Saturday, December 24, 2016

Apa Kabar Pemuda Negeri Telolet?

Om Telolet Om.....
Om Telolet Om.....
Segerombolan anak muda di pinggir jalan riang luar biasa dapat balasan klakson dari si sopir bus yang lewat di depan mereka. Kalau anda  bepergian ke daerah Jawa Timur atau  Jawa Tengah, mungkin tak asing dengan fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi ini.Saya pun sudah sering membicarakannya dengan teman ketika diwarung kopi. Saya heran, fenomena ini ternyata tidak hanya menjalar ke seluruh pelosok negeri ini, bahkan kabarnya sudah menjadi viral hingga ke luar negeri. Om Telolet Om sudah sampai ke Amerika, Inggris, Hongkong, Taiwan dan negara lainnya. Anak-anak, remaja, sampai orang dewasa, laki-laki, perempuan, pejabat, bahkan sampai presiden angkat bicara soal wabah virus 'OM TELOLET OM" ini. Sebagai bentuk respon fenomena ini, pada awal tahun 2017 nanti rencananya pemerintah melalui Kemenhub akan mengadakan kontes bus Telolet ini. Bahkan musisi elektronik sekelas DJ SNAKE pun kabarnya akan menjadikan sebagai judul lagu. Wooowwww......Ada apa lagi dengan Indonesiaku..??

Masih ingat dengan  pepatah Jawa "Saiki Jaman Edan, Yen Ora Edan Ra Keduman", artinya sekarang ini kondisi jaman sudah gila, kalau kita tidak ikut-ikutan gila kita tidak akan kebagian. Tidak bisa dipungkiri bahwa kekuatan sosial media (sosmed) sekarang ini bisa membuat perubahan dalam bentuk apapun. Sosial media mampu menggerakkan massa sebesar apapun dalam bentuk opini, sikap, emosi dan tak terkecuali fenomena yang saya anggap alay seperti ini. Mungkin kita perlu menengok ke belakang bagaimana hebohnya berfoto selfi di sosial media, aktifitas kita mulai dari tidur, kerja, makan, berwisata bahkan  berfoto dengan background tempat-tempat ekstreme, semuanya akan diambil gambarnya kemudian diunggah ke sosial media. Tujuannya tak lain adalah agar mendapatkan satu like dari follower. Dan bahagia yang didapat sudah mewakili seperti kita bertemu dan ngobrol hangat dengan sahabat atau orang yang kita sayangi. Yang terbaru mungkin belum hilang dalam ingatan kita fenomena munculnya game baru POKEMON GO, dimanapun orang sibuk dengan gadgetnya dan ternyata kegilaan-kegilaan itu hanya ada di Indonesia....

Dari anak-anak pemburu klakson bus atau bismania itu pernah saya tanya, "Le..,, ngono kui senenge nang ngendine to??. Anak-anak tadi menjawab, " Hobby lho pak ngene iki.."

Dulu ketika masuk ke sekolah yang baru setiap siswa disuruh mengisi biodata ada kolom pertanyaan mengenai hobby/ minat. Umumnya akan diisi berbagai jenis olahraga seperti sepakbola, bola volley, bulu tangkis atau mungkin menari, menulis, menyanyi, melukis dan hanya seputar itulah yang saya ketahui mengenai hobby. Saya tidak habis pikir kenapa segaian besar orang berpendapat kalau aktifitas 'Om Telolet Om" ini adalah hobby.  Setiap orang berhak mengagumi dan melakukan, walaupun memang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah hobby adalah  kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Akan tetapi menurut opini saya, setidaknya sebagai pemuda milikilah hobby yang punya tujuan, punya wisi misi jelas, apa manfaatnya buat kita? Hobby yang bisa mewariskan ilmu, menginspirasi, dan membrikan manfaat bagi orang di sekeliling kita. Hobby yang nyata, yang tidak hanya eksis di sosial media. Ide-ide kreatif anak-anak mudalah yang dibutuhkan negara ini. Bukan generasi peniru yang dengan kesenangan semu sedikit saja sudah terlena. 

Kalau membicarakan hobby menulis, jelas ada manfaatnya, apa yang kita bukukan akan menginspirasi orang lain, memberikan semangat bagi yang membaca. Dan secara tidak langsung akan menambah pendapatan kita secara materiil. Hobby berolahraga jelas membuat tubuh kita sehat, dan apabila ditekuni betul akan menjadi buah prestasi bagi orang yang bersangkutan. Coba kita renungkan sekali lagi wahai saudara, kita ramai-ramai dipinggir jalan menunggu bus lewat, menghabiskan waktu berjam-jam, menggangu pengguna jalan lain, jelas iya. Berbahaya bagi diri sendiri, jelas iya. Apakah ini bisa disebut sebagai hobby? Apakah manfaatnya bagi anak-anak kita, adik-adik kita? Tapi saya yakin sesuatu yang eksis, mendadak terkenal secara instan, maka tidak lama lagi akan sirna, hilang dan kemudian mati dilupakan orang. Kita tunggu saja tanggal mainnya, sampai kapan fenomena ini berlangsung,dan kemudian akhirnya dilarang oleh pihak yang berwenang jika sudah terjadi peristiwa atau kejadian yang merugikan, misalnya kecelakaan atau yang lain. Itulah hebatnya negeriku....

Pemuda sebenarnya memiliki semangat dan pikiran yang masih fresh untuk diajak beraksi dan berkolaborasi. Maka dari itu setidaknya dari lingkungan terkecil, keluarga, kemudian sekolah, masyarakat, ayolah kita sama-sama menjadi habitat yang baik bagi pemuda. Kita arahkan mereka dengan kegiatan yang menghasilkan guna, mencetak mereka memiliki daya saing yang tinggi, dan memiliki sikap kepemimpinan. Jika semua pemuda Islam di Indonesia bertekad untuk menjadi pemuda berkualitas, impian akan kejayaan Islam dan ketangguhan negara Indonesia nantinya, besar kemungkinan akan terwujud. Karena di hadapan kita – bisa jadi – akan muncul lagi pemuda-pemuda tangguh yang mengikuti jejak Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair dan pemimpin-pemimpin Islam lainnya Dengan demikian, cita-cita untuk menjadi orang yang paling berguna bagi negeri ini juga sudah bukan lagi kata-kata tanpa arti, bukan lagi impian yang tidak tau kapan akan berakhir, tapi sebuah impian yang bisa diwujudkan menjadi kenyataan manis. 

Ingatlah bahwa kesenangan batin tidak hanya didapat dari berteriak-teriak di pinggir jalan, tetapi bagaimana kita bisa menjadi contoh, menjadi malaikat kecil bagi orang-orang yang membutuhkan di sekeliling kita. Pemuda yang berkualitas, adalah mereka yang memiliki empati, peduli ikut memberikan solusi bagi permasalahan di negeri ini.

“Berikan kepadaku 1000 orang tua, aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi, berikan kepadaku 10 pemuda maka aku sanggup menggoncangkan dunia.” 
Wahai pemuda Indonesia jangan kau guncangkan dunia dengan "Teloletmu" tetapi guncangkan dengan prestasimu....

0 comments:

Post a Comment