Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Saturday, December 15, 2018

NASIB PASAR TRADISIONAL MEMASUKI ERA EKONOMI DIGITAL


kaboeline.com - Sepuluh tahun lalu pasar induk di kota tempat tinggal saya, masih menjadi primadona masyarakat kecil untuk berbelanja barang yang diinginkan. Di pasar tradisional ini banyak dijumpai bahan kebutuhan pokok, barang elektronik, bermacam - macam jenis pakaian,  sampai sayur dan buah-buahan. Pada moment tertentu seperti menjelang lebaran, tahun baru atau ketika tiba musim pendaftaran sekolah merupakan waktu yang paling ditunggu oleh pedagang pasar. Dengan harapan barang dagangan mereka akan laris diminati para pembeli musiman yang datang dari berbagai penjuru kabupaten. Sebenarnya ada banyak program pemerintah yang ditujukan kepada para pedagang pasar, misalnya dengan pemberian bantuan lunak melalui kredit usaha rakyat. Ternyata hal tersebut tak terlalu banyak menolong karena pada hari - hari biasa angka penjualan justru makin lesu.

Konsep pemerintah daerah mengubah pasar tradisional menjadi pasar modern dianggap menjadi solusi jitu dalam membantu para pedagang pasar. Namun sayang program tersebut hanya sebatas mengubah bentuk fisik pasar saja, tanpa dibarengi dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) para pelaku pasar misalnya dengan memberikan edukasi kepada pedagang setempat bagaimana memberikan pelayanan kepada konsumen serta memiliki mindset marketing yang baik. Diantaranya perlu menjaga kualitas barang dagangan, supaya masyarakat sebagai pembeli tidak kapok berbelanja barang ke pasar.

Membangun brand pasar tradisional menjadi pasar modern ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu penanganan serius dari pemerintah agar pedagang bisa banyak belajar bagaimana meningkatkan daya saing marketnya. Pendampingan yang dilakukan sekarang ini hanya terkesan sekedarnya saja, sehingga tak banyak mengubah kondisi pasar dari  sebelumnnya. Para pelaku pasar tetap belum mampu menjaga kualitas barang dagangan serta strategi pemasaran yang jitu, alhasil pasar tetap sepi.

 dengan perkembangan jaman dimana ditandai keberagaman kebutuhan dasar manusia, menuntut penjual barang dan jasa bisa lebih aktif meningkatkan pelayanan agar tetap bisa bertahan dari kompetitor lain. Apalagi pesatnya perkembangan teknologi sudah memberi banyak kontribusi nyata, memperlancar, dan mempercepat laju transaksi. Era ekonomi digital saat ini merupakan cara baru pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat perdagangan. Smartphone atau telepon pintar hadir menawarkan berbagai fitur – fitur menarik yang terintegrasi dengan layanan jasa dan jual beli barang online. Katakanlah Bukalapak, Blibli.com, Shoppie, Tokopedia, GO-JEK, Grab, Ruangguru, Dompetku adalah wajah - wajah penguasa ekonomi digital di Indonesia saat ini.  Tidak ada batasan mengenai tempat dan waktu, dimana segala bentuk penawaran, pembelian serta pembayaran bisa dilakukan secara digitasi. Kemudahan yang ditawarkan dapat menarik minat konsumen dalam jumlah besar, hal inilah menjadi faktor utama kenapa bisnis online cepat berkembang merajai pertumbuhan ekonomi negeri. Disisi lain, akibat pengaruh gaya hidup digital masyarakat belakangan ini, dinilai semakin memberikan banyak ruang kepada pelaku bisnis online mengeruk keuntungan besar.

Menurut catatan Bank Indonesia, pengguna internet Indonesia sudah mencapai angka 130 juta orang atau 50% dari jumlah penduduk di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 124 juta diantaranya merupakan pengguna internet aktif. Bersumber dari data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis Februari 2018, menunjukkan, 49,83% masyarakat menggunakan internet 1-3 jam dalam sehari. 29,63 persen masyarakat menggunakan internet 4-7 jam sehari. Dan sebanyak 26,48 persen menggunakan waktunya untuk berinternet lebih dari 7 jam dalam sehari. Sementara itu data menyebutkan proyeksi pertumbuhan pengguna internet rerata tahunan (CAGR) Indonesia adalah 19 persen untuk periode 2015-2020 dan merupakan yang tercepat di dunia. Bank Indonesia (BI) memproyeksi potensi transaksi ekonomi digital Indonesia diperkirakan sebesar US$ 150 miliar atau Rp 2064 triliun pada 2025 hal ini sejalan dengan hasil riset Mc Kinsey. Salah satu indikator besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia bisa kita lihat dari sektor e-commerce. Pemerintah berupaya mencanangkan target largest digital economy pada tahun 2020, terbesar di wilayah Asia Tenggara (sumber : https://kominfo.go.id/). Target utamanya adalah mampu mengangkat usaha kecil dan menengah memasuki lingkaran bisnis dunia.

