Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Thursday, December 28, 2017

Telusuri Hutan, Sawah dan Sungai, Liburan Sederhana Jadi Wow

kaboeline.com - Pagi - pagi sekali kendaraan bak terbuka alis pick up yang saya tumpangi bersama ibu - ibu yang mau berjualan ke pasar melaju kencang menembus udara dingin nan berkabut. Ada saja obrolan dari mereka yang terlontar membuat seisi penumpang tertawa. Sekitar setengah jam akhirnya sampai juga di desa Siki kecamatan Dongko. Dan untuk pertama kalinya rasa penasaran dengan desa ini terwujud. Jangan heran karena pagi ini aku ikut si emak berjualan sayur ke pasar tradisional Siki. Setelah selesai menggelar dagangan di sebelah ujung pasar, kami berharap saja akan banyak pembeli. Hanya sekitar dua jam kami berdagang, maklumlah pasar di desa Siki ini termasuk pasar dadakan, berbeda kalau menjelang hari raya atau musim panen, pembeli akan lebih ramai dan royal membelanjakan uangnya.

Walau tak sempat berlibur ke tempat - tempat wisata seperti yang lain, bukan berarti harus berdiam diri di rumah. Sebelum matahari mulai meninggi, kami sudah bersiap dengan bekal sederhana tapi lengkap. Ada pisang goreng, kerupuk, dan buah anggur. Dan petualangan dimulai dari sini. 

Berjalan menyusuri jalan setapak di bawah pohon - pohon pinus yang tinggi menjulang. Tujuan kami adalah ke ladang milik Bapak yang sudah lama tidak digarap. Katanya dulu sempat ditanami berbagai tanaman penghasil, tetapi karena sekarang tenaganya sudah tidak memungkinkan, jadi sekarang tinggal semak belukar. Walau lokasinya lumayan jauh, tetapi kami sama sekali tidak merasakan capek. Bonus sungai dengan berbagai jenis bebatuan, aliran air yang jernih jadi tempat paling menarik untuk ber selfie. Siapa yang tahu kalau tempat secantik itu cuma ada di dekat rumah kampung Dongko.

Banyak kami jumpai tumbuhan langka dan bunga - bunga liar khas pegunungan yang menambah liburan sederhana ini jadi lebih wow. Bukannya tak ingin ke tempat wisata biasanya seperti Konang atau Pelang. Kami hanya ingin waktu bersama keluarga lebih terasa dengan berpetualang seperti ini. Maklumnya jiwa pecinta alam tumbuh kembali. Selain irit biaya..hehehhehe.....kesannya juga lebih berbeda. 

Sampai di lokasi tujuan, apalagi yang dilakukan kalau tidak makan bersama bekal yang telah kami bawa dari rumah. Tak ketinggalan mengambil gambar untuk diabadikan. Dan memang bahagia itu sederhana, sesederhana seperti yang kami lakukan saat ini....













Wednesday, December 20, 2017

Munjungan, Tak Hanya Rengkek - rengkek dan Sego Thiwul

Munjungan, 18 Desember 2017....
kaboeline.com - Kalau bercerita tentangmu mungkin tak hanya sekedar rengkek – rengkek yang cukup fenomenal bagi sebagian besar masyarakat Trenggalek. Bahkan kalau bukan orang asli Munjungan mungkin masih  merasa ragu – ragu untuk menjajal tanjakan jalan ini.  Tanjakan ini konon sudah memakan banyak korban jiwa, karena si pengendara tak terlalu paham dan menganggap enteng kondisi jalan. Atau sederetan cerita tentang berkembangnya ilmu hitam “santet atau tenung” yang begitu melegenda dari daerah ini. Kecamatan di pesisir selatan kabupaten Trenggalek ini memang manyimpan banyak cerita, yang akan membuat anda lebih penasaran.

