakter anak di tengah situasi kritis merosotnya  moral bangsa.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

Saturday, September 14, 2019

KEARIFAN LOKAL, USAHA MENJAGA ALAM WARISAN LELUHUR


kaboeline.com - Kearifan lokal atau local wisdom merupakan suatu nilai yang dianggap baik dan benar, berlangsung secara turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat tertentu sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Ratusan suku di Indonesia yang menempati suatu daerah pasti  memiliki beberapa aturan tentang pola kehidupan berbeda - beda. Keragaman tersebut salah satunya karena pengaruh kondisi alam serta interaksi horizontal sesama manusia dalam jangka waktu lama. Masyarakat tradisional dikenal berhubungan sangat baik dengan alam dimana mereka tinggal karena mereka sepenuhnya menggantungkan hidup dari pemberian alam. Berkeyakinan sangat kuat bahwa alam memiliki kekuatan sangat besar untuk bisa merubah peradaban dan kelangsungan hidup manusia di muka bumi. Maka tidak heran jika untuk menghormati kekuatan alam, manusia melakukan berbagai upacara tradisi yang masih lekat dengan balutan animisme dan dinamisme. Matahari, bintang, bulan, pohon, laut, gunung dianggap memiliki energi maha dahsyat yang perlu diberi penghormatan berupa sesembahan tertentu. Dibalik kebudayaan unik tersebut, ada banyak nilai kebaikan yang patut kita ambil sebagai pelajaran penting tentang bagaimana manusia bisa hidup berdamai dengan alam. 

Kita cukup mengenal masyarakat suku Tengger melakukan upacara Kasodo di kawah gunung Bromo , di bulan Sura penduduk di pesisir pantai  secara rutin  menggelar sedekah laut, atau acara selametan di tempat – tempat keramat seperti hutan ataupun titik sumber mata air. Kegiatan seperti ini tujuannya tidak lain adalah bagaimana sekelompok masyarakat tersebut memiliki pengetahuan menjaga keseimbangan alam. Tidak seenaknya tanpa perhitungan menggunakan apa yang sudah alam berikan. Kearifan lokal yang ditunjukkan pada kebudayaan ini cukup tegas mengingatkan kepada kita untuk selalu menjaga hutan, gunung, serta laut sebagai  sumber kehidupan rakyat di negeri khatulistiwa ini. Dalam hal menjaga alam juga ditunjukkan oleh masyarakat di desa Rumbio kecamatan Kampar provinsi Riau masih memegang aturan mengenai hutan larangan adat. Tujuannya agar masyarakat sekitar bersama – sama memiliki kepekaan menjaga hutan, dimana ada peraturan tidak boleh menebang pohon sembarangan. Jika diketahui melanggar akan dikenakan denda seperti beras sebanyak seratus kilogram atau diwajibkan membayar uang mencapai enam juta rupiah. Aturan adat mengikat seperti ini dirasa lebih efektif mencegah kebiasaan – kebiasaan oknum tertentu yang memiliki niat merusak alam sekitar. 

Kearifan lokal masyarakat pada jaman dulu juga melebur pada pola sederhana pencegahan dampak bencana alam atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan mitigasi bencana. Jauh sebelum alat – alat pendeteksi bencana ditemukan, masyarakat lampau di daerah – daerah pelosok sudah memiliki sistem mitigasi yang baik. Mereka belajar dari kejadian atau peristiwa sebelumnya berdasarkan cerita turun temurun dari ayah, kakek atau sesepuh adat. Salah satunya adalah mengenai konstruksi rumah adat tradisional. Perlu diketahui rumah  Gadang dari Sumatera Barat, rumah Joglo di Jawa atau beberapa rumah adat lain, umumnya memiliki ketahanan yang baik jika terjadi bencana seperti gempa bumi. Kearifan seperti ini tidak didapat dari bangku sekolah, #Kenali BahayanyaKurangiRisikonya seakan sudah menjadi mindset para leluhur sebagai upaya berdamai dengan alam. Fakta bebicara, bencana gempa bumi selalu menimbulkan banyak korban jiwa akibat efek lanjutan karena tertimpa bangunan roboh atau ketidaktahuan masyarakat di daerah pantai mengenai air naik atau tsunami yang cukup berbahaya. 

Perlu diketahui pesisir laut barat Sumatera sampai Jawa, Lombok merupakan zona “Ring of Fire” dengan intensitas kegempaan yang tinggi. Ahli geofisika dari USGS William Yeck melalui ABC News mengatakan sekitar 80 persen peristiwa gempa bumi di dunia terjadi di wilayah cincin api Pasifik ini. Masyarakat  suku Jawa lebih dulu mengenal gempa bumi dengan istilah “Lindhu” menganggap bahwa kejadian gempa bumi tersebut membawa pertanda akan muncul peristiwa besar. Kemudian dihubungkan dengan hitungan ramalan kuno yang akan menyimpulkan pandangan atau perkiraan  tertentu mengenai kejadian masa depan. Memang sampai sekarang ini belum ada alat canggih yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi. Alat yang ada hanya mampu mendeteksi adanya potensi ancaman gempa bumi di suatu daerah. Akan tetapi setidaknya dengan kemajuan teknologi, kita dengan mudah mendapat informasi mengenai potensi kebencanaan di  www.bnpb.go.id milik Badan Nasional Penganggulangan Bencana atau BNPB. 

       Timbulnya suatu bencana akibat kerusakan alam menjadi isu yang perlu dibahas dan dipecahkan bersama untuk menemukan solusi. Pemerintah sendiri dinilai gagal melaksanakan program pengurangan sampah plastik di Indonesia dikarenakan kurang mendapat perhatian serta dukungan dari masyarakatnya. Menempati urutan kedua terbesar sebagai negara penghasil sampah plastik sudah seharusnya menjadikan kita prihatin. Berdasarkan data Jambeck dari University of Georgia, pada setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Gaya hidup yang sangat bergantung pada pemakaian plastik semakin memperparah karena masyarakatnya belum memiliki #BudayaSadarBencana. Edukasi berkelanjutan mengenai aksi diet plastik dirasa penting dilakukan dengan kembali kepada kearifan lokal. Dimulai dari diaktifitas sehari - hari yaitu dengan mencoba mengurangi pemakaian plastik. Contoh kecil saja, orang – orang jaman dulu sudah terbiasa ketika berbelanja ke pasar membawa tempat barang belanjaan dari rumah, dan pastinya bukan terbuat dari bahan plastik. Memang terkesan aneh dan jadul karena trend ini belum menjadi budaya generasi milenial kita. Sekarang, ayo mulai berubah menjadi lebih ramah kepada lingkungan, demi alam yang tetap asri terjaga untuk masa depan anak cucu kita. 
#KitaJagaAlam #AlamJagaKita #BudayaSadarBencana #KenaliBahayanyaKurangiResikonya #SiapUntukSelamat #TangguhHadapiBencana  #TangguhAward2019