Semakin sepinya pasar tradisional di beberapa daerah tentu membawa dampak kurang baik terhadap kondisi keuangan para pedagang atau pelaku pasar. Menurunnya omset penjualan tak sebanding dengan kewajiban mereka harus membayar kenaikan sewa lapak setiap tahunnya. Meluasnya era ekonomi digital harus bisa diimbangi para pelaku pasar di daerah dengan strategi marketing yang lebih dinamis. Penggunaan teknologi informasi mutlak dilakukan sebagai upaya promosi demi menjangkau konsumen lebih luas, melalui sosial media misalnya. Sudah menjadi kewajiban pemerintah berusaha membangun citra pasar tradisional yang terkesan kumuh, barang tidak berkualitas, pelayanan seadanya perlu dirancang menjadi pasar dengan brand kekinian. Peningkatan pelayanan secara profesional serta kualitas barang dagangan perlu mendapat perhatian khusus. Jadi tidak hanya usaha kecil dan menegah (UMKM) saja yang sering mendapat pelatihan - pelatihan atau pendampingan, tetapi juga pedagang - pedagang pasar berhak mendapatkan edukasi menyeluruh. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pasar akan terbuka kembali, tidak hanya menjadikan pasar sebagai sarana berbelanja barang dengan harga murah tetapi lebih menghargai pasar sebagai salah satu tempat rekreasi menarik. #Ecodigi

Saturday, October 20, 2018

MENYENTUH PENDIDIKAN KELAS BAWAH MELALUI GERAKAN DESA BERLITERASI


kaboeline.com - Saya yakin pendidikan di Indonesia masih belum merata dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Masih ada diantaranya yang belum mendapatkan kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah apalagi menikmati pendidikan berkualitas. Di daerah kami sendiri yaitu kabupaten Trenggalek provinsi Jawa Timur, bisa dikatakan hampir enam puluh persen wilayahnya adalah pegunungan, tepatnya di pesisir selatan pulau Jawa. “Southern Paradise” sebutan untuk daerah kami yang memang kaya akan keindahan alam, masih belum diimbangi dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) warganya. Terbukti masih banyak warga dari beberapa titik kecamatan, merantau ke luar negeri menjadi Tenaka Kerja Indonesia (TKI) demi kelangsungan hidupnya. Itupun paling banyak hanya menjadi tenaga kasar seperti kuli bangunan, buruh pabrik, atau asisten rumah tangga. Eksodus warga – warga desa pinggiran berusia produktif dengan mencoba peruntungan nasib ke negeri orang tersebut, dikarenakan salah satu pemicunya adalah mendesakknya kebutuhan ekonomi. Kebanyakan setelah lulus dari sekolah dasar (SD) atau setingkat sekolah menengah pertama (SMP) kalau tidak menikah (untuk perempuan), ya harus bisa mencari uang (duit) seperti teman – teman mereka yang telah sukses lebih dulu.

Tidak dipungkiri, kondisi alam di daerah kami, secara tidak langsung mempengaruhi mobilitas anak – anak dalam mengejar fasilitas pendidikan. Tidak ada pilihan lain kecuali dengan mendaftar di lembaga sekolah terdekat karena biaya yang masih bisa ditolelir. Dan ini merupakan cara paling jitu untuk mengurangi ongkos setiap harinya. Bagi mereka yang tinggal di wilayah perkotaan mungkin bisa saja dengan mudah memilih sekolah yang memiliki sarana dan prasarana lengkap. Sehingga sekolah dengan model seperti ini,bisa meciptakan sistem belajar mengajar berkualitas sesuai standar pendidikan yang dikonsep pemerintah. Hal tersebut berbanding terbalik bagi mereka yang sehari-harinya tinggal di daerah pinggiran atau pegunungan. Dimana untuk akses jalan menuju sekolah saja harus susah payah dilewati dengan jarak tempuh yang tidak dekat. Belum lagi sekolah – sekolah dengan label “sekolah ndeso” secara kualitas tentu akan memiliki beberapa perbedaan yang kentara dengan sekolah di kota.

