Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Thursday, December 28, 2017

Telusuri Hutan, Sawah dan Sungai, Liburan Sederhana Jadi Wow

kaboeline.com - Pagi - pagi sekali kendaraan bak terbuka alis pick up yang saya tumpangi bersama ibu - ibu yang mau berjualan ke pasar melaju kencang menembus udara dingin nan berkabut. Ada saja obrolan dari mereka yang terlontar membuat seisi penumpang tertawa. Sekitar setengah jam akhirnya sampai juga di desa Siki kecamatan Dongko. Dan untuk pertama kalinya rasa penasaran dengan desa ini terwujud. Jangan heran karena pagi ini aku ikut si emak berjualan sayur ke pasar tradisional Siki. Setelah selesai menggelar dagangan di sebelah ujung pasar, kami berharap saja akan banyak pembeli. Hanya sekitar dua jam kami berdagang, maklumlah pasar di desa Siki ini termasuk pasar dadakan, berbeda kalau menjelang hari raya atau musim panen, pembeli akan lebih ramai dan royal membelanjakan uangnya.

Walau tak sempat berlibur ke tempat - tempat wisata seperti yang lain, bukan berarti harus berdiam diri di rumah. Sebelum matahari mulai meninggi, kami sudah bersiap dengan bekal sederhana tapi lengkap. Ada pisang goreng, kerupuk, dan buah anggur. Dan petualangan dimulai dari sini. 

Berjalan menyusuri jalan setapak di bawah pohon - pohon pinus yang tinggi menjulang. Tujuan kami adalah ke ladang milik Bapak yang sudah lama tidak digarap. Katanya dulu sempat ditanami berbagai tanaman penghasil, tetapi karena sekarang tenaganya sudah tidak memungkinkan, jadi sekarang tinggal semak belukar. Walau lokasinya lumayan jauh, tetapi kami sama sekali tidak merasakan capek. Bonus sungai dengan berbagai jenis bebatuan, aliran air yang jernih jadi tempat paling menarik untuk ber selfie. Siapa yang tahu kalau tempat secantik itu cuma ada di dekat rumah kampung Dongko.

Banyak kami jumpai tumbuhan langka dan bunga - bunga liar khas pegunungan yang menambah liburan sederhana ini jadi lebih wow. Bukannya tak ingin ke tempat wisata biasanya seperti Konang atau Pelang. Kami hanya ingin waktu bersama keluarga lebih terasa dengan berpetualang seperti ini. Maklumnya jiwa pecinta alam tumbuh kembali. Selain irit biaya..hehehhehe.....kesannya juga lebih berbeda. 

Sampai di lokasi tujuan, apalagi yang dilakukan kalau tidak makan bersama bekal yang telah kami bawa dari rumah. Tak ketinggalan mengambil gambar untuk diabadikan. Dan memang bahagia itu sederhana, sesederhana seperti yang kami lakukan saat ini....













Wednesday, December 20, 2017

Munjungan, Tak Hanya Rengkek - rengkek dan Sego Thiwul

Munjungan, 18 Desember 2017....
kaboeline.com - Kalau bercerita tentangmu mungkin tak hanya sekedar rengkek – rengkek yang cukup fenomenal bagi sebagian besar masyarakat Trenggalek. Bahkan kalau bukan orang asli Munjungan mungkin masih  merasa ragu – ragu untuk menjajal tanjakan jalan ini.  Tanjakan ini konon sudah memakan banyak korban jiwa, karena si pengendara tak terlalu paham dan menganggap enteng kondisi jalan. Atau sederetan cerita tentang berkembangnya ilmu hitam “santet atau tenung” yang begitu melegenda dari daerah ini. Kecamatan di pesisir selatan kabupaten Trenggalek ini memang manyimpan banyak cerita, yang akan membuat anda lebih penasaran.

Empat belas tahun yang lalu sekiranya saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di salah satu kecamatan yang terkenal penghasil buah durian ini. Bukan ketakutan atau horor yang saya rasakan tetapi justru kecantikan alam yang ditawarkan dari tempat ini memang memikat hati. Mulai dari keindahan dan kekayaan pantai, sampai keberadaan hutan yang masih perawan semuanya ada. Kedua, keramahan masyarakat merupakan salah satu daya tarik yang kemudian selalu menjadi ciri khas penduduk “ndeso” atau “nggunung”. Untuk itulah kenapa selama tiga hari tiga malam sangat menikmati berada di Munjungan. Rumah mas Sulih yang berada di timur pertigaan Masaran menjadi tempat menginap saya dan mas Beni, teman dari Trenggalek . Setiap setelah subuh, kami selalu jalan – jalan ke pantai teluk Sumbreng yang ternyata sekarang lebih dikenal dengan nama pantai Blado.

Bak gayung bersambut, saya sangat antusias sekali ketika kemudian di penghujung tahun 2017 ini, beberapa teman memiliki ide untuk liburan ke Munjungan. Tak hanya sekedar membayangkan untuk bernostalgia dengan suasana, kabar teman lama dan cerita seru tentang musik. Supaya lebih berkesan kami pun punya cara sendiri, salah satunya adalah naik kendaraan terbuka. Seumur – umur memang sangat jarang bepergian menggunakan kendaraan semacam itu, kalaupun tak mau dikatakan rombongan “kambing”.

Dan ternyata benar, sepanjang perjalanan ada saja candaan dan cerita lucu selalu keluar dari pembicaraan kami. Jadi susahnya medan jalan yang ditempuh tak membuat kita takut seperti yang dialami orang - orang yang pernah kesana. Apalagi pemandangan indah puncak gunung Manikoro dan udara sejuk desa Ngadimulyo sayang kalau dilewatkan begitu saja. Mengambil gambar alias berfoto wajib dilakukan walau dari atas kendaraan pick up yang sedang melaju.

Keseruan tak berhenti sampai disitu, di pantai Blado teman – teman yang dari Munjungan sudah menunggu kedatangan rombongan kami. Tak tanggung – tanggung acara dolan – dolan yang digagas mbah Jo ini berjalan meriah. Musik elektone dan jamuan kuliner khas Munjungan ludes kami santap. Hehehehe....wajarlah kami memang rombongan orang gemuk sehat yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Pantai Blado yang semakin dipercantik bisa mengobati kejenuhan selama kami selalu disibukkan dengan aktifitas bekerja. Terutama bagi saya sendiri, mulai merasakan kembali dunia saya yang telah lama hilang dua tahun belakangan. Petualangan tak biasa ini, menuliskan cerita baru yang membiaskan banyak arti tentang kehidupan. Ada banyak pelajaran berharga bisa diambil dari indahnya sebuah kebersamaan, tempat atau teman baru, dan kearifan lokal masyarakat di sana, masyarakat Munjungan.


Terima kasih tiada terkira kepada teman – teman terutama dari MTsN Munjungan atas semuanya, yang mungkin sangat sulit untuk kami membalasnya . Semoga tali silaturrahim ini tetap terjaga sampai kapanpun, diberikan umur panjang, rezeki dan waktu luang yang melimpah, agar kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Amin.....Dan kami akan selalu merindukan Munjungan....






.