Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Monday, October 23, 2017

Bendungan, Petualangan Seru Akhir Pekan

kaboeline.com - Rencana yang sudah beberapa Minggu cuma ada di angan – angan akhirnya terwujud juga. Hari libur  Minggu kali ini siap untuk mengexplore apa saja yang ada di kecamatan paling dekat dengan pusat kabupaten Trenggalek, orang – orang mengenalnya Bendungan. Apalagi cuaca cerah sangat mendukung untuk seharian mencari – cari apa saja keunikan di sana.

Banyak yang sudah mengenal Bendungan dengan makanan khasnya yaitu nasi gegok atau daerahnya merupakan penghasil susu sapi perah. Tapi tak salah jika meluangkan waktu libur ke tempat ini karena Bendungan sekarang mulai berbenah.


Setelah mencari menu sarapan di warung nasi pecel gunung jaas pagi itu, kami bertiga, saya, isteri dan anak langsung meluncur melalui jalur barat yaitu desa Ngares. Ternyata lebih asik naik sepeda motor, hehehe..maklum lah bro kalau mobil belum punya alias masih di showroom. Pemandangan yang indah nan hijau pepohonan pinus menjadi obat rasa capek yang mulai terasa ketika baru sampai di desa Surenlor. Harus tetap semangat, karena sudah tujuh tahun lebih tak pernah tahu kabar wajah Bendungan terkini.

Tujuan pertama adalah Agrowisata Dillem Wilis. Memasuki tempat wisata baru Trenggalek ini, anda akan disambut bangunan gerbang besar dengan desain unik khas Belanda. Di bagian agrowisata ini anda bisa mengunjungi bekas gudang pabrik kopi pada masa kolonial Belanda. Walau sudah berlalu 16 tahun, tapi masih jelas teringan kenangan mengikuti kegiatan diklat pecinta alam jaman SMA.

Saat pak Emil mulai menjabat sebagai Bupati,  tempat ini disulap menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Udara yang sejuk dan gemericik air dari sungai yang masih alami, bisa menghilangkan kepenatan akibat rutinitas sehari – hari pekerjaan anda. Coba saja untuk menikmati indahnya air terjun coban rambat. Dan untuk menambah keindahan tempat ini, bapak Camat setempat beserta masyarakat mulai bergerak untuk bergotong royong membangun taman baru. Namun sayang akses jalan untuk kesana tidak terlalu lebar dan masih dijumpai kerusakan di beberapa titik.

Setelah puas berfoto, perjalanan kami lanjutkan ke hutan pinus. Oksigen yang melimpah membuat anda sedikit lupa dengan udara kota yang tercemar polusi. Anda bisa berlama – lama disini untuk istirahat sejenak atau tentunya berburu gambar.

Tak terasa waktu sudah tengah hari, untuk mencari sensasi berbeda kami mencoba untuk melalui jalur alternatif yaitu melalui desa Depok  - Dawuhan – Trenggalek. Dan lagi – lagi banyak ditemui jalan yang rusak.

Walaupun sempat salah jalur, akhirnya kami menemukan titip pertemuan antara jalus ke Bendungan, Trenggalek dan menuju kalau terus ke Timur menuju Tulungagung. Masyarakat menamainya Tumpak Ndolo. Berada di dekat permukiman relokasi korban longsor, di tempat ini anda bisa melihat pemandangan yang super keren kabupaten Trenggalek dari ketinggian. Gunung Linggo yang ada di Suruh, Gunung sepikul di Watulimo dan tentunya wilayah kota dengan jelas terlihat dari puncak Ndolo ini. Tak berhenti sampai disitu explore Bendungan kali ini, untuk pulang melalui jalur timur butuh perjuangan berat melewati medan jalan berkelok – kelok dengan turunan tajam. Jalan yang sudah mulai rusak, memaksa anda harus ekstra hati – hati dan tetap konsentrasi. Kalau nggak berlebihan bisa disebut dengan kelok sewu. Hahahaha..


Perjalanan seharian yang cukup melelahkan ini tak bisa membuat kapok untuk kembali lagi. Coban rambat akan selalu kami tunggu dengan wajah barunya. Bendungan sangat cantik untuk dinikmati, mulai dari keindahan alam, kuliner, sampai keramahan warganya.







Saturday, October 21, 2017

Andy Laksono, Kisah Sukses Anak Desa

kaboeline.com - Saya mengenal Andy Laksono karena kita sekolah di SD yang sama, di Sekolah Dasar Negeri 2 Sumberingin, sekolah yang sangat amat saya cintai, karena banyak memberikan kenangan manis di sana. 

Mas Andy ini adalah adik kelas, empat tingkat di bawah saya. Dari dulu orangnya punya postur tubuh besar dan memiliki kepribadian sangat pendiam. Selebihnya kita sering berkumpul, bermain bersama saat belajar mengaji di TPQ dekat rumah atau menonton rame – rame acara anak – anak di TV milik tetangga. Power Ranger, Ksatria Baja Hitam adalah deretan serial film kesukaan kami. Maklum lah kami ini anak ndeso...