Di kecamatan terdekat dengan pusat kabupaten saja, masih banyak ditemui anak – anak lulusan setingkat SMP, kemudian tidak meneruskan. Alasan mereka karena biaya yang harus dikeluarkan untuk menuju sekolah lanjutan di kota terlalu memberatkan. Penghasilan dari pekerjaan orang tua berladang atau buruh ttani, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Jadi pilihan mereka selanjutnya bukan melanjutkan pendidikan, tetapi lebih berharap segera mendapat pekerjaan. Fakta di lapangan ditemukan bukan hanya karena faktor biaya saja penyebabnya, akan tetapi kurangnya edukasi dan pengetahuan menjadi salah satu penyebab orang tua di desa – desa pinggiran kurang memperhatikan kepentingan pendidikan anak – anaknya. Ibaratnya, belum tentu dengan berbekal pendidikan tinggi akan menjamin mendapat pekerjaan layak. Mindset seperti ini masih menjadi momok besar bagi gerak pemerintah untuk mencapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs)  dimana salah satu dari 17 (tujuh belas) item yang harus dicapai adalah pendidikan yang berkualitas. Bagaimana target tersebut akan terpenuhi jika kesadaran untuk menjadi manusia berpendidikan saja belum dilakukan sepenuh hati.

Permasalahan pendidikan yang belum dirasakan semua kalangan seperti ini tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Akan tetapi dukungan dari pelbagai pihak sangat dibutuhkan untuk proses pembentukan pola pikir mengenai pentingnya pendidikan. Gerakan pemuda desa melalui karang taruna sudah seharusnya mulai menyentuh program – program pemberdayaan masyarakat. Untuk program pengembangan pendidikan masyarakat, salah satunya dengan membentuk gerakan literasi di desa - desa. Walaupun belum semua pemerintah desa (pemdes) tertarik dengan program pemberdayaan semacam ini, tetapi saya yakin kegiatan serta pendekatan melalui program – program perpustakaan desa akan membawa dampak signifikan bagi warga sekitar, terutama warga di desa – desa pinggiran. Edukasi yang berkelanjutan melalui pendekatan kepada orang tua  akan membantu mengubah paradigma bahwa pendidikan sangat penting perannya di era revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini.

Mengubah pola pikir masyarakat apatis terhadap pendidikan seperti ini, memang harus melalui proses tahapan yang panjang. Menjadi titik perhatian pertama adalah peningkatan kondisi ekonomi keluarga terlebih dahulu. Pemerintah desa memiliki peran untuk melakukan pemberdayaan kepada warga – warga yang dianggap “kurang mampu”, misalnya dengan memberikan stimulan berupa modal usaha kecil. Nantinya hasil dari usaha tersebut difasilitasi pemerintah desa untuk dibantu dalam hal pemasaran. Memang akan terlihat sulit dan ribet, tetapi jika tidak pernah ada gerakan perubahan maka selamanya juga akan tetap jalan di tempat dan rakyat akan tetap miskin.

Apabila secara ekonomi dari masing – masing keluarga tersebut sudah terpenuhi, usaha untuk mengubah cara pandang tentang kebutuhan pendidikan akan lebih mudah. Pengembangan wawasan tentang pentingnya berpendidikan bisa dilakukan dengan membangun perpustakaan desa atau rumah baca. Dari tempat inilah, kemudian kemampuan dan kemauan warga desa untuk membaca menulis bisa dikembangkan. Dengan pengetahuan yang cukup di dapat dari beberapa pendampingan, sosialisasi tentang betapa  pentingnya pendidikan, mindset para orang tua akan lebih terbuka. Anak – anak usia sekolah ataupun pemuda desa bisa memanfaatkan perpustakaan desa untuk belajar, berkumpul dan mengaktualisasikan bakat mereka. 

Gerakan literasi dari desa semacam ini tidak akan berjalan maksimal  jika hanya dibebankan kepada satu pihaksaja. Harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah desa, organisasi kepemudaan, lembaga – lembaga terkait yang konsen dengan literasi perlu diajak untuk dudukberdialog bersama. Memecahkan permasalahan pendidikan di negeri ini yang semakin rumit. Lan Pritchett, seorang profesor dari Universitas Havard yang telah melakukan penelitian di Indonesia mengatakan bahwa Indonesia butuh 128 tahun untuk bisa sejajar dengan rata – rata negara berkembang dan maju dalam sistem pendidikan(sumber : www.ruangguru.com). Salah satu penyebabnya adalah kualitas guru serta akses belajar siswa masih belum dirasa maksimal. Untuk itu sudah saatnya perlu ada semacam gerakan dari relawan serta pemuda desa yang memiliki perhatian serius terhadap pendidikan. Melalui desa berliterasi, bisa dikatakan sebagai tempat belajar alternatif di luar pendidikan formal di sekolah yang tak semua orang bisa merasakannya secara penuh. Memfasilitasi mereka untuk memperoleh kemudahan akses informasi, wawasan dan pegetahuan. Sehingga mimpi mendapatkan pendidikan yang berkualitas bisa dimulai dari gerakan literasi desa.

