Tuesday, September 5, 2017

Tayub, Kabarmu Kini

kaboeline.com - Setiap sekelompok masyarakat memiliki beberapa perbedaan budaya, antara lain karena dipegaruhi faktor geografis atau keberadaan wilayahnya semisal mereka yang tinggal di daerah pinggiran akan memiliki rasa kebersamaan, gotong royong yang kuat dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan dengan kesibukan masing-masing sehingga membentuk karakter seseorang lebih tertup dan individual. Daerah kabupaten Trenggalek yang sebagian besar berada di lereng pegunungan kemudian terbentuk karakter budaya unik dan mungkin tidak ditemukan di daerah lain, seperti kebiasaan “sonjo”yaitu berkunjung atau mengunjungi tetangga sekedar untuk ngobrol atau bersenda gurau.

      Trenggalek “Southern Paradise” menjadi jargon andalan pada masa kepemimpinan bupati Emil Dardak saat ini. Hal ini adalah gambaran betapa Trenggalek adalah tempat sangat indah bak di surga, nyaman untuk bertempat tinggal. Alasannya selain masih belum banyak polusi maupun rendahnya tingkat kejahatan, daerah Trenggalek memiliki udara yang sejuk, ditambah keberadaan tempat-tempat wisata alami seperti pantai, air terjun atau hutan kotanya. Kita tak perlu jauh-jauh untuk ke luar kota ketiku libur akhir pekan. Masyarakat yang sangat ramah kepada siapapun akan membuat anda betah berlama - lama disini. Budaya dan tradisi dari nenek moyang masih dipegang kuat dan kemudian melahirkan beberapa hasil budaya seperti dibidang seni ada jaranan turonggo yakso dan tayub.
       "Tayub" kesenian yang mengakar dari suku Jawa ini ternyata masih bisa dijumpai dengan mudah di tanah keahiranku, TRenggalek. Berada persis di pesisir selatan Pulau Jawa, kemudian menjadikan kesenian Tayub ini sebagai media hiburan satu-satunya. Tayub sendiri merupakan penggambaran dari bentuk suka cita seseorang karena sedang mendapat banyak rezeki dari yang Maha Kuasa, itulah seperti yang dikatakan oleh mertua saya yang juga seorang pengrawit yaitu sekelompok orang yang memainkan alat musik/ gamelan mengiringi para sinden tayub bernyanyi atau nembang Jawa.

       Di daerah Trenggalek sendiri biasanya Tayub hanya ditampilkan di acara hajatan atau perayaan lainnya. Tidak semua kalangan mau dan mampu menyewa kelompok kesenian ini, selain karena masih adanya stigma negatif dari kelompok tertentu, biaya untuk mengundang juga lumayan besar. Menurut pandangan beberapa orang tayub hanya sekedar hura-hura, sinden yang main mata, atau minuman keras. Walaupun sangat disayangkan tetapi inilah realitas yang ada di sekitar kita, yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat diluar penilaian dari sisi seninya.

       Sekarang yang mengkhawatirkan bagaimana jika kesenian ini kemudian tidak mau membuka diri, melakukan perubahan dalam hal pengemasan tanpa meninggalkan ciri khasnya. Seperti jaranan yang sudah bertransformasi menjadi kesenian yang bisa masuk ke semua kalangan dari keals bawah sampai kelas atas. Dengan mengurangi beberapa kesan mistiknya yang sudah jadul, jaranan Turonggo Yakso bisa menembus ke pertunjukan panggung besar. Dan seharusnya terobosan-terobosan juga harus dilakukan pada kesenian tayub ini. Supaya generasi muda tidak menganggap tayub hanya kesenian untuk orang tua, kesenian jadul yang ketinggalan jaman. Tidak malukan jika gamelan, atau kesenian - kesenian tradisional lainnya yang merupakan ciptaan nenek moyang kita, harus orang lain yang nguri-nguri. Tidak malukan kalau orang belanda bisa main gamelan, orang Jepang bisa nembang Jawa dengan fasih, orang Australia bisa bahasa Jawa dengan medhoknya....Dimana kalian generasi penerus, mana peranmu?????


1 comment: