Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Monday, July 29, 2019

BERDAMAI DENGAN ALAM, MENJADI MASYARAKAT TANGGUH BENCANA

kaboeline.com - Kedatangan tim ekspedisi DESTANA (Desa Tangguh Bencana) Tsunami di kabupaten Trenggalek menimbulkan tanya bagi sebagian besar warga ditengah kabar yang beredar mengenai isu akan terjadi gempa bumi. Pada Minggu pagi, 21 Juli 2019 rombongan menyusuri  jalan nasional menuju kecamatan Panggul, salah satu kecamatan di Trenggalek yang letaknya berada di pesisir laut selatan Jawa berbatasan langsung dengan samudra Hindia. Sesuai rencana, tim tersebut selanjutnya akan meneruskan misi menuju kabupaten Pacitan sekaligus penutupan segmen daerah Jawa Timur. Sehari sebelumnya tim ekspedisi telah menyelesaikan rangkaian kegiatannya di kecamatan Watulimo, tepatnya di kawasan wisata andalan guo Lowo dan pantai Prigi. Misi kemanusian tim ekspedisi DESTANA diwujudkan dengan memberikan edukasi kepada segenap elemen pemerintah setempat, kelompok  - kelompok masyarakat, siswa sekolah, tujuannya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi bencana. 

#KenaliBahayanyaKurangiRisikonya, merupakan upaya untuk membangun wawasan masyarakat kita. Jika memiliki pengetahuan cukup tentang bahaya suatu bencana, timbulnya risiko bisa diminimalisir.  Perlu diketahui, pernyataan yang bersumber dari pakar Tsunami Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan bahwa pesisir selatan pulau Jawa sampai  Sumba di sisi sebelah timur sangat berpotensi akan terjadi gempa bumi berkekuatan lebih dari 8 scala richter (SR). Kekuatan gempa tersebut bahkan bisa memicu gelombang tsunami hingga dua puluh meter yang bisa saja menerjang desa – desa di pesisir pantai.

Kegiatan safari yang dilakukan tim ekspedisi DESTANA mengingatkan bahwa, daerah tempat kita hidup saat ini rawan bencana terutama gempa bumi. Jika dilihat secara geografis wilayah Indonesia tepat berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia yaitu lempeng Eurasia, Indoaustralia. Lebih dari dua ratus patahan aktif atau sesar aktif berada di bumi Indonesia antara lain, patahan besar Sumatera, sesar akftif di Jawa, Lembang, Jogjakarta, di utara Bali, Lombok, NTB, NTT, Sumbawa, dan Sorong. Posisi Indonesia juga dikenal berada di Cincin Api Pasifik (Ring Of Fire) yaitu daerah tapal kuda sepanjang 40.000 km mengelilingi cekungan samudra Pasifik dimana daerah ini akan sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Tercatat sekitar sembilan puluh persen dari gempa bumi yang terjadi dan delapan puluh satu persen dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang jalur cincin api.

#BudayaSadarBencana harus dipahami betul oleh seluruh masyarakat, apalagi kabupaten Trenggalek tujuh puluh persen wilayahnya memiliki struktur pegunungan. Bencana tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir kerap kali mengancam daerah dengan sebutan "The Southern Paradise" ini.  Ancaman bencana gempa bumi pun bisa datang kapan saja tanpa bisa diprediksi waktu kejadiannya. Tiga kecamatan yakni Watulimo, Munjungan, dan Panggul yang berada tepat di pesisir pantai selatan Jawa, jelas kemungkinan besar terkena dampak gelombang tsunami. Sosialisasi mitigasi bencana tim Destana merupakan langkah positif dalam memberikan pengetahuan yang cukup tentang kebencanaan kepada masyarakat terutama di desa – desa pesisir. Selanjutya, kegiatan antisipasi bencana seperti ini bisa dilanjutkan secara berkala oleh Badan Penangglangan Bencana Daerah atau BPBD masing – masing kabupaten.

Nusantara telah memberi banyak manfaat terhadap semua makhluk hidup yang tinggal  di atas buminya. Dari Sabang sampai Merauke membentang alam subur, lautan luas dengan produktifitas perikanan, eksplorasi hasil tambang dari perut bumi yang seakan tidak ada habisnya. Namun dibalik itu semua, seluruh wilayah di Indonesia berpotensi terancam berbagai bencana. Menyikapi hal tersebut, perlu dilakukan edukasi kepada generasi milenial agar memiliki kepedulian tinggi pada alam sekitar.  Program pembelajaran di sekolah – sekolah seharusnya bisa memberikan informasi lengkap mengenai alam dengan berbagai potensi bencana. Kepedulian pada kehidupan alam bisa dimulai dengan hal sederhana misalnya dengan cara menggalakkan penanaman pohon mangrove di sekitar pantai, gerakan mengurangi penggunaan plastic,  membangun rumah anti gempa atau membuat jalur – jalur evakuasi bagi warga di lokasi terdampak bencana. Melalui website Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) https://bnpb.go.id/ masyarakat bisa dengan mudah mengakses informasi akurat mitigasi bencana. Upaya kongkrit tersebut sebagai wujud kita belajar berdamai dengan alam, berusaha menjaga kelestariannya dengan aksi terpuji, yakinlah alam akan menjaga kehidupan kita. #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #SalamTangguh #SiapUntukSelamat