Melalui sidang umum Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) yang berlangsung 25 September di New York Amerika Serikat telah menetapkan Agenda Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs sebagai kesepakatan global. Di laman http://www.filantropi.or.id/ menginformasikan bahwa Sustainable Development Goals (SDGs)  berisi 17 tujuan, salah satunya adalah mengatur tata cara dan prosedur masyarakat yang damai tanpa kekerasan , nondiskriminasi, partisipasi, tata pemerintahan yang terbuka serta kerja sama kemitraan multi pihak. Salah satunya adalah Filantropi Indonesia, yang merupakan lembaga mandiri dibentuk dengan tujuan untuk berkontribusi dalam pencapaian keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan di negeri ini, salah satunya adalah menuju pendidikan berkualitas. #FIFest2018 #FilantropiIndonesia #VideoCompetition

(Dok foto-foto :  perpustakaan Desa Buluagung Kecamatan Karangan, desa dengan terobosan luar biasa di kegiatan LITERASI )


Tuesday, August 14, 2018

Keluarga, Upaya Mempertahankan Karakter Budaya di Era Kekinian


kaboeline.com - Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2010, lebih dari 1300 suku bangsa tersebar di seluruh nusantara, dan melahirkan berbagai adat istiadat serta kebudayaan dengan ciri khasnya masing – masing. Dari sekian banyak suku bangsa yang ada, setidaknya 41 % lebih penduduk di negara Indonesia merupakan etnis Jawa. Suku bangsa terbesar, yang tinggal di beberapa provinsi seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta. Selain hampir menyebar ke seluruh nusantara, etnis Jawa begitu sangat dikenal di negara Suriname dan Afrika Selatan. Sebagai orang yang berasal dari suku Jawa memang tidak mudah untuk berusaha mempertahankan budaya Jawa di era kekinian. Perkembangan teknologi dunia yang begitu pesatnya harus diakui telah membawa budaya – budaya merk impor masuk tanpa sekat. Mudahnya mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia melalui kecanggihan Smartphone membuat seseorang bisa belajar banyak dengan hanya berdiam diri di rumah. Generasi muda kemudian menganggap budaya baru lebih sesuai dengan gaya hidup mereka dan menganggap budayanya yang asli terasa kuno alias ketinggalan jaman.

Dalam kehidupan sehari – hari, budaya Jawa memang sangat mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian . Budaya orang – orang Jawa juga sangat menjunjung tinggi kesopanan serta kesederhanaan dalam bersikap. Keramahan, sabar, tepo seliro (bahasa Indonesia : tenggang rasa), gotong royong, merupakan ciri khas suku yang banyak menciptakan hasil budaya luar biasa. Sebut saja seperti keris, batik sampai seni wayang kulit yang namanya terkenal sampai ke kancah dunia . Saya merasa sangat bangga sebagai orang yang terlahir dari suku Jawa. Mulai dari kecil saya telah dididik dan diajarkan untuk selalu menerapkan perilaku sesuai dengan norma – norma adat istiadat Jawa. Dan akhirnya saya sadar bahwa ternyata pola – pola perilaku yang terbentuk tersebut sangat dibutuhkan di dalam berinteraksi sosial di era kekinian. Dan ketika saya sudah memiliki keluarga kecil sendiri, saya juga tetap menerapkan dan mengajarkan kepada anak saya untuk tetap memegang pentingnya dalam bertata krama.

Lembaga pendidikan formal atau sekolah sering kali disebut – sebut sebagai tempat untuk membentuk karakter dan pola perilaku seseorang. Tidak bisa dipungkiri waktu atau jam pembelajaran di sekolah yang sangat terbatas, proses pembentukan belum berjalan maksimal, untuk itu sangat diperlukan sinergi yang baik antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Seperti yang ditulis di artikel https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4752 bahwa sumber kekuatan dunia pendidikan dan kebudayaan adalah orang tua, guru di sekolah, serta peran serta masyarakat dalam memberikan lingkungan yang baik.

