Menunggu Aksi Generasi Milenial

Mewabahnya virus covid-19 membawa perubahan terhadap sistem sosial di masyarakat.

Pelajar Pancasila vs Pelajar Tik Tok

Potret Krisis Kreatifitas Akibat Pandemi.

Nggalek,

Gudang Durian Brow..!!

Candi Brongkah

Candi ini dinamakan Candi "BRONGKAH" karena ditemukan di dusun Brongkah.

Ziarah Kubur

Tradisi Pengingat Mati

Tuesday, November 10, 2015

Kisah Sederhana

kaboeline.com - Walau sempat tertunda hampir tujuh tahun lamanya, mimpi itu akhirnya terwujud. Mimpi konyol anak yang berasal dari keluarga miskin untuk menjadi sarjana. Memperoleh pendidikan tinggi bagi saya ibarat tingginya langit yang tidak akan pernah bisa digapai dengan tangan manusia kecil. Bahkan semangat itupun sebenarnya sudah terkubur lama dan pernah pupus harapan. Itu karena sekali lagi disebabkan faktor finansial. Bukan perkara mudah untuk bisa membagi penghasilan membiayai kuliah, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga saja masih belum cukup. 

Akan tetapi dorongan semangat dari isteri, keluarga, dan teman membangkitkan semangat saya untuk bisa mendapatkan gelar yang menurut ukuran saya sangat mewah. Dan satu lagi yang membuka mata hati saya untuk kembali bersemangat memperoleh cita-cita. Semangat anak-anak yang belajar di madrasah tempat saya mengajar. Anak-anak pinggiran dari desa Gamping yang selalu unik dan memberikan warna dalam aktifitasku mengajar di MTs Ma'arif Karangan. 

Perjuangan mereka untuk bisa sampai di madrasah ini patut saya apresiasi. Semangat mereka, anak-anak ndeso itu membuktikan kalau mereka memang punya cita-cita tinggi untuk hidupnya kelak. Disaat anak-anak yang lain masih terlelap dalam tidurnya, mereka sudah harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dari tempat tinggal mereka yang harus melewati jalan beraspal rusak sekitar 3 km menuju jalan raya. Kemudian ditambah menuju sekolah lebih dari 9 km, satu keinginan mereka untuk mendapatkan ilmu yang baik dari para guru. Yang saya tahu pukul enam pagi mereka sudah berada di sekolah setiap harinya. Belum lagi ditambah perjuangan orang tua mereka untuk menyiapkan uang saku dan transport yang tidak sedikit menurut ukuran saya. Satu hal yang saya sangat salut dari anak-anak Gamping ini, yaitu keluguan dan kesopanan mereka kepada yang lebih tua bukti kalau mereka belum "terkontaminasi" , ditengah-tengah terjadinya degradasi moral saat ini.

Saya beruntung dipertemukan dengan anak-anak "aneh" ini, mengajarkan banyak hal tentang kesederhanaan hidup, semangat dan solidaritas yang tinggi. Semoga kelak kalian sukses seperti apa yang kalian inginkan, untuk merubah derajat keluarga kalian. Amin....




Sunday, September 13, 2015

Pekerjaan, Antara Materi dan Hati Nurani

kaboeline.com - Tidak semua orang bisa menikmati sebuah ritme pekerjaan yang sesuai dengan hati atau yang sering disebut passion. Mulai dari materi, suasana kerja, dan hasil dari apa yang kita kerjaan selalu menjadi pertimbangan bagi mereka yang menginginkan sebuah posisi. Setinggi apapun keberadaannya akan diraih bahkan dengan cara apa saja, halal bisa...haram pun akan menjadi layak.

Akan tetapi rasa kepuasan dalam melakukan sebuah pekerjaan tidak akan dapat dibayar berapapun dengan uang, itu menurut saya. Bahkan karena menganut cara berpikir ini, banyak orang yang akan mencela saya akan menjadi kere selama-lamanya atau saya ini goblok luar biasa.

Saya pernah ditawari sebuah pekerjaan oleh teman saya, yang katanya jika kedepan prospeknya bagus. Apalagi kalau punya keahlian, akan bisa cepet naik pangkat. Seketika itu saya mengiyakan karena saya memberi jawaban saat kondisi keuangan keluarga sedang minus. Semangat untuk mencari keberuntungan ke luar kota muncul dari dalam jiwa saya dan hampir menghanguskan apa yang sebenarnya suara hati nurani saya. Akan tetapi tidak semua orang tahu bagaimana pada malam itu kepala saya pusing seperti mau pecah. Keinginan dalam logika memang mendorong saya untuk berangkat ke luar kota malam itu. Akan tetapi hati nurani memanggil-manggil dengan kuat untuk mempertahankan pekerjaan yang sudah saya jalani sekarang. Memberi pesan bahwa masih banyak orang-orang yang membutuhkan tenaga dan apa yang saya bisa. Dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memutuskan untuk tetap berkarya di kota ini. Walaupun keputusan ini akan memberikan banyak dampak pada kehidupan saya, tetapi Bismillahirrohmannirrohim.....saya siap menerima segala resikonya. Saya memilih tetap menjadi buruh pendidikan di madrasah swasta ini....

Secara materi memang tak bisa diandalkan dari bayaran mengajar di madrasah ini, tetapi kepuasan dari pekerjaan ini menjadi pelipur lara dan obat untuk hati yang dulu masih dalam kesombongan, tidak mensyukuri nikmat dan sebagainya.

Banyak pelajaran-pelajaran tentang hidup dari orang-orang yang pernah memberikan inspirasi dan wejangannya kepada saya. Dalam setiap ceritanya, mereka selalu mengajarkan bahwa bekerjalah tuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya. Kerja untuk keluarga, anak isteri dan kerja untuk kemapanan. Akan tetapi carilah pekerjaan yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Bisa berbagi kebaikan untuk orang belum beruntung dan memberikan ilmu pengetahuan kepada mereka yang dalam kekurangan.