Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Saturday, December 15, 2018

NASIB PASAR TRADISIONAL MEMASUKI ERA EKONOMI DIGITAL


kaboeline.com - Sepuluh tahun lalu pasar induk di kota tempat tinggal saya, masih menjadi primadona masyarakat kecil untuk berbelanja barang yang diinginkan. Di pasar tradisional ini banyak dijumpai bahan kebutuhan pokok, barang elektronik, bermacam - macam jenis pakaian,  sampai sayur dan buah-buahan. Pada moment tertentu seperti menjelang lebaran, tahun baru atau ketika tiba musim pendaftaran sekolah merupakan waktu yang paling ditunggu oleh pedagang pasar. Dengan harapan barang dagangan mereka akan laris diminati para pembeli musiman yang datang dari berbagai penjuru kabupaten. Sebenarnya ada banyak program pemerintah yang ditujukan kepada para pedagang pasar, misalnya dengan pemberian bantuan lunak melalui kredit usaha rakyat. Ternyata hal tersebut tak terlalu banyak menolong karena pada hari - hari biasa angka penjualan justru makin lesu.

Konsep pemerintah daerah mengubah pasar tradisional menjadi pasar modern dianggap menjadi solusi jitu dalam membantu para pedagang pasar. Namun sayang program tersebut hanya sebatas mengubah bentuk fisik pasar saja, tanpa dibarengi dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) para pelaku pasar misalnya dengan memberikan edukasi kepada pedagang setempat bagaimana memberikan pelayanan kepada konsumen serta memiliki mindset marketing yang baik. Diantaranya perlu menjaga kualitas barang dagangan, supaya masyarakat sebagai pembeli tidak kapok berbelanja barang ke pasar.

Membangun brand pasar tradisional menjadi pasar modern ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu penanganan serius dari pemerintah agar pedagang bisa banyak belajar bagaimana meningkatkan daya saing marketnya. Pendampingan yang dilakukan sekarang ini hanya terkesan sekedarnya saja, sehingga tak banyak mengubah kondisi pasar dari  sebelumnnya. Para pelaku pasar tetap belum mampu menjaga kualitas barang dagangan serta strategi pemasaran yang jitu, alhasil pasar tetap sepi.

 dengan perkembangan jaman dimana ditandai keberagaman kebutuhan dasar manusia, menuntut penjual barang dan jasa bisa lebih aktif meningkatkan pelayanan agar tetap bisa bertahan dari kompetitor lain. Apalagi pesatnya perkembangan teknologi sudah memberi banyak kontribusi nyata, memperlancar, dan mempercepat laju transaksi. Era ekonomi digital saat ini merupakan cara baru pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat perdagangan. Smartphone atau telepon pintar hadir menawarkan berbagai fitur – fitur menarik yang terintegrasi dengan layanan jasa dan jual beli barang online. Katakanlah Bukalapak, Blibli.com, Shoppie, Tokopedia, GO-JEK, Grab, Ruangguru, Dompetku adalah wajah - wajah penguasa ekonomi digital di Indonesia saat ini.  Tidak ada batasan mengenai tempat dan waktu, dimana segala bentuk penawaran, pembelian serta pembayaran bisa dilakukan secara digitasi. Kemudahan yang ditawarkan dapat menarik minat konsumen dalam jumlah besar, hal inilah menjadi faktor utama kenapa bisnis online cepat berkembang merajai pertumbuhan ekonomi negeri. Disisi lain, akibat pengaruh gaya hidup digital masyarakat belakangan ini, dinilai semakin memberikan banyak ruang kepada pelaku bisnis online mengeruk keuntungan besar.

Menurut catatan Bank Indonesia, pengguna internet Indonesia sudah mencapai angka 130 juta orang atau 50% dari jumlah penduduk di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 124 juta diantaranya merupakan pengguna internet aktif. Bersumber dari data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis Februari 2018, menunjukkan, 49,83% masyarakat menggunakan internet 1-3 jam dalam sehari. 29,63 persen masyarakat menggunakan internet 4-7 jam sehari. Dan sebanyak 26,48 persen menggunakan waktunya untuk berinternet lebih dari 7 jam dalam sehari. Sementara itu data menyebutkan proyeksi pertumbuhan pengguna internet rerata tahunan (CAGR) Indonesia adalah 19 persen untuk periode 2015-2020 dan merupakan yang tercepat di dunia. Bank Indonesia (BI) memproyeksi potensi transaksi ekonomi digital Indonesia diperkirakan sebesar US$ 150 miliar atau Rp 2064 triliun pada 2025 hal ini sejalan dengan hasil riset Mc Kinsey. Salah satu indikator besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia bisa kita lihat dari sektor e-commerce. Pemerintah berupaya mencanangkan target largest digital economy pada tahun 2020, terbesar di wilayah Asia Tenggara (sumber : https://kominfo.go.id/). Target utamanya adalah mampu mengangkat usaha kecil dan menengah memasuki lingkaran bisnis dunia.

Semakin sepinya pasar tradisional di beberapa daerah tentu membawa dampak kurang baik terhadap kondisi keuangan para pedagang atau pelaku pasar. Menurunnya omset penjualan tak sebanding dengan kewajiban mereka harus membayar kenaikan sewa lapak setiap tahunnya. Meluasnya era ekonomi digital harus bisa diimbangi para pelaku pasar di daerah dengan strategi marketing yang lebih dinamis. Penggunaan teknologi informasi mutlak dilakukan sebagai upaya promosi demi menjangkau konsumen lebih luas, melalui sosial media misalnya. Sudah menjadi kewajiban pemerintah berusaha membangun citra pasar tradisional yang terkesan kumuh, barang tidak berkualitas, pelayanan seadanya perlu dirancang menjadi pasar dengan brand kekinian. Peningkatan pelayanan secara profesional serta kualitas barang dagangan perlu mendapat perhatian khusus. Jadi tidak hanya usaha kecil dan menegah (UMKM) saja yang sering mendapat pelatihan - pelatihan atau pendampingan, tetapi juga pedagang - pedagang pasar berhak mendapatkan edukasi menyeluruh. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pasar akan terbuka kembali, tidak hanya menjadikan pasar sebagai sarana berbelanja barang dengan harga murah tetapi lebih menghargai pasar sebagai salah satu tempat rekreasi menarik. #Ecodigi