Membangun Karakter Dari Lingkungan Keluarga
Dalam tradisi keluarga di suku Jawa ada yang dikenal dengan istilah toto kromo (tata krama) dimana ada sebuah aturan yang tidak bisa ditoleransi. Aturan ini telah mengakar dalam tradisi yang mengatur segala tindak tanduk, tingkah laku antara seseorang dengan orang lainnya. 

Mulai dari cara berbicara atau berbahasa, di dalam sastra Jawa ada beberapa tingkatan bahasa yaitu bahasa Ngoko, bahasa Krama Madya, dan bahasa Krama Alus. Sedikit gambaran bahasa Ngoko biasanya digunakan kepada seseorang dengan derajat atau tingkatan di bawah kita misalnya adik atau orang dengan usia lebih muda dari kita. Bahasa Krama Madya digunakan untuk seseorang derajat sama misalkan dengan teman kerja, teman dengan usia sama. Sedangkat yang lebih tinggi tingkatannya adalah menggunakan Krama Inggil dimana bahasa ini biasanya digunakan untuk orang yang memiliki derajat atau usia lebih tinggi dari kita. Atau orang yang kita hormati seperti kakak, orang tua, guru dan lain lain.
 
Selain dalam berbahasa, masyarakat Jawa juga dikenal memiliki aturan tersendiri dalam menjaga etika dan sopan santun kepada siapapun terutama kepada orang yang lebih tua secara usia. Kita terbiasa merundukkan badan ketika berjalan di depan orang tua atau mencium tangan ketika bersalaman, merupakan wujud penghormatan serta menjaga tata krama. Sikap tersebut sebagai gambaran bahwa menghormati kepada orang yang lebih dituakan merupakan suatu keharusan sesuai dengan adat istiadat dan budaya Jawa.

Untuk itu, lingkungan keluarga yang merupakan tempat pertama kali seseorang mengenal tentang aturan dan norma, maka sebagai orang tua haruslah mampu memberikan edukasi dan contoh yang baik kepada anggota keluarga. Menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam percakapan sehari – hari, sangatlah penting sebagai bentuk apreasi terhadap hasil budaya luhur berupa bahasa. Bukan berarti mengesampingkan bahasa Indonesia yang telah ditetapkan sebagai bahasa nasional. Akan tetapi mendalami dan memaknai setiap bahasa daerah yang digunakan, akan membetuk karakter seseorang lebih baik, supaya tidak lepas kendali mengikuti arus budaya luar yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa. Masing – masing keluarga Indonesia seharusnya mampu menjadi pusat belajar anggota keluarga untuk tetap mengenali dan menjadi diri sendiri. 

Seringkali kesibukan pekerjaan telah menghambat proses pembentukan karakter ini, karena antara orang tua dan anak jarang sekali untuk saling berkomunikasi, belajar bersama, dan berdiskusi. Akibatnya proses pembentukan tersebut tidak berjalan baik, banyak anak – anak muda yang tidak memiliki sopan santun dengan orang yang dituakan. Mereka cenderung apatis untuk mau belajar budayanya yang terkesan ribet, terlalu banyak aturan dan kolot. Inilah yang kemudian membuat seseorang kehilangan identitas dirinya atau istilah Jawa “ilang Jowone”.

Bersahabat Dengan Teknologi
Laju perkembangan teknologi telah membawa kita di era kekinian atau bahasa kerennya disebut “jaman now”.  Dimana seseorang sangat dekat dengan berbagai produk – produk terbarukan dalam hal informasi dan komunikasi. Media sosial (medsos) telah merubah pola interaksi sosial masyarakat. Dari yang manual ke era digital, dari yang kita bisa ngobrol, diskusi, bertatap muka langsung, sekarang sudah bisa dilakukan hanya dengan mengetik di laman komentar atau dengan fitur chatting. 

Media sosial telah memberi peluang besar kepada anak – anak  untuk menjelajah mengenal dunia, tak terkecuali budaya bangsa lain. Keasyikan berselancar di dunia maya telah membuat sebagian besar dari mereka  berpeluang untuk menjadi pribadi yang tertutup, cuek dan sulit untuk berbaur dengan lingkungan masyarakat. Isu – isu dan konten negatif media sosial memperparah pola pikir penggunanya sehingga mereka cenderung egois, baper, suka membully dan memperbesar kesalahpahaman akan informasi (hoax). Hilangnya karakter budaya bangsa ditandai dengan tidak adanya etika dalam berkomentar, tidak ada lagi tata krama dan sopan santun dalam menyikapi setiap informasi yang masuk. Dan sebenarnya inilah yang disebut dengan situasi generasi yang kebabalasan.

