Tuesday, March 17, 2009

MONUMEN MASTRIP

Ini adalah sebuah monumen yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan "MONUMEN MASTRIP", dimana di tempat ini gugur seorang anggota TNI BRIGADE XVII TRIP DETASEMEN I JAWA TIMUR bernama HERLAWAN dalam usaha untuk mengusir penjajah Belanda. Letaknya di pinggir jalan desa Dawuhan kec. Trenggalek. Namun sayang monumen ini sama sekali tidak dirawat dengan baik...Akankah semuanya hanya tinggal kenangan..???Mana sebuah penghargaan untuk seseorang yang telah berjasa kepada negara..??Apakah sebuah bangunan kecil dari semen yang dinamakan monumen cukup untuk menghargai jasa mereka..??
Semangat kepahlawanan, Nasionalismenya yang harus kita teruskan demi tetap tegaknya Sang Saka Merah Putih Bangsa Indonesia...

2 comments:

  1. Kami keluarga besar
    Alm. Hj. Ismi Soemarmi Wahjoeadji
    Menghaturkan rasa hormat & terima kasih kepada
    Bapak/Ibu/Saudara/i yang telah memberikan
    perhatian dan bantuan baik moril maupun materiil, karangan bunga
    serta penghargaan & penghormatan terakhir kepada
    Ibu/Eyang Putri/Buyut kami tercinta :

    Alm. Hj. Ismi Soemarmi Wahjoeadji
    Binti
    Moeljodihardjo
    Terlahir Tanggal, 25 Juli 1929

    Sejak sakit hingga berpulang kerahmatullah
    pada tanggal, 11 Juni 2009 di RSAL dr. Ramelan
    Jam : 10.10 WIB dan
    Dimakamkan di TMP 10 Nopember
    Dukuh Pakis, Jl. Mayjen Sungkono – Surabaya
    pada tanggal 12 Juni 2009
    Kami atas nama Almarhum memohon do’a dan maaf
    atas segala kesalahan atau perbuatan yang tidak
    berkenan dihati Bapak/Ibu/Saudara/i
    yang pernah dilakukan Almarhum semasa hidup.

    Semoga Allah SWT membalas dan memberkahi
    Amal baik Bapak/Ibu/Saudara/i. Amin.




    Keluarga Besar
    Alm H. Wahjoeadji
    Alm. Hj. Ismi Soemarmi Wahjoeadji

    - Alm. Dasihari Awal Iswajanto, Dipl. Hotel (Anak)
    - Ir. Hj. Dwi Istiti Hapsari Adji (Anak)
    - Kel. Alm. dr. H. Tri Wahju Nur Ismojo, Msc (Anak)
     Dra. Ny. Happy Susantin (Menantu)
    - Kel. Ir. Heru Handoko Kwartiswojo (Anak)
     Ir. Ny. Endah Winarni (Menantu)
    - Kel. Ny. Narotami Pantjawati Sukriswari, Coreog (Anak)
    - Kel. Kartantya Sadana Ganda Ismaya, SE, MM (Anak)
     Ny. Indriyanti Dwi Astuti, AMd (Menantu)
    - Buti, Ayu & Ricky, Karin, Wina, Susi, Nugroho,
    Yune, Hanrie, Jonic, Wika, Nurfi (Cucu)
    - Thouriq (Cicit)
    - Keluarga Besar R. Wirotroeno
    - Keluarga Besar R. Moeljodihardjo
    - Keluarga Besar R. Pramoeatmodjo & R. Mangkoedipoera, Talun

    ReplyDelete
  2. Ny. Hj. Ismi Soemarmi Wahjoeadji :
    “SELALU MENYEMANGATI DIRI SENDIRI” Part I
    Karir selangit tidak menjadikannya sombong diri atau menganggap yang lain lebih rendah. Justru dengan segudang pengalaman yang ia miliki menjadikan sebagai Wanita Pekerja, Wanita Penggerak, Wanita Veteran, Wanita Pejuang selain tetap sebagai Ibu dan Istri. Dengan jabatan terakhir sebagai Wakil Ketua IV / Ketua Bidang Peranan Wanita – Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas Daerah (Mada) Jawa Timur ini lebih bersikap hati-hati dalam segala tindakan. Kelembutan tutur kata begitu kental mengalir di jiwa istri R. Wahjoeadji yang juga seorang pejuang veteran. Maklum ia termasuk trah keturunan darah biru, konon merupakan perpaduan keturunan Sawunggaling, Sunan Drajat dan Mataram. Bapak dan ibunya adalah dari keluarga Pamong Praja, maka tidak salah bila dalam keluarganya cukup ketat mengajarkan etika dan sopan santun. Sebagai keluarga pamong praja maka bahasa dalam keluarga maupun di sekolah pada saat zaman Belanda mempergunakan bahasa Belanda selain bahasa Jawa. Demikianpula pada masa Jepang harus mempergunakan bahasa Indonesia (Melayu) dan Jepang, khususnya waktu masuk Tjuw Gakko (SMP).
    Awal Perjuangan
    Ny. Hj. Ismi Soemarmi Wahjoeadji begitu nama lengkapnya, di usianya yang tergolong senja tepatnya mendekati usia 80 (delapan puluh) tahun, ternyata masih kelihatan segar dan enerjik, memori ingatannya masih cukup tajam, beberapa peristiwa sejarah yang pernah ia alami puluhan tahun silam, masih kuat diingatannya. Satu persatu ia ceritakan sejarah perjuangan, mulai dari saat-saat gerilya sampai pada pertemuannya dengan sang Arjuna R. Wahjoeadji yang kebetulan adalah seorang pimpinannya di kesatuan. “Pernah suatu ketika ia harus mencuri makanan untuk kebutuhan pejuang” kenang mantan Wakil Ketua Kosgoro Jatim singkat. Tidak hanya itu, wanita yang juga salah seorang Perintis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Surabaya dan Jawa Timur ini harus keluar masuk ke pelosok desa untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang kemerdekaan dan bendera merah putih. Tentu itu adalah tugas sebagai anggota Laskar IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) yang penuh resiko, walaupun begitu ia tidak sedikitpun kendur nyali untuk tetap menjalankan tugas perjuangan dengan terus melakukan psywar kepada Belanda dengan menyetempel plakat Pemerintah Belanda dengan tulisan kata Bohong yang dibuat dari ketela pohon yang diberi tinta minyak dan arang. Pendek kata banyak cara yang bisa dilakukan asal perjuangan tetap bisa dikobarkan.
    Jiwa perjuangan tersebut sebenarnya mulai timbul setelah Jepang masuk Indonesia mulai tahun 1942, yang menjanjikan adanya Negara Indonesia, yang mengaku sebagai Saudara Tua, yang mengajarkan kedisiplinan baris berbaris, kemiliteran, upacara untuk hormat pada Saudara tua (Tenno Heika), kerjabakti (kinrohoni), P3K serta pemadam kebakaran. Selain ia juga pernah mengikuti kegiatan VOJ (Kumpulan Remaja MULO) yang merayakan Hari Kartini dengan memperdengarkan lagu Indonesia Raya (versi lama), lagu Ibu Pertiwi dan lagu RA Kartini.

    ReplyDelete