Ketika lulus SMA, semakin jarang saya mengetahui aktifitas mas Andy sehari – hari. Pada suatu hari ada teman geng saya cerita banyak tentang mas Andy ini, perihal kesuksesannya meniti karir di Jakarta. Alhamdulillah, beberapa tahun yang lalu pertemanan saya melalui media sosial facebook juga diterima. Saking tertariknya dengan kisah mas Andy ini, kemudian muncul ide untuk menulisnya di blog saya. Siapa tahu bisa menjadi sumber inspirasi bagi yang membaca. Bak gayung bersambut, senang sekali rasanyasaya mendapat ijin dari si mas brow yang pernah belajar di SMK 1 Trenggalek ini untuk mengulik – ulik kisahnya.

Untuk saat ini, mas Andy tengah menekuni profesi yang sangat menjajikan di ibukota, bidang fashion stylish. Yang membanggakan lagi, artis sekelas Soimah, Dewi Persik, Lilin Herlina, Via Vallen dan beberapa artis papan atas lainnya sudah mempercayakan penampilan mereka kepada tangan dingin mas Andy. Prestasi yang luar biasa jika dilihat dari kacamata saya, karena untuk mencapai titik itu semua, bukan perkara yang gampang. Yang pasti bukan hanya karena faktor keberuntungan saja, tetapi juga karya yang dihasilkan.

Awal cerita, setelah lulus dari salah satu sekolah kejuruan negeri di Trenggalek, mas Andy mendapat pekerjaan sebagai karyawan salah satu bank swasta di Tulungagung. Dan tepatnya di awal tahun 2011 adalah titik awal perjuangan, dengan tekat bulat untuk merubah nasib dia memulai petualangannya.

Berbekal uang saku seratus lima puluh ribu rupiah pinjaman dari tetangga, pria yang juga mulai menekuni bidang tarik suara ini, berangkat ke Jakarta menuju rumah salah satu kenalannya. Sama sekali belum terlintas dibenaknya, bagaimana keras kehidupan di Jakarta. Dan benar saja, sapai beberapa bulan tinggal disana belum juga mendapatkan pekerjaan, padahal sudah beberapa kali mengajukan lamaran ke berbagai perusahaan. Pengalaman tak mengenakkan pernah dirasakan yaitu ketika pernah terkena tipu perusahaan bodong. Sudah membayar beberapa uang, tetapi tak mendapatkan ganti pekerjaan.

Tak merasa putus asa, apalagi malu jika harus pulang kampung dengan tangan hampa, mas Andy mencoba untuk terus tetap bertahan di ibukota. Kehendak Tuhan,  Alloh SWT akhirnya berkata lain, mas Andy di ketemukan dengan seseorang yang kemudian menjadi sahabat baik bahkan dianggapnya menjadi saudara sendiri. Berkat bantuannya mas Andy mulai kenal dengan pekerjaan baru, yang menurut intuisi  adalah passionnya.

"Saya rasa ini bakat alami saja mas, mengalir gitu aja..", tegas dia saat menceritakan sederet kisahnya memulai karir.

Tidak memiliki pengalaman kerja di bidang fashion ataupun pendidikan formal, saya menghilangkan rasa malu untuk terus belajar walaupun saya anak desa yang tak tahu apa - apa dan memulainya dari titik nol. Berteman dengan orang - orang yang positif memberikan banyak pengalaman untuk terus mengembangkan kreatifitas. Tak tanggung - tanggung banyak stasiun televisi swasta nasional sudah pernah menjalin kerjasama dengan mas Andy di beberapa acara. Untuk memuluskan karirnya, mas Andy juga mulai menekuni dunia menyanyi dan belajar menjalankan  management artis.

“Saya memulai karir dengan perjuangan sendiri, jadi saya yakin semuanya berkat do’a orang tua mas, terutama ibu”, terangnya.

Bisa dikatakan tak ada waktu untuk bersantai – santai bagi mas Andy. Schedule yang padat membuatnya harus disiplin menjaga kesehatan karena harus sering pulang pergi untuk tour luar kota. Walau sudah mendapatkan kesuksesan, tak lantas membuat pria lajang penyuka nasi goreng ini jemawa. Jika ada waktu luang, pasti kesempatan tersebut digunakan sebaik - baiknya untuk pulang kampung menemui kedua orang tuanya di dusun Sugihan, Sumberingin sekitar dua kilometer dari pusat kabupaten. Beruntung sekarang ini, sering ada event di Trenggalek yang melibatkannya.

"Yang saya kangenin dengan Trenggalek, pasti terutama orang tua, teman - teman,dan sahabat yang ada di kampung. Saya juga selalu merindukan suasana pasar Pon mas, karena sedikit banyak ada kenangan bantu - bantu ibu berdagang disana" jawabnya sambil tertawa.

Dengan apa yang sudah dicapai, mas Andy merasa masih belum merasa puas walaupun disisi lain tetap bersyukur dengan pekerjaan yang sudah mendatangkan banyak cerita bahagia. Masih harus banyak belajar lagi, tidak sombong dan satu pelajaran yang saya dapat dari mas Andy bahwa kerja keras tanpa melupakan do'a orang tua adalah kuncinya. Terima kasih mas Andy, maaf yang tak terhingga karena saya sering menggangu wwktu istirahat ditengah kesibukan sampean yang luar biasa. Semoga bisa ketemu langsung untuk berbagi crita yang lebih seru.Amin





Wednesday, October 18, 2017

Ada Apa di "EMBUNG TAMBONG" PULE?

kaboeline.com - Baru – baru ini komunitas dari elemen masyarakat yang tergabung di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Pule berhasil membuat terobosan dengan mengembangkan Wana Wisata “EMBUNG TAMBONG”. Mereka memanfaatkan lahan dari perhutani untuk disulap menjadi tempat bermanfaat khusunya bagi warga sekitar. 

Berada di wilayah desa Pule Kecamatan Pule tempat wisata baru ini menawarkan pemandangan khas pegunungan. Anda juga bisa memanfaatkan spot waduk air buatan, taman bunga, dan rumah pohon untuk sekedar foto bersama dengan keluarga atau teman. 

Akses menuju kesana juga tidak terlalu sulit, berjarak kurang lebih 20 km anda tinggal memilih jalur Trenggalek – Dongko, dan sampai dipertigaan kecamatan Suruh silahkan ambil jalur belok kanan menuju kecamatan Pule. Kondisi jalan yang lumayan bagus tidak akan mengganggu perjalanan anda untuk sampai ke tempat ujuan sekitar empat puluh lima menitan.

Mendapat dukungan dari pemerintah setempat, relawan komunitas ini sudah menggelar beberapa acara yang melibatkan banyak orang seperti senam pagi dan lomba memancing. Tujuannya agar mereka mau peduli dengan menjaga lingkungan sekitar. Selain untuk menjaga alam tetap lestari, manfaatnya akan bisa dirasakan langsung yaitu sebagai tempat rekreasi yang murah.











“Untuk sekarang karena terbentur masalah dana, kondisinya masih seperti ini mas, semoga sekitar awal tahun depan bisa menambah fasilitas – fasilitas pendukung seperti tempat bermain anak - anak, outbond dan fliying fox supaya masyarakat lebih tertarik untuk datang kesini”, jelas Bu Wiwin salah seorang relawan yang cukup getol dan semangat di komunitas tersebut.

“Selain itu sebenarnya ada rencana mau bikin kampung kopi khas Pule mas, tapi kita kerjakan dulu satu - satu. Sering mas kita dianggap gila karena punya ide - ide yang terlalu tinggi”, tambahnya sambil tertawa.

Kecamatan Pule memang salah satu kecamatan yang masih belum begitu familiar dalam hal destinasi wisata. Baru beberapa tahun terakhir ini, ada gerakan dari masyarakat untuk mau mengidupkan potensi – potensi yang ada disana. Berbeda dengan kecamatan Panggul atau Watulimo yang cukup dikenal masyarakat dengan beberapa wisata pantainya yang cukup menawan. Udara yang sejuk daerah pegunungan, Wana Wisata EMBUNG TAMBONG bisa menjadi alternatif anda dan keluarga untuk menghabiskan akhir pekan. 







Sunday, October 1, 2017

Nasi Tepo Bikin Kepo

kaboeline.com - Berbicara soal makanan atau kuliner yang bercita rasa tradisional alias ndeso, Dongko adalah tempatnya. Selama hampir 8 tahun saya sering bolak – balik kesini ketika mudik, pasti ada menu baru dan unik yang saya temui. 

Masyarakat disana sudah familiar dan biasa menyebut makanan sederhana ini dengan nama "NASI TEPO". Cara memasaknya cukup mudah, pertama - tama nasi karon dibungkus dengan daun pisang kemudian dimasak sampai matang. Cara penyajiannya cukup ditambah dengan sayur lodeh tempe tahu. Kalau lauknya bisa pilih sendiri ya!! Hehehehe..

Menurut cerita beberapa orang konon, nasi tepo ini biasanya digunakan sebagai bekal masyarakat Dongko yang sedang bepergian ke ladang atau ke pasar. Karena jarak yang cukup jauh dan harus berjalan kaki, nasi tepo ini bisa sebagai penghilang lapar. Karena cara memasaknya yang berbeda nasi tepo ini juga tidak cepat basi. Ukurannya tidak terlalu besar dan rasanya mirip dengan nasi gegok, mungkin karena daerah Dongko dan Bendungan juga sama - sama daerah pegunungan. Bedanya pada kedua makanan ini ada pada sayur pelengkapnya saja dan rasanya tidak terlalu pedas. 

Mungkin nasi gegok boleh terkenal sekarang ini, tapi setidaknya nasi tepo ini cukup hits di daerah kecamatan Dongko. Bahkan pada acara - acara resmi di kecamatan, seperti Grebeg Suro kemarin, nasi tepo menjadi bagian yang tak boleh ditinggalkan. Pada acara tersebut selain benih - benih tanaman, nasi tepo juga menjadi rebutan warga yang hadir. Dan akhirnya rasa penasaran saya dengan makanan ini terbayar sudah, enam bungkus nasi tepo siang itu berhasil mengobati perut lapar.