Budaya atau adat istadat suku bangsa sendiri yang di dalamnya terdapat nilai pendidikan yang baik terkadang dipandang tidak perlu di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Kita harus mulai memahami bahwa kita adalah bangsa Indonesia yang memilki kepribadian dan karakter sendiri. Selain dibekali pendidikan agama, pendidikan karakter tersebut seharusnya sudah mulai dibangun dari lingkungan keluarga. Orang tua yaitu ayah dan ibu harus memberikan keteladanan dalam hal bersikap dan berperilaku. Keluarga yang membiasakan diri dengan pendekatakan – pendekatan emosional yang baik akan membentuk anggota keluarga terutama anak – anaknya menjadi pribadi baik pula. 

Kemajuan teknologi tidak perlu untuk dihindari kehadirannya, yang terpenting adalah bagaimana sebuah keluarga mampu merespon dengan cepat. Memberikan berbagai pemahaman dan edukasi tentang teknologi di era kekinian yang sebenarnya memiliki manfaat lebih besar. Anak – anak boleh saja bersentuhan langsung dengan teknologi asalkan mereka tahu bahwa hal tersebut bukan merupakan satu – satunya kebutuhan. Teknologi hanyalah salah satu alat untuk memudahkan kita berinteraksi sosial, berkomunikasi, akses informasi serta edukasi asalkan kita bisa lebih bijak dalam penggunaannya. #sahabatkeluarga


Monday, July 30, 2018

Cerita Jakarta

kaboeline.com - Berada di tempat ini adalah suatu proses belajar bagi anak kampung dengan banyak mimpi seperti saya. Alloh SWT telah menunjukkan jalannya bagi siapapun yang mau berusaha walau di tengah keterbasan. Road To Madrasah Young Reseacher (MYRES) Supercamp 2018 Bogor, 29 – 1 Agustus 2018.

Radio seakan telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya yang dengan begitu banyak cerita seru dan menarik. Hampir sembilan tahun menekuni dunia kepenyiaran yang dianggap sepele oleh sebagian besar orang, ternyata justru membawa hoki . Dua kali sudah saya bisa mendarat di tanah Jakarta, kota impian bagi siapapun. Semuanya tak lepas dari hal – hal yang berbau radio. Pada tahun 2012 yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk belajar menulis berita radio di salah satu radio swasta dengan jaringan terbesar di Indonesia yaitu Radio Berita KBR Jakarta. Bertemu dengan orang – orang dari seluruh provinsi di Indonesia memberikan banyak ilmu, pengalaman dan kenangan yang luar biasa. 

Hingga kemudian radio memberi kesempatan kepada saya untuk bisa balik lagi ke Jakarta dengan gratis di lomba karya tulis ilmiah yang diadakan Dirjen Pendis Kementerian Agama. Tetapi kali ini bedanya hanya mendampingi salah satu peserta dari madrasah tempat mengajar saya dahulu yang mengikuti camp kegiatan ini.

Dalam kegiatan semacam ini yang begitu mengesankan adalah ketika bertemu dengan banyak pendamping yang semuanya berprofesi seorang pendidik dari berbagai madrasah – madrasah lain se-Indonesia. Banyak pengalaman, ilmu dan motivasi yang saya dapatkan dari cerita – cerita seru mereka mengenai madrasahnya. Ditambah mentor – mentor dalam kegiatan ini sangat berkompeten di bidangnya masing – masing.




Kami sadar bahwa tak mudah untuk memenangkan kompetisi sebesar ini di tengah keterbatasan dalam banyak hal. Tapi segalanya tak lantas membuat harus menyerah atau berhenti sampai di titik ini. Do’a dan semangat yang tiada henti akan membuat kami semakin kuat. Kami bisa juara....!!!

Sunday, July 15, 2018

"Gerakan Bersih Kali", Aksi Nyata Anak Muda Kekinian

kaboeline.com - Minggu, 15 Juli 2018 beberapa warga dan aktifis yang tergabung dalam "GERAKAN BERSIH KALI" melakukan aksi nyata dengan membersihkan sungai dari sampah di desa Margomulyo kecamatan Watulimo. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan akan kebersihan dan ekosistem sungai yang terancam akibat ulah masyarakat yang belum sadar untuk membuang sampah pada tempah yang semestinya. 

Pemerintah desa setempat berpesan kepada masyarakat agar segera meninggalkan kebiasaan buruk selama bertahun-tahun membuang sampah sembarangan. Kepala desa juga berpesan kegiatan ini kalau bisa jangan cuma musiman. Syukur bisa diadakan Jum'at bersih sebagai kegiatan rutinan. 