Monday, July 15, 2019

SILATURRAHIM BONUS LIBURAN


kaboeline.com - Libur panjang sudah berlalu, saatnya Senin pagi ini harus kembali beraktifitas menyusuri jalan menanjak, berkelok - kelok khas daerah pegunungan kecamatan Dongko menuju sekolahku, SD Negeri 5 Cakul. Patut mengucap syukur karena mungkin baru kali ini benar – benar bisa menikmati hari libur dengan keluarga "SHLONGOPKU". Rencana kecil semenjak tahun lalu akhirnya Alloh wujudkan dengan berbagai kemudahan yang tak terduga. Kesempatan, kesehatan dan rezeki tak bisa dipungkiri semua karena kehendak-Nya. Aeya, anak semata wayangku ingin sekali tahu rumah saudaranya, tepatnya Paklik (bahasa Indonesia : “Om”) di Jakarta. Kawasan ibu kota negara yang menjadi dambaan semua orang untuk pergi kesana, setelah Mekkah tentunya..He..he..he…

Menabung dan berhemat adalah hal wajib yang harus kami lakukan untuk mewujudkan keinginan liburan dengan keluarga di tahun ini (biar lebih dramatis..hehehe). Kalau saya pribadi sudah beberapa kali kesana, bahkan pernah hampir tiga bulan tinggal di kota metropolitan Jakarta mengadu nasib mencari pekerjaan. Tapi bagi isteri dan anak saya merupakan pengalaman pertama kali merasakan macetnya ibu kota. Betapa senangnya hati mereka berdua berangkat menggunakan kereta api Majapahit jurusan Tulungagung – Jakarta. Biarpun masih kelas menengah tapi tak apalah yang penting kaki dan punggung bisa selonjor lumayan bebas. Rasa capek selama lima belas jam perjalanan melalui Yogjakarta, tak berasa karena sejauh mata memandang hanya perkampungan dan pegunungan yang asri. Akhirnya pukul sepuluh malam kereta yang kami tumpangi tiba di stasiun Jatinegara. Liburan kali ini tidak hanya sekedar untuk berlibur ke tempat wisata yang waaaaawwwww menurut perkiraan banyak orang…..Mungkin bisa dikatakan silaturrahim ke rumah saudara bonus ke tempat wisata, begitu dechhhhh...!!!. Alhamdulillah masih bisa diberi kesempatan, umur panjang untuk ketemu saudara - saudara lain yang sama - sama mengadu nasib di Jakarta. Dan terima kasih juga teman kami di Bekasi (Ny. Eni Nying) yang sudah bersedia mengundang kami untuk mampir. Tetap semangat ya..jangan lupa kalau tua hidup di kampung saja..Wkwkwkwk....

Pertama kali bertemu dan mengenal beliau paklik saya, tiga belas tahun lalu tepatnya di penghujung tahun 2006 kala itu usia saya menuju angka dua puluh. Disini tidak akan saya bahas mengenai awal kami bertemu dan kemudian menjadi lebih akrab, karena terlalu panjang ceritanya. Semakin saya percaya bahwa ternyata memang tidak ada salahnya merajut kembali tali silaturrahim yang pernah putus. Bertahun – tahun saya pernah menjadi budak kemarahan, hingga menganggap perbuatan satu orang saja membentuk keyakinan sama dalam memberikan penilaian kepada seseorang.  Pada kesempatan silaturrahim plus bonus liburan kami kali ini ada banyak pelajaran berharga yang bisa didapatkan dari beliau. Bagaimana cara beliau membentuk keluarga yang baik nan bahagia, bagaimana mendidik sikap dan perilaku anak – anak, bagaimana memperjuangkan sebuah karir hingga sampai pada titik puncak kesuksesan. dan masih banyak lagi hal - hal baik lagi yang bisa kami pelajari. Hanya ucapan terimakasih kepada paklik sekeluarga yang sudah memberi segalanya bagi kami sekeluarga. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang agar kita bisa dipertemukan lagi di lain kesempatan. Amin..

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pernah menjadi mimpi ketika masih sekolah di SD pada waktu itu. Bagaimana tidak Jakarta yang tergambar hanyalah milik orang - orang kaya, para pejabat negeri, kumpulan orang - orang pintar dan orang - orang ganteng serta cantik. Tempat tinggal artis - artis sinetron penghuni layar kaca televisi. Apalagi di jaman orde baru, lokasi wisata satu ini adalah primadona dan harapan bagi semua rakyat Indonesia. Seluruh kebudayaan se-Nusantara dibuatkan miniatur yang sedemikian rupa menariknya untuk wisata edukasi. Bahagianya ternyata mimpi itu kemudian diwujudkan dalam sebuah kesempatan tak terduga. Masihkah kita pungkiri  semua nikmat-Nya..???