Empat belas tahun yang lalu sekiranya saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di salah satu kecamatan yang terkenal penghasil buah durian ini. Bukan ketakutan atau horor yang saya rasakan tetapi justru kecantikan alam yang ditawarkan dari tempat ini memang memikat hati. Mulai dari keindahan dan kekayaan pantai, sampai keberadaan hutan yang masih perawan semuanya ada. Kedua, keramahan masyarakat merupakan salah satu daya tarik yang kemudian selalu menjadi ciri khas penduduk “ndeso” atau “nggunung”. Untuk itulah kenapa selama tiga hari tiga malam sangat menikmati berada di Munjungan. Rumah mas Sulih yang berada di timur pertigaan Masaran menjadi tempat menginap saya dan mas Beni, teman dari Trenggalek . Setiap setelah subuh, kami selalu jalan – jalan ke pantai teluk Sumbreng yang ternyata sekarang lebih dikenal dengan nama pantai Blado.

Bak gayung bersambut, saya sangat antusias sekali ketika kemudian di penghujung tahun 2017 ini, beberapa teman memiliki ide untuk liburan ke Munjungan. Tak hanya sekedar membayangkan untuk bernostalgia dengan suasana, kabar teman lama dan cerita seru tentang musik. Supaya lebih berkesan kami pun punya cara sendiri, salah satunya adalah naik kendaraan terbuka. Seumur – umur memang sangat jarang bepergian menggunakan kendaraan semacam itu, kalaupun tak mau dikatakan rombongan “kambing”.

Dan ternyata benar, sepanjang perjalanan ada saja candaan dan cerita lucu selalu keluar dari pembicaraan kami. Jadi susahnya medan jalan yang ditempuh tak membuat kita takut seperti yang dialami orang - orang yang pernah kesana. Apalagi pemandangan indah puncak gunung Manikoro dan udara sejuk desa Ngadimulyo sayang kalau dilewatkan begitu saja. Mengambil gambar alias berfoto wajib dilakukan walau dari atas kendaraan pick up yang sedang melaju.

Keseruan tak berhenti sampai disitu, di pantai Blado teman – teman yang dari Munjungan sudah menunggu kedatangan rombongan kami. Tak tanggung – tanggung acara dolan – dolan yang digagas mbah Jo ini berjalan meriah. Musik elektone dan jamuan kuliner khas Munjungan ludes kami santap. Hehehehe....wajarlah kami memang rombongan orang gemuk sehat yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Pantai Blado yang semakin dipercantik bisa mengobati kejenuhan selama kami selalu disibukkan dengan aktifitas bekerja. Terutama bagi saya sendiri, mulai merasakan kembali dunia saya yang telah lama hilang dua tahun belakangan. Petualangan tak biasa ini, menuliskan cerita baru yang membiaskan banyak arti tentang kehidupan. Ada banyak pelajaran berharga bisa diambil dari indahnya sebuah kebersamaan, tempat atau teman baru, dan kearifan lokal masyarakat di sana, masyarakat Munjungan.


Terima kasih tiada terkira kepada teman – teman terutama dari MTsN Munjungan atas semuanya, yang mungkin sangat sulit untuk kami membalasnya . Semoga tali silaturrahim ini tetap terjaga sampai kapanpun, diberikan umur panjang, rezeki dan waktu luang yang melimpah, agar kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Amin.....Dan kami akan selalu merindukan Munjungan....






.

Monday, October 23, 2017

Bendungan, Petualangan Seru Akhir Pekan

kaboeline.com - Rencana yang sudah beberapa Minggu cuma ada di angan – angan akhirnya terwujud juga. Hari libur  Minggu kali ini siap untuk mengexplore apa saja yang ada di kecamatan paling dekat dengan pusat kabupaten Trenggalek, orang – orang mengenalnya Bendungan. Apalagi cuaca cerah sangat mendukung untuk seharian mencari – cari apa saja keunikan di sana.

Banyak yang sudah mengenal Bendungan dengan makanan khasnya yaitu nasi gegok atau daerahnya merupakan penghasil susu sapi perah. Tapi tak salah jika meluangkan waktu libur ke tempat ini karena Bendungan sekarang mulai berbenah.