Gerakan positif tersebut dimotori oleh komunitas Jaringan Aksi Masyarakat Untuk Budaya dan Ekologi (JAMBE) adalah aksi lanjutan untuk membersihkan sungai dari pencemaran akibat pembuangan limbah dari tempat pengolahan ikan laut (Pemindangan) yang ada di sekitarnya. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya sampah yang menutup aliran sungai.

Aksi bersih sampah serentak ini juga diikuti berbagai komunitas anak muda lainnya seperti QLC, CNBB, ORARI, NIPONK, MATSANEWA, GUPILI (Gubuk Pinggir Kali) juga bersinergi dengan DINAS PKPLH serta melibatkan Pemerintah Desa setempat. Meskipun berasal dari daerah luar kabupaten, hal tersebut tak menyurutkan semangat aktivis Sahabat Alam Blitar meskipun untuk turut berpartisipasi bergabung dalam aksi solidaritas ini.

Sangat baik jika aksi ini menjadi contoh bagi anak - anak muda di kabupaten Trenggalek dalam menjaga lingkungan sekitar. Berani tidak membuang sampah sembarangan harus dimulai dari diri sendiri. Apalagi kebersihan sungai wajib dijaga demi kelangsungan hidup ekosistem yang ada di sungai. Dan seperti mimpi - mimpi warga di kabupaten ini untuk menunjukkan Trenggalek layak disebut "Southern Paradise".














Monday, April 2, 2018

Spot Keren ala Pasput Trenggalek

kaboeline.com - Pesona pasir putih kabupaten Trenggalek memang selalu menjadi daya tarik bagi siapapun. Apalagi beberapa fasilitas pendukung lainnya sudah dilengkapi. Seperti banana boad dan donnut boat sudah bisa dicoba disana dengan ongkos yang lumayan terjangkau. Menurut saya hanya pasir putihlah yang patut menjadi ukuran untuk tempat - tempat wisata di Trenggalek lainnya. 


Karena bertepatan dengan libur panjang akhir pekan, antrean panjang bus dan kendaraan pribadi ber plat luar kota memadati area parkir. Itu membuktikan kalau kabupaten Trenggalek menjadi daya tarik tersendiri karena memiliki banyak tempat - tempat berlibur yang murah dan yang pasti instagramable alias cocok untuk berselfie.

Seumur - umur baru kali ini kami sekeluarga mencoba fasilitas wisata perahu, walaupun sudah beberapa kali pernah mengunjungi pantai elok di kecamatan Watulimo ini. Dan ternyata wahana ini sangat seru, dengan ongkos hanya sepuluh ribu per orang kita sudah bisa berkeliling ke beberapa spot unik yang sayang kalau tidak diabadikan dengan kamera. Mulai dari jembatan asmara, watu bentis, watu manuk dan jembatan luna maya terlihat semakin sempurna dari jarak dekat. Saya yang orang asli Trenggalek saja, baru tahu kalau jembatan panjang dari kayu itu diresmiskan langsung artis ibu kota Luna Maya. Tempat ini sering pula digunakan untuk foto pre wedd dan pernah untuk setting shooting sinetron beberapa waktu lalu. Menurut si pemandu wisata perahu ini, ternyata masih banyak spot - spot lain yang lebih keren seperti pantai mutiara dan rumah apung. 

Pantai dengan pasir putih dan pepohonan rindang di sepanjang garis pantai membuat semua pengunjung akan betah berlama - lama disini. Bermain air, atau snorkeling juga bisa dilakukan ketika anda beruntung menemui air laut sesang surut. Karena tempat ini memiliki area bebatuan karang yang dihuni banyak jenis ikan laut.

Yang membuat kami beruntung waktu itu, di daerah Watulimo sedang musim - musimnya panen durian. Jadi selagi anda berkunjung ke Trenggalek, nggak ada salahnya mampi ke lapak - lapak buah durian, manggis atau buah duku yang bisa anda temui di sepanjang jalan menuju kesana. Atau oleh oleh ikan bakar khas Prigi bisa anda nikmati dengan harga murah.




Sunday, March 25, 2018

TARIAN “KELAS” FESTIVAL MEMUKAU PENONTON FASHION SHOW MTsN 1 TRENGGALEK


kaboeline.com - Sabtu, 24 Maret 2018, halaman MTsN 1 Trenggalek mendadak heboh. seribu lebih penonton yang terdiri dari siswa - siswi memadati sejak pagi. Sekali dalam sejarah, puluhan busana dan maskot hasil kreasi siswa – siswi madrasah ditampilkan dengan berbagai tema kekayaan budaya Indonesia. Selain itu penampil terbaik tarian dan cipta lagu mata pelajaran seni budaya juga ditampilkan pada acara ini. Yang cukup menghebohkan, tari Nusantara kreasi kelas IXG berhasil memukau penonton dengan kecantikan koreografinya.

Proses pembuatan busana maskotnya pun membutuhkan waktu yang cukup lama yakni satu semester lebih. Hasil kerja keras masing – masing kelas terbayar lunas hari ini. Walaupun mungkin hanya beberapa yang mendapatkan piagam penghargaan dengan nilai terbaik.

Plt Kementerian Agama Trenggalek, Bapak Mustofa Al-Khamdani yang hadir pada saat itu sangat mengapresiasi kreatifitas anak – anak MTsN 1 Trenggalek.

“Saya sangat kagum dan berharap kegiatan yang mungkin cuma ada di MTsN 1 Trenggalek ini akan menjadi agenda tahunan, Madrasah Hebat, Madrasah Bermatabat” , kata beliau  menutup sambutannya.


Menurut kepala madrasah Bapak Agung  Wiyoto mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya mendorong anak – anak untuk berkreatifitas dan mencintai ragam kebudayaan negerinya sendiri.


Tiap tahun sebenarnya kegiatan seperti ini selalu dilakukan, hanya saja untuk tahun ini sangat berbeda. Ada tarian dan cipta lagu terbaik siswa – siswi MTsN 1 Trenggalek juga turut ditampilkan. Selain itu peserta yang mengikuti  juga bertambah banyak.

Sekolah plat merah yang berada di Barat TMP Karangsoko  ini memang selalu memiliki terobosan dalam menggali kreatifitas siswa. Selain memiliki nilai lebih dalam hal agama, siswa – siswi didorong untuk menuangkan ide – idenya tidak hanya dalam hal fashion tetapi juga bidang yang lain, musik, olahraga, maupun keterampilan memasak. Bravo Matsanemoga......!!











Wednesday, March 14, 2018

Nggalek, Gudang Durian Brow..!!

kaboeline.com - Siapa sih orang yang nggak suka dengan buah yang satu ini. Rasanya yang legit, aroma buah yang wangi akan menggugah selera setiap penikmatnya. Dan sekarang di Trenggalek sedang musim - musimnya buah durian. Kecamatan Watulimo, Kampak, Dongko dan Munjungan adalah lumbungnya durian, yang kabarnya memiliki kualitas dan rasa yang berbeda - beda.

Meluncur ke kawasan kecamatan Watulimo, anda bisa langsung menuju desa Sawahan. Di lahan seluas kurang lebih 650 hektar, beberapa jenis durian bisa tumbuh subur di area ini. Bahkan kebun durian di desa Sawahan ini sudah diresmikan oleh bupati Trenggalek, bapak Emil Dardak sejak  tahun 2016 yang lalu. Ada nggak di antara kalian, yang mengaku warga Trenggalek tetapi belum pernah berkunjung kesana?

Dan yang membanggakan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan telah mencanangkan hutan durian internasional  atau Internasional Durio Forestry. Mentan menyebutkan,  Trenggalek merupakan kabupaten terkaya di Indonesia dalam sektor pertanian. Namun, dia menilai cara penjualan dan kreativitas olahan hasil pertanian maupun perkebunan masih kurang.

“Kalau aku bilang, kabupaten terkaya berada di sini di Trenggalek, namun yang mahal adalah inovasinya. Potensi pertanian semua tersedia disini. Tinggal bagaimana petani bisa mengolah, mengemas sehingga menjadi produk yang mempunyai harga jual tinggi," ujarnya. (dikutip dari http://nationalgeographic.co.id/)


Makanya jangan heran kalau lagi musimnya seperti ini, nggak perlu susah untuk mendapatkan buah "mahal" ini. Disepanjang jalan anda akan menemui banyak penjual berbagai jenis durian dengan harga yang cocok alias sebanding dengan rasa buah duriannya. Selain di desa Sawahan, masih di kecamatan yang sama, anda juga bisa menuju desa Karanggandu arah menuju pantai Damas. Disini anda juga mudah mendapatkan berbagai jenis durian dan bisa membeli langsung ke petaninya. Bisa jadi anda akan mendapat bonus makan di tempat. "Gimana, penasaran kan?"