Thursday, June 8, 2017

Penebar Inspirasi

kaboeline.com - Saya mengenal beliau saat sama-sama sedang kuliah di salah satu kampus agama lokal Trenggalek. Saya mengenalnya dengan nama pak Mujtahid, asalnya dari kecamatan Kampak. Sikapnya yang ramah dan bijaksana, bapak dua anak ini selalu mengayomi semua teman-teman mahasiswa dan boleh dikatakan menjadi sesepuh kelas pada waktu itu.Berstatus sebagai tenaga pegajar aktif di salah satu SMP ISLAM swasta di kecamatan Kampak, pak Tahid tak segan berbagi ilmu dengan siapapun tak terkecuali dengan anak-anak muda.

Hehe...Selain ahli menjahit pakaian, pengalamannya dalam bidang keorganisasian tak bisa dianggap remeh. Dari tahun 2000 misalnya mulai menjadi ketua ranting Ansor desa Senden, tahun 2009 menjadi ketua Ansor PAC Kampak merangkap PC Ansor Trenggalek Lingkungan Hidup, dan sampai sekarang juga masih aktif menjadi ketua BPD desa Senden. Loyalitasnya kepada Nahdlatul Ulama' (NU) sangat terlihat ketika disambut dengan tulisan khas warna hijau, tepat di depan rumah. Anda pasti akan selalu disambut ramah kalau berkenan mampir ke kediamannya di RT 04 RW 02 Dusun Tenggar Desa Senden Kecamatan Kampak.

Walaupun disibukkan dengan kegiatan mengajar di sekolah setiap dan diniyah di pondok pesantren setiap hari, tak menghalangi bapak kelahiran 51 tahun yang lalu tersebut melakukan kegiatan sosial yang hasilnya bermanfaat dan bisa dirasakan langsung masyarakat. Dalam gerakan pelestarian alam dan menjaga lingkungan hidup, pak Tahid berhasil mengajak warga sekitar untuk menanam pohon sengon. Selain untuk menjaga alam sekitar supaya tetap lestari gerakan ini juga bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat. Hal ini dilakukan karena pak Tahid menjadi ketua PC Ansor Trenggalek bidang Lingkungan Hidup. Dari kegiatan yang kecil, tapi hasilnya bisa dirasakan besar.

Tidak sampai disitu berkat upaya yang dilakuakn beliau berhasil menjalin kerja sama dengan Radio Andika Kediri dalam program "10.000 (SEPULUH RIBU) Al-Qur'an". Setiap bulan Ramadhan, pak Tahid dan kawan-kawan dengan rela hati ikut mendistribusikan Al-Qur'an ke beberapa titik di kecamatan Kampak. Bahkan pada tahun 2016, tepatnya Ramadhan tahun lalu, ada 170an Al-Qur'an yang diwaqafkan ke lebih dari 25 Masjid dan Mushola. Dan untuk Ramadhan tahun  ini ternyata masih dipercaya untuk mewaqafkan Al-Qur'an sampai ke pinggiran seperti desa Ngadimulyo dan Mbuluroto. 

"Tak harus menunggu kaya  untuk bisa membantu orang lain, tetapi tenaga pun bisa bermanfaat asal dilakukan dengan ikhlas untuk beribadah", jawab pak Tahid penuh semangat.

Kegiatan semacam ini seharusnya menjadi pelajaran bagi anak-anak muda sekarang. Tak hanya pandai teriak-teriak menyampaikan ide dan argumentasi, tapi juga harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Tindakan yang mampu merubah bangsa ini menjadi lebih baik, menjadi bangsa yang berkarakter. Dan terima kasih pak Tahid hadiah yang pernah panjengan berikan ke saya beberapa waktu yang lalu. Mungkin panjengan tahu kalau saya  mengaku Islam tapi jarang membaca kitabnya. Hehehehe.........Tapi insyalloh saya akan belajar sedikit demi sedikit dan kurang 5 juz lagi, karena saya selalu ingat kata-kata panjenengan waktu di kampus sederhana dulu ketikacurhat empat mata" BELAJARLAH JANGAN MALU, DARI PADA TIDAK SAMA SEKALI, tak ada kata t erlambat"...Terima kasih inspirasinya....











0 comments:

Post a Comment