Setelah mencari menu sarapan di warung nasi pecel gunung jaas pagi itu, kami bertiga, saya, isteri dan anak langsung meluncur melalui jalur barat yaitu desa Ngares. Ternyata lebih asik naik sepeda motor, hehehe..maklum lah bro kalau mobil belum punya alias masih di showroom. Pemandangan yang indah nan hijau pepohonan pinus menjadi obat rasa capek yang mulai terasa ketika baru sampai di desa Surenlor. Harus tetap semangat, karena sudah tujuh tahun lebih tak pernah tahu kabar wajah Bendungan terkini.

Tujuan pertama adalah Agrowisata Dillem Wilis. Memasuki tempat wisata baru Trenggalek ini, anda akan disambut bangunan gerbang besar dengan desain unik khas Belanda. Di bagian agrowisata ini anda bisa mengunjungi bekas gudang pabrik kopi pada masa kolonial Belanda. Walau sudah berlalu 16 tahun, tapi masih jelas teringan kenangan mengikuti kegiatan diklat pecinta alam jaman SMA.

Saat pak Emil mulai menjabat sebagai Bupati,  tempat ini disulap menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Udara yang sejuk dan gemericik air dari sungai yang masih alami, bisa menghilangkan kepenatan akibat rutinitas sehari – hari pekerjaan anda. Coba saja untuk menikmati indahnya air terjun coban rambat. Dan untuk menambah keindahan tempat ini, bapak Camat setempat beserta masyarakat mulai bergerak untuk bergotong royong membangun taman baru. Namun sayang akses jalan untuk kesana tidak terlalu lebar dan masih dijumpai kerusakan di beberapa titik.

Setelah puas berfoto, perjalanan kami lanjutkan ke hutan pinus. Oksigen yang melimpah membuat anda sedikit lupa dengan udara kota yang tercemar polusi. Anda bisa berlama – lama disini untuk istirahat sejenak atau tentunya berburu gambar.

Tak terasa waktu sudah tengah hari, untuk mencari sensasi berbeda kami mencoba untuk melalui jalur alternatif yaitu melalui desa Depok  - Dawuhan – Trenggalek. Dan lagi – lagi banyak ditemui jalan yang rusak.

Walaupun sempat salah jalur, akhirnya kami menemukan titip pertemuan antara jalus ke Bendungan, Trenggalek dan menuju kalau terus ke Timur menuju Tulungagung. Masyarakat menamainya Tumpak Ndolo. Berada di dekat permukiman relokasi korban longsor, di tempat ini anda bisa melihat pemandangan yang super keren kabupaten Trenggalek dari ketinggian. Gunung Linggo yang ada di Suruh, Gunung sepikul di Watulimo dan tentunya wilayah kota dengan jelas terlihat dari puncak Ndolo ini. Tak berhenti sampai disitu explore Bendungan kali ini, untuk pulang melalui jalur timur butuh perjuangan berat melewati medan jalan berkelok – kelok dengan turunan tajam. Jalan yang sudah mulai rusak, memaksa anda harus ekstra hati – hati dan tetap konsentrasi. Kalau nggak berlebihan bisa disebut dengan kelok sewu. Hahahaha..


Perjalanan seharian yang cukup melelahkan ini tak bisa membuat kapok untuk kembali lagi. Coban rambat akan selalu kami tunggu dengan wajah barunya. Bendungan sangat cantik untuk dinikmati, mulai dari keindahan alam, kuliner, sampai keramahan warganya.







Saturday, October 21, 2017

Andy Laksono, Kisah Sukses Anak Desa

kaboeline.com - Saya mengenal Andy Laksono karena kita sekolah di SD yang sama, di Sekolah Dasar Negeri 2 Sumberingin, sekolah yang sangat amat saya cintai, karena banyak memberikan kenangan manis di sana. 

Mas Andy ini adalah adik kelas, empat tingkat di bawah saya. Dari dulu orangnya punya postur tubuh besar dan memiliki kepribadian sangat pendiam. Selebihnya kita sering berkumpul, bermain bersama saat belajar mengaji di TPQ dekat rumah atau menonton rame – rame acara anak – anak di TV milik tetangga. Power Ranger, Ksatria Baja Hitam adalah deretan serial film kesukaan kami. Maklum lah kami ini anak ndeso...

Ketika lulus SMA, semakin jarang saya mengetahui aktifitas mas Andy sehari – hari. Pada suatu hari ada teman geng saya cerita banyak tentang mas Andy ini, perihal kesuksesannya meniti karir di Jakarta. Alhamdulillah, beberapa tahun yang lalu pertemanan saya melalui media sosial facebook juga diterima. Saking tertariknya dengan kisah mas Andy ini, kemudian muncul ide untuk menulisnya di blog saya. Siapa tahu bisa menjadi sumber inspirasi bagi yang membaca. Bak gayung bersambut, senang sekali rasanyasaya mendapat ijin dari si mas brow yang pernah belajar di SMK 1 Trenggalek ini untuk mengulik – ulik kisahnya.

Untuk saat ini, mas Andy tengah menekuni profesi yang sangat menjajikan di ibukota, bidang fashion stylish. Yang membanggakan lagi, artis sekelas Soimah, Dewi Persik, Lilin Herlina, Via Vallen dan beberapa artis papan atas lainnya sudah mempercayakan penampilan mereka kepada tangan dingin mas Andy. Prestasi yang luar biasa jika dilihat dari kacamata saya, karena untuk mencapai titik itu semua, bukan perkara yang gampang. Yang pasti bukan hanya karena faktor keberuntungan saja, tetapi juga karya yang dihasilkan.

Awal cerita, setelah lulus dari salah satu sekolah kejuruan negeri di Trenggalek, mas Andy mendapat pekerjaan sebagai karyawan salah satu bank swasta di Tulungagung. Dan tepatnya di awal tahun 2011 adalah titik awal perjuangan, dengan tekat bulat untuk merubah nasib dia memulai petualangannya.

Berbekal uang saku seratus lima puluh ribu rupiah pinjaman dari tetangga, pria yang juga mulai menekuni bidang tarik suara ini, berangkat ke Jakarta menuju rumah salah satu kenalannya. Sama sekali belum terlintas dibenaknya, bagaimana keras kehidupan di Jakarta. Dan benar saja, sapai beberapa bulan tinggal disana belum juga mendapatkan pekerjaan, padahal sudah beberapa kali mengajukan lamaran ke berbagai perusahaan. Pengalaman tak mengenakkan pernah dirasakan yaitu ketika pernah terkena tipu perusahaan bodong. Sudah membayar beberapa uang, tetapi tak mendapatkan ganti pekerjaan.

Tak merasa putus asa, apalagi malu jika harus pulang kampung dengan tangan hampa, mas Andy mencoba untuk terus tetap bertahan di ibukota. Kehendak Tuhan,  Alloh SWT akhirnya berkata lain, mas Andy di ketemukan dengan seseorang yang kemudian menjadi sahabat baik bahkan dianggapnya menjadi saudara sendiri. Berkat bantuannya mas Andy mulai kenal dengan pekerjaan baru, yang menurut intuisi  adalah passionnya.

"Saya rasa ini bakat alami saja mas, mengalir gitu aja..", tegas dia saat menceritakan sederet kisahnya memulai karir.

Tidak memiliki pengalaman kerja di bidang fashion ataupun pendidikan formal, saya menghilangkan rasa malu untuk terus belajar walaupun saya anak desa yang tak tahu apa - apa dan memulainya dari titik nol. Berteman dengan orang - orang yang positif memberikan banyak pengalaman untuk terus mengembangkan kreatifitas. Tak tanggung - tanggung banyak stasiun televisi swasta nasional sudah pernah menjalin kerjasama dengan mas Andy di beberapa acara. Untuk memuluskan karirnya, mas Andy juga mulai menekuni dunia menyanyi dan belajar menjalankan  management artis.

“Saya memulai karir dengan perjuangan sendiri, jadi saya yakin semuanya berkat do’a orang tua mas, terutama ibu”, terangnya.

Bisa dikatakan tak ada waktu untuk bersantai – santai bagi mas Andy. Schedule yang padat membuatnya harus disiplin menjaga kesehatan karena harus sering pulang pergi untuk tour luar kota. Walau sudah mendapatkan kesuksesan, tak lantas membuat pria lajang penyuka nasi goreng ini jemawa. Jika ada waktu luang, pasti kesempatan tersebut digunakan sebaik - baiknya untuk pulang kampung menemui kedua orang tuanya di dusun Sugihan, Sumberingin sekitar dua kilometer dari pusat kabupaten. Beruntung sekarang ini, sering ada event di Trenggalek yang melibatkannya.

"Yang saya kangenin dengan Trenggalek, pasti terutama orang tua, teman - teman,dan sahabat yang ada di kampung. Saya juga selalu merindukan suasana pasar Pon mas, karena sedikit banyak ada kenangan bantu - bantu ibu berdagang disana" jawabnya sambil tertawa.

Dengan apa yang sudah dicapai, mas Andy merasa masih belum merasa puas walaupun disisi lain tetap bersyukur dengan pekerjaan yang sudah mendatangkan banyak cerita bahagia. Masih harus banyak belajar lagi, tidak sombong dan satu pelajaran yang saya dapat dari mas Andy bahwa kerja keras tanpa melupakan do'a orang tua adalah kuncinya. Terima kasih mas Andy, maaf yang tak terhingga karena saya sering menggangu wwktu istirahat ditengah kesibukan sampean yang luar biasa. Semoga bisa ketemu langsung untuk berbagi crita yang lebih seru.Amin





Wednesday, October 18, 2017

Ada Apa di "EMBUNG TAMBONG" PULE?

kaboeline.com - Baru – baru ini komunitas dari elemen masyarakat yang tergabung di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Pule berhasil membuat terobosan dengan mengembangkan Wana Wisata “EMBUNG TAMBONG”. Mereka memanfaatkan lahan dari perhutani untuk disulap menjadi tempat bermanfaat khusunya bagi warga sekitar. 

Berada di wilayah desa Pule Kecamatan Pule tempat wisata baru ini menawarkan pemandangan khas pegunungan. Anda juga bisa memanfaatkan spot waduk air buatan, taman bunga, dan rumah pohon untuk sekedar foto bersama dengan keluarga atau teman. 

Akses menuju kesana juga tidak terlalu sulit, berjarak kurang lebih 20 km anda tinggal memilih jalur Trenggalek – Dongko, dan sampai dipertigaan kecamatan Suruh silahkan ambil jalur belok kanan menuju kecamatan Pule. Kondisi jalan yang lumayan bagus tidak akan mengganggu perjalanan anda untuk sampai ke tempat ujuan sekitar empat puluh lima menitan.

Mendapat dukungan dari pemerintah setempat, relawan komunitas ini sudah menggelar beberapa acara yang melibatkan banyak orang seperti senam pagi dan lomba memancing. Tujuannya agar mereka mau peduli dengan menjaga lingkungan sekitar. Selain untuk menjaga alam tetap lestari, manfaatnya akan bisa dirasakan langsung yaitu sebagai tempat rekreasi yang murah.











“Untuk sekarang karena terbentur masalah dana, kondisinya masih seperti ini mas, semoga sekitar awal tahun depan bisa menambah fasilitas – fasilitas pendukung seperti tempat bermain anak - anak, outbond dan fliying fox supaya masyarakat lebih tertarik untuk datang kesini”, jelas Bu Wiwin salah seorang relawan yang cukup getol dan semangat di komunitas tersebut.

“Selain itu sebenarnya ada rencana mau bikin kampung kopi khas Pule mas, tapi kita kerjakan dulu satu - satu. Sering mas kita dianggap gila karena punya ide - ide yang terlalu tinggi”, tambahnya sambil tertawa.

Kecamatan Pule memang salah satu kecamatan yang masih belum begitu familiar dalam hal destinasi wisata. Baru beberapa tahun terakhir ini, ada gerakan dari masyarakat untuk mau mengidupkan potensi – potensi yang ada disana. Berbeda dengan kecamatan Panggul atau Watulimo yang cukup dikenal masyarakat dengan beberapa wisata pantainya yang cukup menawan. Udara yang sejuk daerah pegunungan, Wana Wisata EMBUNG TAMBONG bisa menjadi alternatif anda dan keluarga untuk menghabiskan akhir pekan. 







Sunday, October 1, 2017

Nasi Tepo Bikin Kepo

kaboeline.com - Berbicara soal makanan atau kuliner yang bercita rasa tradisional alias ndeso, Dongko adalah tempatnya. Selama hampir 8 tahun saya sering bolak – balik kesini ketika mudik, pasti ada menu baru dan unik yang saya temui. 

Masyarakat disana sudah familiar dan biasa menyebut makanan sederhana ini dengan nama "NASI TEPO". Cara memasaknya cukup mudah, pertama - tama nasi karon dibungkus dengan daun pisang kemudian dimasak sampai matang. Cara penyajiannya cukup ditambah dengan sayur lodeh tempe tahu. Kalau lauknya bisa pilih sendiri ya!! Hehehehe..

Menurut cerita beberapa orang konon, nasi tepo ini biasanya digunakan sebagai bekal masyarakat Dongko yang sedang bepergian ke ladang atau ke pasar. Karena jarak yang cukup jauh dan harus berjalan kaki, nasi tepo ini bisa sebagai penghilang lapar. Karena cara memasaknya yang berbeda nasi tepo ini juga tidak cepat basi. Ukurannya tidak terlalu besar dan rasanya mirip dengan nasi gegok, mungkin karena daerah Dongko dan Bendungan juga sama - sama daerah pegunungan. Bedanya pada kedua makanan ini ada pada sayur pelengkapnya saja dan rasanya tidak terlalu pedas. 

Mungkin nasi gegok boleh terkenal sekarang ini, tapi setidaknya nasi tepo ini cukup hits di daerah kecamatan Dongko. Bahkan pada acara - acara resmi di kecamatan, seperti Grebeg Suro kemarin, nasi tepo menjadi bagian yang tak boleh ditinggalkan. Pada acara tersebut selain benih - benih tanaman, nasi tepo juga menjadi rebutan warga yang hadir. Dan akhirnya rasa penasaran saya dengan makanan ini terbayar sudah, enam bungkus nasi tepo siang itu berhasil mengobati perut lapar.

Tuesday, September 5, 2017

Tayub, Kabarmu Kini

kaboeline.com - Setiap sekelompok masyarakat memiliki beberapa perbedaan budaya, antara lain karena dipegaruhi faktor geografis atau keberadaan wilayahnya semisal mereka yang tinggal di daerah pinggiran akan memiliki rasa kebersamaan, gotong royong yang kuat dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan dengan kesibukan masing-masing sehingga membentuk karakter seseorang lebih tertup dan individual. Daerah kabupaten Trenggalek yang sebagian besar berada di lereng pegunungan kemudian terbentuk karakter budaya unik dan mungkin tidak ditemukan di daerah lain, seperti kebiasaan “sonjo”yaitu berkunjung atau mengunjungi tetangga sekedar untuk ngobrol atau bersenda gurau.

      Trenggalek “Southern Paradise” menjadi jargon andalan pada masa kepemimpinan bupati Emil Dardak saat ini. Hal ini adalah gambaran betapa Trenggalek adalah tempat sangat indah bak di surga, nyaman untuk bertempat tinggal. Alasannya selain masih belum banyak polusi maupun rendahnya tingkat kejahatan, daerah Trenggalek memiliki udara yang sejuk, ditambah keberadaan tempat-tempat wisata alami seperti pantai, air terjun atau hutan kotanya. Kita tak perlu jauh-jauh untuk ke luar kota ketiku libur akhir pekan. Masyarakat yang sangat ramah kepada siapapun akan membuat anda betah berlama - lama disini. Budaya dan tradisi dari nenek moyang masih dipegang kuat dan kemudian melahirkan beberapa hasil budaya seperti dibidang seni ada jaranan turonggo yakso dan tayub.
       "Tayub" kesenian yang mengakar dari suku Jawa ini ternyata masih bisa dijumpai dengan mudah di tanah keahiranku, TRenggalek. Berada persis di pesisir selatan Pulau Jawa, kemudian menjadikan kesenian Tayub ini sebagai media hiburan satu-satunya. Tayub sendiri merupakan penggambaran dari bentuk suka cita seseorang karena sedang mendapat banyak rezeki dari yang Maha Kuasa, itulah seperti yang dikatakan oleh mertua saya yang juga seorang pengrawit yaitu sekelompok orang yang memainkan alat musik/ gamelan mengiringi para sinden tayub bernyanyi atau nembang Jawa.

       Di daerah Trenggalek sendiri biasanya Tayub hanya ditampilkan di acara hajatan atau perayaan lainnya. Tidak semua kalangan mau dan mampu menyewa kelompok kesenian ini, selain karena masih adanya stigma negatif dari kelompok tertentu, biaya untuk mengundang juga lumayan besar. Menurut pandangan beberapa orang tayub hanya sekedar hura-hura, sinden yang main mata, atau minuman keras. Walaupun sangat disayangkan tetapi inilah realitas yang ada di sekitar kita, yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat diluar penilaian dari sisi seninya.

       Sekarang yang mengkhawatirkan bagaimana jika kesenian ini kemudian tidak mau membuka diri, melakukan perubahan dalam hal pengemasan tanpa meninggalkan ciri khasnya. Seperti jaranan yang sudah bertransformasi menjadi kesenian yang bisa masuk ke semua kalangan dari keals bawah sampai kelas atas. Dengan mengurangi beberapa kesan mistiknya yang sudah jadul, jaranan Turonggo Yakso bisa menembus ke pertunjukan panggung besar. Dan seharusnya terobosan-terobosan juga harus dilakukan pada kesenian tayub ini. Supaya generasi muda tidak menganggap tayub hanya kesenian untuk orang tua, kesenian jadul yang ketinggalan jaman. Tidak malukan jika gamelan, atau kesenian - kesenian tradisional lainnya yang merupakan ciptaan nenek moyang kita, harus orang lain yang nguri-nguri. Tidak malukan kalau orang belanda bisa main gamelan, orang Jepang bisa nembang Jawa dengan fasih, orang Australia bisa bahasa Jawa dengan medhoknya....Dimana kalian generasi penerus, mana peranmu?????


Tuesday, July 4, 2017

Lebaran Ala Ndeso

Lebaran yang dirindukan telah seminggu berlalu.
Tapi cerita tentang kebersamaan dan keindahan silaturrahim 
tak akan begitu saja terlupakan... 
Cokelat dan kembang gula memang manis
Tetapi bermaaf-maafan dan berkumpul bersama  keluarga terasa lebih manis
Dan sekarang hanya do'a yang s'lalu diucapkan 
Umur panjang yang akan mempertemukan kami kembali 
di waktu mendatang yang lebih indah...
Minal Aidin wal Faizin..Mohon maaf lahir dan batin.....

Hampir selama sepekan penuh kami disibukkan dengan moment lebaran, apalagi kalau nggak ikut-ikutan mudik. Walau tak sampai keluar kota, tapi asik juga merasakan suasana lebaran kali ini bisa bertemu dengan saudara-saudara yang sengaja pulang kampung. Dan yang paling ditunggu pastinya makanan khas ndeso sayur lompong, sayur menir, nasi thiwul sayur ikan laut jadi menu andalan setiap makan. Apalagi cuaca dingin saat itu mendukung sekali untuk selalu menambah porsinya.

Petualangan mudik akhirnya berlanjut alias bergeser ke kawasan Panggul. Lima puluh kilometer lebih dari pusat kota harus kita tempuh selama kurang lebih dua jam dengan naik motor.






Thursday, June 8, 2017

Penebar Inspirasi

kaboeline.com - Saya mengenal beliau saat sama-sama sedang kuliah di salah satu kampus agama lokal Trenggalek. Saya mengenalnya dengan nama pak Mujtahid, asalnya dari kecamatan Kampak. Sikapnya yang ramah dan bijaksana, bapak dua anak ini selalu mengayomi semua teman-teman mahasiswa dan boleh dikatakan menjadi sesepuh kelas pada waktu itu.Berstatus sebagai tenaga pegajar aktif di salah satu SMP ISLAM swasta di kecamatan Kampak, pak Tahid tak segan berbagi ilmu dengan siapapun tak terkecuali dengan anak-anak muda.

Hehe...Selain ahli menjahit pakaian, pengalamannya dalam bidang keorganisasian tak bisa dianggap remeh. Dari tahun 2000 misalnya mulai menjadi ketua ranting Ansor desa Senden, tahun 2009 menjadi ketua Ansor PAC Kampak merangkap PC Ansor Trenggalek Lingkungan Hidup, dan sampai sekarang juga masih aktif menjadi ketua BPD desa Senden. Loyalitasnya kepada Nahdlatul Ulama' (NU) sangat terlihat ketika disambut dengan tulisan khas warna hijau, tepat di depan rumah. Anda pasti akan selalu disambut ramah kalau berkenan mampir ke kediamannya di RT 04 RW 02 Dusun Tenggar Desa Senden Kecamatan Kampak.

Walaupun disibukkan dengan kegiatan mengajar di sekolah setiap dan diniyah di pondok pesantren setiap hari, tak menghalangi bapak kelahiran 51 tahun yang lalu tersebut melakukan kegiatan sosial yang hasilnya bermanfaat dan bisa dirasakan langsung masyarakat. Dalam gerakan pelestarian alam dan menjaga lingkungan hidup, pak Tahid berhasil mengajak warga sekitar untuk menanam pohon sengon. Selain untuk menjaga alam sekitar supaya tetap lestari gerakan ini juga bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat. Hal ini dilakukan karena pak Tahid menjadi ketua PC Ansor Trenggalek bidang Lingkungan Hidup. Dari kegiatan yang kecil, tapi hasilnya bisa dirasakan besar.

Tidak sampai disitu berkat upaya yang dilakuakn beliau berhasil menjalin kerja sama dengan Radio Andika Kediri dalam program "10.000 (SEPULUH RIBU) Al-Qur'an". Setiap bulan Ramadhan, pak Tahid dan kawan-kawan dengan rela hati ikut mendistribusikan Al-Qur'an ke beberapa titik di kecamatan Kampak. Bahkan pada tahun 2016, tepatnya Ramadhan tahun lalu, ada 170an Al-Qur'an yang diwaqafkan ke lebih dari 25 Masjid dan Mushola. Dan untuk Ramadhan tahun  ini ternyata masih dipercaya untuk mewaqafkan Al-Qur'an sampai ke pinggiran seperti desa Ngadimulyo dan Mbuluroto. 

"Tak harus menunggu kaya  untuk bisa membantu orang lain, tetapi tenaga pun bisa bermanfaat asal dilakukan dengan ikhlas untuk beribadah", jawab pak Tahid penuh semangat.

Kegiatan semacam ini seharusnya menjadi pelajaran bagi anak-anak muda sekarang. Tak hanya pandai teriak-teriak menyampaikan ide dan argumentasi, tapi juga harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Tindakan yang mampu merubah bangsa ini menjadi lebih baik, menjadi bangsa yang berkarakter. Dan terima kasih pak Tahid hadiah yang pernah panjengan berikan ke saya beberapa waktu yang lalu. Mungkin panjengan tahu kalau saya  mengaku Islam tapi jarang membaca kitabnya. Hehehehe.........Tapi insyalloh saya akan belajar sedikit demi sedikit dan kurang 5 juz lagi, karena saya selalu ingat kata-kata panjenengan waktu di kampus sederhana dulu ketikacurhat empat mata" BELAJARLAH JANGAN MALU, DARI PADA TIDAK SAMA SEKALI, tak ada kata t erlambat"...Terima kasih inspirasinya....